Kurs Dolar Hari Ini: Tunjangan Pengangguran di AS Kian Susut, Rupiah Kian Sulit Rebound

25 November 2021 09:30 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Vega Aulia

Nasabah melakukan transaksi penarikan uang Rupiah di Jakarta, Kamis, 18 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA - Indikasi inflasi tinggi di Amerika Serikat (AS) kembali berlanjut pada November 2021 semakin menunjukkan tanda-tanda nyata. Hal ini berimplikasi negatif terhadap nilai tukar rupiah yang diprediksi melemah ke Rp14.300 dengan support di kisaran Rp14.220 per dolar AS.

Analis Pasar Uang sekaligus Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Ariston Tjendra menyebut kondisi ketenagakerjaan di Negeri Paman Sam yang membaik membuat daya beli masyarakat mulai tinggi. Sejalan dengan kondisi ini, jumlah tunjangan pengangguran yang dikucurkan pemerintah AS pun kian berkurang.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan tunjangan pengangguran berkurang dari 270.000 pada Oktober menjadi 199.000 pada November 2021. Klaim tunjangan pengangguran ini disebut terendah sejak 1969.

Tidak hanya itu, Price Consumption Expenditure (PCE) Oktober menunjukkan kenaikan inflasi yang persistent. Data PCE pada Oktober menunjukkan kenaikan 5,3% year-on-year (yoy), sama seperti bulan sebelumnya. 

“Kondisi ini mendukung percepatan pengetatan moneter di AS yang bisa mendorong penguatan dolar AS,” ucap Ariston kepada TrenAsia.com, Kamis, 25 November 2021.

Koreksi proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) oleh Bank Indonesia (BI) pun disebut Ariston berpotensi menurunkan kepercayaan pelaku pasar terhadap pemulihan ekonomi di dalam negeri. Seperti diketahui, BI merevisi pertumbuhan PDB dari 3,5%-4,3% yoy menjadi 3,2%-4% yoy.

“Dari dalam negeri, kemarin Gubernur BI menyampaikan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2021 dibandingkan proyeksi sebelumnya. Ini mungkin bisa memberikan sentimen negatif ke rupiah,” ucap Ariston.

Berita Terkait