Kredit Masih Seret, BI Terapkan Suku Bunga Acuan Rendah Hingga Kuartal IV-2022

30 Agustus 2021 17:45 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. / Facebook @BankIndonesiaOfficial

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan suku bunga acuan bakal naik pada kuartal IV-2022. Kalibrasi ulang BI-7 days reverse repo rate (BI-7DRR) ini dilakukan ketika sejumlah sektor perekonomian dianggap pulih pada tahun depan.

“Kebijakan moneter akan kami antisipasi dalam menjaga nilai tukar rupiah hingga kredit di masa pemulihan ekonomi ini,” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Senin, 30 Agustus 2021.

Seperti diketahui, BI-7DRR saat ini masih berada dalam level terendah sepanjang sejarah, yakni 3,5%. Pelonggaran likuiditas ini, kata Perry, tidak bakal menggoyang pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2022 yang diperkirakan BI bisa menyentuh 4,6%-5,4% year on year (yoy).

Suku bunga acuan rendah setahun ke depan ditujukan untuk menopang pemulihan para debitur. Hingga akhir Juli 2021, outstanding kredit restrukturisasi di perbankan masih mencapai Rp778,91 triliun dari 5,01 juta debitur.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan suku bunga acuan memberikan ruang lebih bagi perusahaan untuk memulihkan kinerja. Di sisi lain, lembaga pengawas itu meminta perbankan untuk meningkatkan pencadangan secara gradual.

“Kami minta perbankan untuk meningkatkan pencadangan secara gradual pada saat waktunya kita menormalkan pada 2023, sehingga neracanya tidak terganggu,” ucap Wimboh dalam kesempatan yang sama.

Hingga Juli 2021, kondisi penyaluran kredit masih tumbuh terbatas. Menurut catatan OJK, penyaluran kredit hanya naik 0,5% yoy.

Lebih rinci, bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menguasai 45% dari total kredit pada Juli 2021. Empat anggota Himbara, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (BBTN) dikatakan Wimboh masih memotori penyaluran kredit di Indonesia.

Sulitnya BI untuk meningkatkan suku bunga juga dapat dikaitkan dengan kondisi pelunasan kredit yang tumbuh lebih lambat.

Berdasarkan catatan OJK, penyaluran kredit perbankan periode Januari-Juli 2021 telah mencapai Rp1.439 triliun. Di sisi lain, pelunasan dan pembayaran kredit baru menyentuh Rp1.332 triliun.

“Ke depan ruang pertumbuhan kredit masih terbuka sejalan dengan pertumbuhan undisbursed loan. Dengan pertumbuhan kredit UMKM dan ritel dapat menstimulasi pertumbuhan kredit korporasi  besar ke depannya,” ujar Wimboh.

Lambatnya penyaluran kredit, kata Wimboh, bukan berasal dari kondisi likuiditas perbankan yang menipis. Lesunya penyaluran kredit lebih disebabkan oleh kemampuan perusahaan yang masih menahan produktivitasnya karena restriksi mobilitas akibat COVID-19.

Hal ini tercermin dari  Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan pada Juli 2021 yang berada di level 24,67% atau jauh di atas threshold. Apalagi, BI juga turut mengguyur likuiditas perbankan melalui quantitative easing (QE) sebesar Rp844,4 triliun atau setara 5,3% PDB pada periode 2020-27 Agustus 2021,

Berita Terkait