Kontrak Baru BUMN Konstruksi: WIKA Unggulan, PTPP Paling Tertinggal

14 Oktober 2021 13:35 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Rizky C. Septania

Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA - Emiten konstruksi pelat merah telah melaporkan capaian kontrak baru masing-masing. Keempat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut adalah  PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP).

Pada periode kuartal III tahun ini, tercatat update terbaru dilaporkan oleh WSKT dan ADHI. Sementara itu, laporan kontrak baru WIKA dan PTPP baru sampai per Agustus 2021.

Berikut urutan perolehan kontrak baru berdasarkan jumlah yang paling besar dari keempat emiten tersebut.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)

Perusahaan konstruksi pelat merah ini membukukan capaian kontrak baru sebesar Rp11,9 triliun hingga akhir Agustus 2021.

Jumlah tersebut didominasi oleh sektor infrastruktur dan gedung sebesar Rp7,5 triliun, diikuti oleh industri sebesar Rp2,9 triliun, dan energi serta industrial plant sebesar Rp1,2 triliun. Adapun Rp176 miliar sisanya disumbang oleh sektor realti dan properti.

Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito mengaku optimistis dapat mencapai kinerja positif ke depan. “Perseroan masih dapat menambah kontrak baru sampai akhir tahun,” ujarnya dalam Public Expose secara daring, beberapa waktu lalu.

Adapun berdasarkan sumbernya, kontrak baru tersebut diperoleh paling banyak dari swasta (47,7%), pemerintah (24,4%), BUMN (19,5%), dan investor (0,2%).

Pada awal semester kedua tahun ini, salah satu proyek perseroan, yakni Jalan Tol Serang-Panimbang telah mencapai progres 57,72%. Garapan yang masuk ke dalam salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) ini akan dibangun sepanjang 83,68 kilometer (km). Adapun total investasinya mencapai Rp5,28 triliun. 

Selain itu, salah satu proyek yang akan rampung adalah Terminal Kijing, yakni progresnya mencapai 91,53% per Agustus 2021. Dengan aggaran sebesar Rp2,7 triliun, terminal ini diharapkan dapat mengurangi beban dari Pelabuhan di Kalimantan Barat. Selain itu, keberadaannya juga diyakini mampu mengurangi beban biaya dermaga.

Di ibu kota, perseroan bersama PT Jaya Konstruksi juga kembali melanjutkan pembangunan sodetan Sungai Ciliwung. Alokasi anggaran untuk konstruksi sodetan dan galian alur mencapai Rp683,9 miliar. 

Pembangunan sodetan ini diklaim akan mengurangi debit banjir Sungai Ciliwung dengan mengalirkan air sebesar 60 m3/detik ke Kanal Banjir Timur. Pasalnya, saat Sungai Ciliwung sudah tidak mampu menampung debit air pada perkiraan debit banjir ulang 25 tahunan sebesar 508 m3/detik. 

PT Waskita Karya Tbk (WSKT) 

Berada di urutan kedua, WSKT mengantongi kontrak baru sebesar Rp11,42 triliun per September 2021. Jumlah itu setara 55,7% dari target yang ditetapkan tahun ini, yakni Rp20,5 triliun.

Direktur Utama WSKT Destiawan Soewardjono menjelaskan, capaian kontrak ini didukung oleh anak usaha yang mencapai 65,7%. Berikutnya, proyek pemerintah menyumbang 26,95%, BUMN 4,71%, dan lain-lain sebesar 2,64%.

Sementara berdasarkan jenis, proyek jalan dan jembatan menyumbang kontribusi terbesar, yakni 57,5%. Disusul proyek gedung 14,5%, infrastruktur sumber daya air 12%, proyek dari anak usaha 10,6%, EPC 4,5%, dan sisanya proyek properti dan infrastruktur lainnya.

“Perseroan terus membidik proyek potensial untuk menambah kontrak baru pada tahun ini,” ujarnya dalam Public Expose secara daring, beberapa waktu lalu. Bahkan, ke depan WSKT berencana melakukan ekspansi ke pasar internasional, seperti di Asia Timur, Timur Tengah, dan Afrika.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI)

ADHI mencatat perolehan kontrak baru sebesar Rp11,3 triliun hingga September 2021. Jumlah ini naik sebesar 82,3% yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp6,2 triliun.

Corporate Secretary ADHI Farid Budiyanto menjelaskan, kontrak baru ini didominasi oleh sektor konstruksi, yakni mencapai 91%, kemudian diikuti properti sebesar 8%, dan sisanya lini bisnis lainnya.

“Selain lini bisnis, kontrak ini juga meliputi berbagai tipe pekerjaan yang terdiri dari proyek gedung sebesar 27 persen, jalan dan jembatan sebesar 32 persen, proyek infrastruktur lainnya seperti pembuatan bendungan, bandara, jalur kereta api, dan proyek energi, serta proyek lainnya sebesar 41% persen,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Kamis, 14 Oktober 2021.

Berdasarkan segmentasi sumber dana, realisasi kontrak baru yang bersumber dari pemerintah sebesar 34%, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebesar 10%, serta proyek kepemilikian swasta/lainnya sebesar 56%.

Untuk kuartal IV tahun ini, kata Farid, ADHI tengah mengikuti proses tender di beberapa proyek perkeretaapian, infrastruktur, gedung, dan lainnya.

Melalui proses tender tersebut, perseroan optimistis dapat memperoleh tambahan kontrak baru sebesar 20%-25%.

PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP)

Berdasarkan laporan kontrak baru mutakhir, yakni per Agustus 2021, kontrak baru PTPP sebesar Rp 10,1 triliun. Jumlah ini masih jauh dari target tahun ini yang mencapai Rp30,1 triliun.

Adapun proyek yang baru saja selesai digarap PTPP antara lain Junction Dawuan Tol sebesar Rp825 miliar, Pegadaian Tower Rp594 miliar dan proyek Gedung Kejaksaan Agung RI sebesar Rp500 miliar.

Lebih lanjut, proyek Jalan KIT Batang Fase 1.4 mencapai Rp350 miliar, Kawasan Pura Besakih sebesar Rp344 miliar, Mandalika Infrastructure Fase 2 sebesar Rp342 miliar, proyek infrastruktur Kab. Alor sebesar Rp271 miliar, RS Banten sebesar Rp241 miliar, TIM Phase 3 senilai Rp226 miliar, serta irigasi Bintang Bano sebanyak Rp212 miliar.

Direktur Utama PTPP Novel Arsyad mengungkapkan, pihaknya telah menyiapkan strategi untuk mencapai target akhir tahun, salah satunya dengan mengevaluasi proyek yang masih dalam proses tender.

Di sisi lain, pihaknya juga mencatat potensi proyek apa saja yang akan datang.

“Perusahaan akan terus melakukan evaluasi secara berkala sehingga PTPP dapat memastikan proyek-proyek tersebut dapat dicapai pada akhir tahun,” ujarnya.

Meskipun demikian, jika beberapa tender mengalami kemunduran waktu, ia memprediksi realisasi kontrak baru masih dapat tercapai hingga 85%. Saat ini, ia mengaku masih dalam proses kajian internal.

Berita Terkait