Laba Bersih BFI Finance (BFIN) Melonjak 53 Persen per Kuartal III-2021

23 Oktober 2021 18:13 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Laila Ramdhini

Karyawati beraktivitas di dekat logo BFI Finance (BFIN) kantor cabang Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Senin, 7 Juni 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) meraup laba yang diatribusikan ke induk sebesar Rp796,1 miliar hingga kuartal III-2021. Angka ini meningkat 53% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Rp520,2 miliar pada kuartal III-2020.

Direktur Keuangan BFI Finance Sudjono menjelaskan laba bersih perusahaan tetap naik meskipun terjadi penurunan pendapatan. BFIN meraup pendapatan sebesar Rp2,96 triliun pada kuartal III-2021. Angka ini turun sekitar 17,1% dari pendapatan kuartal III-2020 sebesar Rp3,5 triliun.

“Hal ini dibarengi dengan penurunan beban pembiayaan dan beban penyisihan piutang yang diragukan, sehingga bisa mendongkrak kenaikan laba sebelum maupun sesudah pajak,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Sabtu, 23 Oktober 2021.

BFIN juga mencatat nilai pembiayaan baru sebesar Rp9,4 triliun pada kuartal III-2021 naik 72,7%. Pencapaian dibarengi dengan rasio non-performing financing (NPF) sebesar 1,97% atau membaik 70 basis poin dari periode yang sama pada 2020. Sementara itu, angka NPF neto ada di level 0,3%.

Di samping itu, saldo restrukturisasi pembiayaan yang tersisa per 30 September 2021 juga turun 14,8% dari total piutang yang dikelola, yakni sebesar Rp2 triliun.

Jumlah tersebut lebih rendah 35,3% dibandingkan dengan Rp5,2 triliun per 30 September 2020. Adapun dari nilai piutang yang direstrukturisasi, sebanyak 86,8% di antaranya sudah kembali membayar angsuran normal. 

Sudjono menambahkan perusahaan juga menetapkan nilai pencadangan cukup besar untuk mengantisipasi potensi kerugian atas kontrak-kontrak yang macet.

“Kami terus berupaya memastikan nilai restrukturisasi yang tersisa dapat terselesaikan dengan baik,” tambahnya.

Untuk komposisi pembiayaan dari nilai piutang pembiayaan senilai Rp13,7 triliun, porsi terbesar adalah pembiayaan mobil bekas 71,7%, disusul dengan alat berat dan mesin 13,7%. 

Kemudian komposisi pembiayaan motor bekas sebesar 9,3%, porsi pembiayaan 5,3% diisi oleh pembiayaan property-backed financing (PBF), mobil baru, dan syariah.

Berita Terkait