KPPU Temukan Indikasi Monopoli Perbankan Syariah oleh BSI

01 September 2021 11:46 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

E-Commerce dan E-Wallet Dorong Peningkatan Transaksi BSI Mobile (ist)

JAKARTA – Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengindikasikan adanya praktik monopoli bisnis perbankan syariah. KPPU menilai perusahaan hasil merger tiga bank pelat merah, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berpotensi menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat.

“Ada analisa yang mengarah ke penguasaan pasar relevan perbankan syariah,” jelas Ketua KPPU Kodrat Wibowo dalam rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Selasa, 31 Agustus 2021.

KPPU menemukan BSI telah menggenggam setidaknya 50% dari pasar perbankan syariah di Indonesia. Kendati demikian, Kodrat masih memberi lampu hijau bagi BSI untuk meningkatkan aspek permodalan hingga masuk Bank Umum Kegiatan Usaha IV (BUKU IV).

“Kami nyatakan merger ini silakan lanjut, tapi dengan catatan ya lebih dari 50 persen pangsa pasar adalah pangsa pasar BSI dalam pasar perbankan syariah dan target BSI masuk kategori bank buku IV," jelas Kodrat.

Kodrat masih belum menjawab pesan singkat dari wartawan TrenAsia.com terkait langkah lanjutan dari temuan potensi monopoli tersebut.

Hingga semester I-2021, BSI telah mencatatkan peningkatan kinerja dari segi intermediasi. dana pihak ketiga (DPK) perseroan mencapai Rp216,36 triliun, naik 16,03% year on year (yoy) dari semula Rp186,49 triliun.

BSI telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp161,5 triliun, naik 11,73% yoy dari Rp144,5 triliun. Rinciannya, segmen konsumer sebesar Rp75 triliun atau setara 46,5% dari total pembiayaan.

Adapun segmen korporasi sebesar Rp36,7 triliun atau sekitar 22,8% dari total pembiayaan. Selanjutnya, segmen UMKM mencapai Rp36,8 triliun atau setara 22,9% dan sisanya segmen komersial Rp10 triliun atau sekitar 6,2%.

Dengan demikian, perseroan mencatatkan total aset sebesar Rp247,3 triliun hingga Juni 2021. Total aset naik 15,16% yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp214,7 triliun.

Berita Terkait