Kredit Terbang Tinggi, Tapi Bank Jago Tetap Rugi Rp47 Miliar

26 Juli 2021 15:33 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Rizky C. Septania

Mitra Driver Gojek menunggu customer di dekat logo Bank Jago di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa, 16 Februari 2021. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Di balik kinerja ciamik penyaluran kredit, PT Bank Jago Tbk (ARTO) masih membukukan rugi bersih sebesar Rp47 miliar pada semester I-2021.

Kendati begitu, kerugian sudah menipis 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni Rp50,91 miliar. Sayangnya, biaya operasional (operating expense) meningkat 135% menjadi Rp183 miliar.

Direktur Utama Bank Jago Kharim Siregar menjelaskan, meningkatnya biaya operasional disebabkan oleh alokasi belanja modal untuk investasi IT, pengembangan aplikasi dan rekruitmen talenta baru.

 “Jadi, kinerja kami belum positif karena faktor investasi. Kami menilai hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan masih sejalan dengan perencanaan
awal. Investasi ini tentu akan bisa dinikmati hasilnya di masa mendatang,” kata Kharim dalam keterangan resmi, Senin 26 Juli 2021.

Secara kuartalan, kinerja Bank Jago sejatinya semakin membaik. Pada kuartal I-2021, kerugian mencapai Rp38 miliar. Akan tetapi, menipis jadi Rp9 miliar pada kuartal II-2021 berkat kenaikan kredit dan penempatan dana lebih dari hasil rights issue di instrumen produktif lainnya.

Dari fungsi intermediasi, Bank Jago telah menyalurkan kredit senilai Rp2,17 triliun, tumbuh 695% year on year (yoy). Pertumbuhan kredit tersebut mampu mengerek pendapatan bunga sebesar 289% yoy. 

Dengan beban bunga yang hanya meningkat 46%, perseroan mampu membukukan kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 423% menjadi Rp139 miliar. Hal ini berdampak pada penurunan rasio cost to income dari 289% pada semester I-2020 menjadi 129% pada semester I-2021.

Kondisi ini turut mendongkrak rasio net interest margin (NIM) dari 4,1% menjadi 5% pada kurun yang sama. Dari sisi aset, perseroan mencatat lesatan sebesar 491% dari Rp1,7 triliun menjadi Rp10 triliun. 

Adapun ekuitas meningkat 538% dari Rp1,3 triliun menjadi Rp8,1 triliun. Dari sisi perolehan dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan 326% menjadi Rp1,73 triliun

 

Berita Terkait