Korporasi Ramai-ramai Restrukturisasi Kredit di BNI, NPL Meroket

JAKARTA – Total restrukturisasi kredit yang dilakukan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI mencapai Rp119,2 triliun per Juni 2020.

Berdasarkan jenis, koporasi menjadi segmen terbesar yang mendapatkan restrukturisasi BNI, yakni sebesar Rp48,4 triliun. Sementara itu, segmen menengah Rp23,9 triliun, segmen kecil Rp36,8 triliun, dan segmen konsumer Rp10,1 triliun.

Direktur Keuangan BNI Sigit Prastowo mengatakan, pemberian restrukturisasi dilakukan secara hati-hati kepada debitur terdampak COVID-19.

“Kriteria debitur yang dapat mengajukan restrukturisasi merupakan nasabah yang tidak tercatat dalam daftar hitam nasional (DHN), serta memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP),” kata Sigit dalam paparan publik secara daring di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2020.

Adapun pemberian restrukturisasi yang dilakukan, meliputi penjadwalan ulang dan penangguhan pembayaran bunga atau diskon bunga 53,9%, penangguhan pembayaran bunga atau diskon bunga 27,3%, serta penjadwalan ulang 18,8%.

Sementara itu, untuk menambah provisi restrukturisasi kredit, kata Sigit, perseroan masih mengupayakan mengingat BNI juga harus mengantisipasi penurunan kualitas kredit.

NPL BNI Meroket

Pada semester I-2020, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross BNI mencapai 3% yoy, lebih tinggi dibandingkan dengan 1,8% yoy pada periode yang sama tahun 2019. Sementara itu, NPL secara net mampu turun menjadi 0,5% yoy. Pada Juni 2019, NPL net BNI tercatat 0,8% yoy.

Menurut Head Officer BNI Rukma Hariyadi, pemberian restrukturisasi kredit secara masif yang dilakukan oleh perseroan menjadi salah satu faktor meningkatnya NPL. Per Juni 2020, total restrukturisasi kredit yang telah diberikan oleh BNI mencapai Rp119,2 triliun. Dalam kondisi normal, ungkapnya, rata-rata NPL BNI berada di level 2,3%.

“Dari nasabah yang direstrukturisasi, rekening sejumlah debitur sudah bermasalah bahkan sebelum pandemi COVID-19 terjadi,” ujarnya. Dengan demikian, hingga akhir tahun 2020, pihaknya memproyeksikan angka NPL meningkat di level 4,5%.

Dari sisi penyaluran kredit, BNI pada enam bulan pertama tahun mampu menumbuhkan kredit sebesar 5% yoy dari Rp549,23 triliun menjadi Rp576,78 triliun. DPK tumbuh sebesar 11,3% dari Rp595,07 triliun pada 2019 menjadi Rp662,38 triliun pada semester I-2020.

Namun, laba bersih BNI ambruk 41,6% yoy menjadi Rp4,46 triliun pada semester I-2020. Padahal, pada enam bulan pertama tahun sebelumnya, laba bersih BNI mencapai Rp7,63 triliun. Meskipun demikian aset bank bersandi BBNI ini masih tumbuh 4,4% menjadi Rp880,12 triliun. (SKO)

Tags:
Bank BNIBBNIBNIBUMNCovidCovid-19HeadlineHimbarakorporasiNPL PerbankanPandemi COVIDPenjaminan Kredit KorporasiPT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbkrasio kredit bermasalahrestrukturisasi kredit
Aprilia Ciptaning

Aprilia Ciptaning

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: