Laba Bersih Bank Sampoerna Ambles 38,74 Persen Jadi Rp18,5 Miliar pada Paruh Pertama Tahun Ini

19 Agustus 2021 13:28 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Bank Sahabat Sampoerna, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) mencatatkan penurunan kinerja pada paruh pertama tahun ini. Laba bersih Bank Sampoerna pada semester I-2021 ini tercatat rontok hingga 38,74% secara tahunan (year on year/yoy). 

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih Bank Sampoerna merosot dari Rp30,2 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp18,5 miliar pada semester I-2021.

Padahal, ceruk pendapatan Bank Sampoerna mengalami pertumbuhan positif pada semester I-2021. Hal ini tampak dari pendapatan bunga bersih Bank Sampoerna yang merangkak naik 5,3% yoy menjadi Rp328,7 miliar.

Lalu, pendapatan non-bunga yang melesat 111,7% yoy menjadi Rp21,2 miliar. Adapun pendapatan usaha perseroan juga ikut terungkit 8,6% yoy dari Rp322,2 miliar pada semester I-2020 menjadi Rp349,9 miliar pada semester I-2021.

Direktur Utama Bank Sampoerna Ali Rukmijah mengatakan tantangan besar masih dihadapi perseroan pada paruh pertama tahun ini. “Tantangan akibat COVID-19 masih dihadapi perseroan,” ucap Ali dalam keterangan tertulis yang diterima Trenasia.com, Kamis, 19 Agustus 2021.

Dari segi intermediasi, Bank Sampoerna memperkokoh rasio perdagangan terhadap kredit bermasalah (Non performing loan coverage) menjadi 153,2% dari sebelumnya hanya 99,6% pada semester I-2020.

Penyaluran kredit Bank Sampoerna hanya tumbuh terbatas pada semester I-2021. Total penyaluran kredit perseroan tumbuh 3,4$ menjadi Rp8,5 triliun pada paruh pertama tahun ini. 

Kredit itu masih terjaga kualitasnya dengan raihan NPL gross sebesar 2,75%. Angka ini lebih rendah dibandingkan posisi pada semester I-2020 yang mencapai 3,85%.

Meski begitu, kinerja itu tetap mendongkrak total aset Bank Sampoerna sebesar 8,5% year to date (ytd) dari 12,4 triliun pada kuartal IV-2020 menjadi Rp13,5 triliun pada semester I-2021.

Kecukupan modal juga terus mengalami peningkatan. Hal ini bisa ditinjau dari peningkatan capital adequacy ratio (CAR) dari 17,8% pada semester I-2020 menjadi 20,9% pada semester I-2021.

Ali menyebut bakal fokus mendongkrak kinerja dengan menyasar segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Menurutnya, peluang pemulihan UMKM pada tahun ini bisa mendorong kinerja perseroan.

“Serta mendorong UMKM mengambil peluang yang positif di masa ini untuk dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dengan cara demikian, Bank dapat berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi melalui mata rantai kerja sama yang sehat,” jelas Ali.

Berita Terkait