Laba Bersih Konsolidasian BRI Naik 78,13 Persen Jadi Rp12,22 Triliun Per 31 Maret 2022

25 April 2022 17:00 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rizky C. Septania

Direktur Utama BRI Sunarso (TrenAsia)

JAKARTA -PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatatkan laba bersih konsolidasi Rp12,22 triliun pada kuartal I-2022 atau naik 78,13 persen secara tahunan (year on year/yoy). Laba bersih bank only tercatat sebesar Rp10,9 triliun.

Direktur Utama BRI Sunarso menyatakan pencapaian laba itu tak lepas dari pulihnya perekonomian nasional serta menggeliatnya aktivitas pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang merupakan core business BRI. 

Kondisi UMKM yang mulai pulih saat ini mendorong penyaluran kredit BRI tumbuh 7,43% yoy menjadi sebesar Rp1.075,93 triliun. Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit perbankan nasional di kuartal I-2022 yang sebesar 6,65%.

“Untuk keseluruhan tahun 2022 ini kami optimis pertumbuhan kredit BRI bisa mencapai 9-11%, faktor pendorongnya likuditas kami yang masih longgar tercernin dari LDR sebesar 86,96% dan kecukupan modal yang tercermin dari CAR sebesar 24, 61%, itu yang membuat kami masih optimis bisa mencapai target,” kata Sunarso di Jakarta, Senin, 25 April 2022.

Ditambahkan, jika dirinci, kredit UMKM BRI tercatat tumbuh sebesar 9,24% yoy dari Rp826,85 triliun pada 31 Maret 2021 menjadi Rp903,29 triliun pada 31 Maret 2022. Hal ini menjadikan proporsi kredit UMKM dibandingkan total kredit BRI terus merangkak naik, menjadi sebesar 83,95%. 

Penyaluran kredit kepada seluruh segmen UMKM tercatat tumbuh positif, dengan penopang utama yakni segmen mikro yang tumbuh 13,55%, segmen konsumer tumbuh 4,56% dan segmen kecil & menengah tumbuh 3,96%. 

Menurut Sunarso, keberhasilan BRI dalam menyalurkan kredit diatas rata rata industri perbankan nasional diiringi dengan manajemen risiko yang baik. Hal tersebut tercermin dari rasio NPL BRI secara konsolidasian yang tercatat sebesar 3,09% pada akhir Maret 2022. Angka ini tercatat menurun apabila dibandingkan dengan NPL pada periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 3,30%. 

Selain itu, kualitas kredit yang membaik tersebut juga disebabkan oleh restrukturisasi kredit terdampak covid yang saat ini terus menurun secara gradual. Hingga akhir kuartal I-2022 tercatat restrukturisasi kredit terdampak Covid sebesar Rp144,27 triliun, atau telah turun sebesar Rp103,75 triliun apabila dibandingkan dengan total akumulasi restrukturisasi yang mencapai Rp248,02 triliun. 

BRI juga menyediakan pencadangan yang cukup untuk mengantisipasi risiko kedepan dengan NPL Coverage sebesar 276,0%. Angka ini meningkat dibandingkan dengan NPL Coverage pada akhir Maret 2021 sebesar 231,17%. 

“BRI menyiapkan pencadangan yang sangat memadai  untuk mengantisipasi risiko ketidakpastian kondisi perekonomian kedepan, karena adanya perang Rusia – Ukraina, inflasi, serta potensi kenaikan suku bunga yang akan terus dilanjutkan oleh The Fed,” tambah Sunarso.

Di sisi lain, aset BRI Group tumbuh sebesar 8,99 persen yoy menjadi Rp1.650,28 triliun. Sementara penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,39% secara konsolidasian. 

Dana murah (CASA) menjadi pendorong utama pertumbuhan DPK BRI, dimana secara year on year meningkat sebesar 15,99%. Apabila dirinci, Giro tercatat tumbuh 30,86% dan Tabungan tumbuh 10,17%. 

Secara umum, saat ini proporsi CASA BRI tercatat 63,63%, meningkat dibandingkan dengan CASA pada Kuartal I tahun lalu yakni sebesar 58,91%. Kemampuan BRI untuk meningkatkan proporsi dana murah tersebut berdampak positif bagi bisnis perseroan yang semakin efisien. 

“Sebagai bagian dari transformasi struktur liabilitas, BRI akan terus mendorong peningkatan proporsi CASA untuk mendukung bisnis yang berkelanjutan, diantaranya melalui transaction based product and services di segmen wholesale serta penguatan fitur dan transaksi keuangan melalui BRImo”, kata Sunarso. 

BRI pun mampu mencatatkan rasio efisiensi yang terus membaik, dimana BOPO BRI pada akhir Maret 2022 tercatat sebesar 69,34 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan BOPO periode yang sama tahun lalu sebesar 78,41 persen. 

Menurunnya BOPO ini tak lepas dari semangat efisiensi yang dilakukan oleh BRI, diantaranya melalui keberhasilan transformasi digital, membaiknya rasio kredit bermasalah, serta semakin meningkatnya proporsi CASA atau dana murah pada tubuh perseroan.

Berita Terkait