Kupas Tuntas Tren NPL 5 Bank Jumbo: BTN Tertinggi, BCA Paling Stabil

27 Oktober 2021 07:02 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Sukirno

Kupas Tuntas Tren NPL 5 Bank Jumbo: BTN Tertinggi, BCA Paling Stabil / Kolase (Istimewa)

JAKARTA - Seperti sektor lain, industri perbankan mengalami tekanan hebat pada 2020. Akibat pandemi COVID-19, penyaluran kredit menjadi tertekan. Tidak cukup sampai di sana, kredit yang telah disalurkan pun mengalami kemacetan akibat adanya gangguan ekonomi dari para debiturnya.

Pengukuran kualitas kredit ini biasa tercermin dalam rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Bila NPL memburuk, pelaku industri perbankan praktis harus meningkatkan kesiapsiagaan dengan memperkuat pencadangan. 

Dinamika NPL ini rupanya tidak hanya terjadi sejak adanya pandemi COVID-19. Bila ditilik lebih jauh, rupanya ada perbankan yang tergolong stabil mengendalikan NPL, sementara lainnya justru terus alami perburukan. 

Terdapat dua jenis NPL, antara lain NPL gross dan Net. Rasio NPL gross dapat dihitung dengan menjumlahkan kredit kolektibilitas kurang lancar, diragukan, macet dibagi dengan total kredit. Sementara NPL net didapat hanya dengan membagi jumlah kredit macet dengan total kredit. 

Direktur Utama (Dirut) PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sekaligus  Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) Sunarso mengatakan perbankan mesti adaptif dengan mendahulukan pengendalian kualitas kredit, bukan profitabilitas di masa pandemi COVID-19.

“Di masa pandemi ini, yang perlu didahulukan itu bagaimana menjaga kualitas aset. Kalau laba masih bisa rebound, jadi saya mengimbau untuk kendalikan dulu NPL-nya,” ucap Sunarso dalam diskusi virtual, Selasa, 26 Oktober 2021.

Ketidakpastian ekonomi yang mengintai membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengintervensi kebijakan berupa restrukturisasi kredit mulai 31 Maret 2020. Debitur pun bisa bernafas lega karena hanya dibebankan membayar bunga, begitu pun kreditur yang bisa memoles kinerja dengan terkendalinya NPL.

Meski begitu, tidak menjadi jaminan NPL perbankan akan menurun setelah adanya kebijakan ini. Berikut rangkuman tren NPL di lima bank dengan aset terbesar di Indonesia:

1. Bank Mandiri

Gedung Menara Bank Mandiri di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Bank dengan aset terbesar saat ini, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tercatat mengalami tren perbaikan NPL pada periode 2016-2019. Pada 2016, NPL gross emiten bersandi saham BMRI ini parkir di level yang cukup tinggi, yakni 4%.

Angka NPL di Bank Mandiri terpaut jauh dari rata-rata industri yang sebesar 2,93% pada periode yang sama. Tren ini terus berangsur membaik dengan capaian NPL 3,64% pada 2017. 

Setahun berselang, NPL Bank Mandiri akhirnya meninggalkan kepala tiga sebesar 2,75%. Perbaikan ini diikuti dengan melesatnya pertumbuhan kredit BMRI sebesar12,4% year on year (yoy) menjadi Rp820 triliun pada 2018.

Tren ini terus berlanjut pada 2019 dengan capaian NPL 2,39%. Dihantam pandemi pada 2020, NPL Bank Mandiri kembali mencapai 3,28% pada semester I-2020.

Adapun portofolio restrukturisasi kredit Bank Mandiri pada periode yang sama mencapai Rp123,4 triliun. Meski menggotong nilai restrukturisasi jumbo, NPL Bank Mandiri masih berangsur membaik ke level 3,09% pada akhir 2020.

Adapun NPL pada semester I-2021 kian mendekati kepala dua, yakni 3,1%. Sementarta restrukturisasi yang berjalan tinggal menyisakan Rp92 triliun per Juli 2021.

2. BRI 

Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Berbanding terbalik, NPL BRI justru terus memburuk dalam lima tahun terakhir. Hal ini ditandai dengan tingkat NPL yang beranjak naik menjadi kepala tiga pada semester I-2021 ini.

Pada 2016, BRI sebenarnya berhasil mencapai NPL yang prima, yakni 2,03%. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan target perseroan pada periode yang sama sebesar 2,1%-2,4%.

Kendati demikian, NPL di bank yang fokus pada pembiayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) ini terus memburuk. NPL BRI tercatat ada di level 2,24% pada 2017, lalu naik ke 2,28% pada 2018, dan 2,80% pada 2019.

Memasuki era pandemi, BRI harus menggotong restrukturisasi yang tinggi hingga Rp231,5 triliun. Pandemi yang memukul UMKM turut membawa BRI pada kondisi pelemahan kualitas aset.

Pada semester I-2020, NPL BRI berada di level 2,98%. Meski outstanding restrukturisasi terus menyusut, nyatanya NPL BRI masih tidak terjaga dengan mengalami kenaikan ke level 3,13% pada akhir 2020.

Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza mengatakan peningkatan NPL di perseroan merupakan implikasi dari ekspansi kredit ke segmen mikro dan kecil. Terlebih, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai pemegang saham mayoritas memberi mandat ke BRI untuk mengembangkan pendanaan ke level mikro dan ultra mikro.

“NPL BRI memang naik, sebagai bagian dari soft lending untuk menjangkau lebih banyak nasabah di segmen usaha mikro dan kecil,” ucap Aestika kepada TrenAsia.com, Selasa, 26 Oktober 2021.

Walhasil, NPL BRI parkir di level 3,3% pada semester I-2021 ini. Adapun penyaluran kredit pada paruh pertama tahun ini tumbuh 0,7% menjadi Rp929,40 triliun dan sisa outstanding restruktursisasi Rp175,2 triliun

3. BCA

Menara BCA di Bundaran HI milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia yang sahamnya digenggam oleh keluarga konglomerat Michael-Robert Hartono / Bca.co.id

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) rupanya menjadi satu-satunya bank dengan NPL di kepala dua hingga semester I-2021. Meski ada tren peningkatan sejak pandemi, NPL BCA masih lebih stabil dibandingkan dengan bank jumbo lainnya. 

Kuatnya NPL BCA ini tidak hanya terjadi dalam waktu singkat. Sejak 2016, NPL BCA memang sudah rendah di angka 1,3%. Terjadi kenaikan tipis menjadi 1,5% pada 2017.

Kendati demikian, bank swasta terbesar ini memperbaiki kinerja pada tahun berikutnya. Hal ini tercermin dari catatan NPL pada 2018 yang turun menjadi 1,4% dan 1,3% pada 2019.

Tidak dapat dimungkiri, pandemi telah memukul kualitas kredit dan menjadikan NPL di BCA melonjak menjadi 2,2% pada semester I-2021. Sejak ada pandemi, NPL di bank yang dinakhodai Jahja Setiaatmadja cenderung fluktuatif.

Di akhir 2020, bank milik konglomerat paling tajir di Indonesia, keluarga Hartono, sempat menekan NPL menjadi 1,8%. Selain itu, BCA melakukan restrukturisasi kredit selama pandemi COVID-19 hingga akhir 2020 mencapai Rp104,2 triliun.

Jumlah restrukturisasi kredit itu sekitar 18% dari total kredit, yang berasal dari sekitar 100.000 nasabah. Namun, NPL BCA harus kembali naik pada semester I-2021 ke level 2,4%. 

4. BNI

Menara BNI Pejompongan, Jakarta Pusat. / BNI.co.id

Sementara itu, NPL di PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sudah fluktuatif bahkan sejak sebelum pandemi COVID-19. Pada 2016, NPL di BNI masih berada di level 3%.

Kemudian turun signifikan ke level 2,3% pada 2017. Lalu, turun lagi menjadi 1,9% pada 2018. Bergerak mundur, upaya BNI menekan NPL gagal pada 2019 dengan capaian sebesar 2,3%. Memasuki era pandemi,  NPL BNI kembali menyentuh level 2016.

NPL BNI parkir di level 3,303% pada semester I-2020. Adapun outstanding restrukturisasi Rp183 triliun. 

Nilai restrukturisasi tersebut terus menyusut menjadi Rp81,7 triliun per Semester I-2021. Di periode yang sama, NPL BNI pun kembali melambung menjadi 3,94% atau tertinggi dalam lima tahun terakhir.

5. BTN

Suasana kantor pusat Menara BTN, Gajahmada, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Anggota Himbara paling bontot, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) diketahui memiliki NPL paling tinggi. Awalnya, NPL BTN stabil di level 2,84% pada 2016, 2,81% pada 2017, dan 2,81% pada 2018.

Namun, lonjakan NPL terjadi pada 2019 menjadi 4,78%. Wakil Direktur BTN Nixon Natipulu yang kala itu masih menjabat sebagai Direktur Keuangan mengaku kebijakan BTN untuk tidak melakukan restrukturisasi ulang bagi debitur yang sudah mengajukan dua kali relaksasi serta  penurunan kolektibilitas kredit membuat NPL BTN melonjak.

“Kenaikan terjadi pada sektor komersial, memang downgrade paling tinggi di sana,” ucap Nixon dalam konferensi pers tahun lalu. 

Pada semester I-2021, NPL BTN mengalami penurunan menjadi 4,37%. Perbaikan ini terus terjadi hingga semester I-2021, tepatnya menjadi 4,1%.

Berita Terkait