Krakatau Steel Lunasi Utang Rp2,67 Triliun, KRAS Tak Jadi Bangkrut?

27 Desember 2021 15:30 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Vega Aulia

Gedung Krakatau Steel di kawasan Gatot Subroto Kuningan. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA – Emiten produsen baja pelat merah, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) melakukan pembayaran utang dengan total nilai mencapai Rp2,67 triliun kepada tiga bank milik negara pada 24 Desember 2021.

Sekretaris Perusahaan Krakatau Steel, Pria Utama mengatakan pihaknya telah melakukan pembayaran Pokok Utang Tranche B Porsi Working Capital Bridging Loan dengan outstanding sebesar Rp2,54 triliun dan US$9,09 juta atau setara Rp129,54 miliar (asumsi kurs Rp14.250 per dolar AS).

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk merupakan kreditur dari perseroan berdasarkan perjanjian restrukturisasi yang memberikan fasilitas pinjaman dengan plafon hingga US$200 juta.

“Tujuan pelaksanaan transaksi adalah melakukan pemenuhan kewajiban perseroan berdasarkan perjanjian restrukturisasi kepada kreditur,” ujar Pria melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, 27 Desember 2021.

Setidaknya, terdapat empat dampak kejadian dari adanya transaksi ini. Di antaranya mengurangi beban utang perseroan, memperbaiki struktur keuangan perseroan, memperkuat kinerja positif keuangan, serta mendukung program restrukturisasi dan transformasi perseroan.

Sebelumnya, Komisaris Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI) Roy Maningkas berani membuat taruhan dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sebesar Rp1 miliar jika KRAS yang merupakan induk usahanya bangkrut bulan ini.

"Sebagai komisaris subholding KSI, saya meminta Menteri BUMN untuk bertaruh Rp1 miliar. Jika KS bangkrut bulan ini, saya akan bayar Pak Menteri. Sebaliknya jika KS (Krakatau Steel) tetap bertahan tanpa melakukan yang diminta Pak Menteri, uang Rp1 miliar itu akan saya sumbangkan ke kaum dhuafa," ujarnya dalam keterangan pers, Senin, 6 Desember 2021.

Roy mengatakan Krakatau Steel memang dalam kondisi sulit. Namun manajemen telah berbuat yang terbaik dan sekarang kondisinya sudah mulai membaik. Sebagai aset strategis, menurutnya KRAS diperlakukan dengan strategis pula.

“Saya pernah menjadi komisaris di Krakatau Steel dan sekarang di subholding KSI. Saya percaya dan yakin, KS tidak seburuk yang disampaikan oleh Menteri BUMN,” ungkap Roy.

Dia menambahkan, dalam menyelesaikan kewajiban KS kepada sejumlah krediturnya, perusahaan telah memiliki sejumlah rencana. Termasuk melepas kepemilikan saham di KSI hingga 40%. Akan tetapi, belakangan muncul permintaan agar penjualan KSI hingga sampai 70% saham sampai tahun 2023. 

Bagi dia, strategi tersebut yang justru akan merugikan Krakatau Steel sebagai pemegang saham mayoritas. Pasalnya, KSI merupakan aset penting dan cashcow dari KRAS. Bahkan saat ini sekitar 50% EBITDA KRAS berasal dari KSI.

Pada 2 Desember 2021, Erick sempat mengatakan di depan Komisi VI DPR RI bahwa untuk menyelamatkan Krakatau Steel ada tiga langkah. Sayangnya, langkah ketiga yang dilakukan macet.

"Tapi memang salah satunya yang sekarang ini krusial, kalau ketiga gagal, kedua gagal, dan pertama gagal maka Desember ini (Krakatau Steel) bisa default," ucap Erick.

Berita Terkait