Kulik Laporan Keuangan: Booming Harga Batu Bara, Segini Loh Royalti ke Negara

26 April 2022 14:07 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Laila Ramdhini

Ilustrasi lokasi pertambangan emas, tembaga, nikel, batu bara, dan mineral lain / (Dok. Archi Indonesia)

JAKARTA - Melonjaknya harga batu bara menjadi berkah bagi para pemilik tambang. Mayoritas emiten di Bursa Efek Indonesia juga mengeruk untung besar dari kenaikan harga si emas hitam itu. Sebut saja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT United Tractors Tbk (UNTR) dan PT Adaro Minerals Indonesia tbk (ADMR). 

Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, di tahun 2021, HBA  Januari masih di level US$75,84 per ton. Seiring dengan mulai pulihnya ekonomi akibat pandemi COVID-19 dan krisis energi di Eropa, HBA terus mendaki dan sempat mencapai level tertinggi di harga US$215,01 per ton pada November 2021.

Laporan keuangan tahun 2021 dari sejumlah emiten batu bara mengkonfirmasi besarnya aliran duit ke sektor energi tinggi karbon ini. Para emiten ini juga membayar royalti batu bara yang nilainya bervariasi.  

PP Nomor 81 Tahun 2019 telah mengatur ketentuan tentang tarif royalti batu bara. Sesuai beleid itu, tarif royalti IUP dibedakan menjadi 3 tingkat berdasarkan pada kualitas produknya dengan tarif 3%, 5%, atau 7% (kalori rendah, kalori menengah, dan kalori tinggi).

Sementara bagi pemilik kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) harus membayar PNBP produksi yang dikenal dengan istilah Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB). Ada dua komponen dasar dalam DHPB yaitu royalti batubara (sesuai peraturan perundang-undangan) dan Penjualan Hasil Tambang (PHT) yang tarifnya sebesar 13,5%.

Begini gambarannya singkatnya.

ITMG

Menutup tahun 2021, ITMG yang dikuasai oleh Banpu Minerals yang berlokasi di Singapura (65,14% saham), memiliki dana kas dan setara kas sebesar US$690,97 juta atau sekitar Rp9,90 triliun (kurs tengah BI per 31 Desember 2021 Rp14,340 per dolar Amerika Serikat). Sebagian besar duit tersebut disimpan di bank asing dan lokal seperti Stanchart Chatered Bank (SCB) Jakarta, Bank Permata dan CIMB Niaga.   

Likuditas jumbo Perseroan itu berasal dari penjualan batu bara yang mencapai US$2,07 miliar, naik hampir dua kali lipat daripada tahun 2020 sebesar US$1,18 miliar. Meningkatnya pendapatan membuat ITGM menikmati keuntungan bersih hingga senilai US$475,34 juta, sekitar Rp6,81 triliun. Jumlah itu hampir 13 kali lipat dibandingkan peruntunagn ITMG di 2020 sebesar US$37,8 juta. 

Lalu berapa royalti ke negara? Dari data arus kas operasional ITMG terungkap bahwa nilai royalti yang dibayarkan kepada negara di tahun 2021 mencapai US$279,56 juta atau setara dengan Rp 4 triliun.

PTBA 

BUMN tambang ini memiliki likuiditas yang cukup encer ditengah lonjakan harga batu bara dunia tahun lalu. Total dana kas dan setara kas PTBA mencapai Rp 4,39 triliun. Hampir separo dari kas Perseroan ini disimpan dalam bentuk deposito di Bank Mega yaitu senilai Rp 2,31 triliun.

Di tahun 2021 PTBA mencatat pendapatan sebanyak Rp 29,26 triliun dengan laba bersih sebesar Rp 8,03 triliun. Sementara di tahun sebelumnya dengan pendapatan Rp 17,32 triliun perolehan laba bersihnya hanya Rp 2,4 triliun. Bagaimana kontribusi PTBA dalam bentuk royalti batubara ke negara? Data di laporan keuangan 2021 mencatat nilai royalti yang dibayarkan perseroan mencapai Rp 1,65 triliun, meningkat daripada tahun 2020 sebesar Rp 920,75 miliar.   

ADMR  

Emiten yang baru IPO di BEI awal tahun ini tercatat memiliki kas dan setara kas senilai Rp 180,82 juta atau sekitar Rp 2,59 triliun di akhir 2021. Dana tersebut ditempatkan di sejumlah bank asing dan lokal seperti HSBC, OCBC dan Bank Mandiri. Di tahun 2020, likuiditas Perseroan baru sekitar US$42,57 juta atau setara dengan Rp 610,45 miliar. 

Berbekal pendapatan sebesar US$460,17 juta, tahun 2021 ADMR menutup laba bersihnya senilai US$156,71 juta. Terdapat lonjakan kinerja yang luarbiasa, mengingat di tahun 2020 pendapatan ADMR baru US$123,30 juta dengan laba bersih USD 28,55 juta. 

Seperti pemilik tambang batu bara lainnya, ADMR juga membayar kewajiban royaltinya. Tahun 2021 angkanya mencapai US$61,5 juta, lebih tinggi dibandingkan tahun 2020 sebesar US$17,18 juta. 

UNTR 

Emiten tambang yang termasuk dalam kelompok grup Astra International ini merupakan perusahaan tambang dengan likuiditas paling jumbo. Maklum, selain mengoperasikan tambang batu bara, UNTR juga memiliki bisnis jasa kontraktor tambang dan melengkapinya dengan penjualan alat berat. Total kas dan setara kas Perseroan di akhir tahun 2021 mencapai Rp 33,32 triliun, naik daripada tahun 2020 sebesar Rp 20,49 triliun. 

Dengan pendapatan sebesar Rp 79,46 triliun, di tahun 2021 UNTR mencatatkan laba bersih Rp 10,46 triliun. Sementara setahun sebelumnya, Perseroan meraih pendapatan Rp 60,34 triliun dengan laba bersih Rp 5,63 triliun. Royalti tambang? Tahun lalu negara menikmati royalti dari UNTR sebesar Rp 2,04 triliun, berbanding Rp 1,34 triliun di 2020. 

 

Berita Terkait