Kontrak Baru BUMN Karya Semester I-2020: WIKA Anjlok, Waskita Turun Tipis

JAKARTA – Empat perusahaan konstruksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya kembali melaporkan capaian kontrak baru sepanjang semester I-2020.

Keempat emiten BUMN Karya itu terdiri dari PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI).

Sepanjang semester I-2020, keempat BUMN Karya itu meraup kontrak baru Rp24,21 triliun. Jumlah tersebut merosot 50,97% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan kontrak baru periode semester I-2019 senilai Rp49,38 triliun.

Perolehan kontrak baru seluruh BUMN Karya tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan paling dalam terjadi pada WIKA yang anjlok 83,25% yoy dari Rp20,3 triliun menjadi Rp3,4 triliun.

Disusul oleh ADHI dan PTPP yang masing-masing merosot 39,34% dan 39,32% yoy. Meski sama-sama turun, WSKT justru meraih penurunan paling tipis 0,61% yoy dari Rp8,18 triliun pada semester I-2019 menjadi Rp8,13 triliun tahun ini.

BUMN konstruksi PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) / Facebook @ptpptbk

PTPP

PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) masih menduduki posisi unggul dibandingkan dengan tiga perusahaan lainnya.

Emiten konstruksi dengan sandi saham PTPP itu berhasil memperoleh kontrak anyar sebesar Rp8,98 triliun pada enam bulan pertama tahun ini. Perolehan itu mencakup 35,17% dari total target kontrak baru perseroan sampai akhir tahun.

Berdasarkan data yang dirangkum TrenAsia.com, Senin, 31 Agustus 2020, persentase perolehan kontrak baru emiten konstruksi tersebut mengungguli tiga perusahaan pelat merah lainnya.

Hingga Juli 2020, perseroan berhasil meraup kontrak anyar sebesar Rp10,05 triliun. Direktur Utama PTPP Novel Arsyad mengatakan perolehan kontrak baru yang berhasil direalisasikan perseroan sebesar 40% dari total target yang ditetapkan yakni sebesar Rp25,53 triliun.

“Pencapaian kontrak baru sebesar Rp10,05 triliun tersebut terdiri dari kontrak baru induk perseroan sebesar 87 persen dan anak perusahaan sebesar 13 persen,” kata Novel dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis 27 Agustus 2020.

Secara rinci, proyek itu meliputi kerja sama operasional Refinery Development Master Plan (RDMP) sebesar Rp1,80 triliun, sistem penyediaan air minum (SPAM) Pekanbaru sebesar Rp1,26 triliun, dan Bogor Apartement sebesar Rp1,17 triliun.

Selanjutnya, proyek Sirkuit Mandalika sebesar Rp817 miliar, Sport Centre Banten Rp794 miliar, SGAR Alumina Rp660 miliar, RDMP Reguler Rp576 miliar, Jalan Kendari-Toronipa Rp412 miliar, serta proyek lainnya.

Proyek exit tol Brebes Timur yang dibangun oleh PT Waskita Karya Toll Road, anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) / Facebook @WASKITAKARYA

Waskita Karya

Posisi kedua setelah PTPP diduduki oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Perusahaan konstruksi ini mampu mencapai kontrak baru sebesar Rp8,13 triliun per Juni 2020 atau mencakup 31,26% dari target yang ditetapkan perseroan hingga akhir tahun.

Presiden Direktur Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengungkapkan proyek-proyek tersebut terdiri dari jalan tol, fasilitas kesehatan, gedung, industri, hingga proyek sipil lainnya. Hingga kini, kontrak baru perseroan masih didominasi oleh proyek jalan tol.

Dia menyebutkan dari total nilai kontrak baru WSKT, sekitar 58% merupakan proyek jalan tol. Proyek-proyek tersebut antara lain ruas tol Bogor-Ciawi-Sukabumi paket III dan IV senilai Rp3,3 triliun dan ruas tol Pasuruan-Probolinggo seksi IV senilai Rp1,3 triliun.

Sedangkan proyek lainnya yaitu pembangunan Ruang Isolasi RS Fatmawati Jakarta, Fasilitas Observasi & Karantina Pulau Galang di Riau, Ruang Isolasi Penyakit Infeksi Emerging RS Adam Malik di Medan, serta sarana pendidikan di Universitas Islam Negeri Jambi dan Politeknik Negeri Malang.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) menggarap proyek transportasi Mass Rapid Transit (MRT) System di Taiwan. / Facebook @ptwika

Wijaya Karya

BUMN Karya selanjutnya yaitu PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Emiten konstruksi ini menempati posisi ketiga setelah WSKT. Hingga semester pertama tahun ini, capaian kontrak baru perseroan tercatat sebesar Rp3,4 triliun.

Jumlah itu mencakup 15,91% dari target kontrak baru perseraon untuk tahun ini yakni sebesar Rp21,37 triliun. Direktur Utama Wijaya Karya Agung Budi Waskito mengaku optimistis dapat mencapai target kontrak baru hingga akhir tahun yakni sebesar Rp21,37 triliun.

“Sisanya akan kami dapat di kuartal III dan IV. Ada beberapa yang sudah diperoleh di bulan Agustus,” kata Agung dalam paparan publik secara virtual yang digagas Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, 25 Agustus 2020.

Menurut Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya, capaian kontrak baru tersebut masih banyak berasal dari proyek infrastruktur.

Proyek LRT Jabodetabek Lintas Cawang-Dukuh Atas / Dok. PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Adhi Karya

Emiten konstruksi PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menduduki posisi terbawah dari ketiga BUMN lainnya. Perusahaan pelat merah ini hanya mampu memperoleh kontrak baru sebesar Rp3,7 triliun atau 13,7% dari target keseluruhan perseroan.

Direktur Keuangan Adhi Karya Agung Dharmawan mengakui sepanjang semester I kondisi industri konstruksi cukup menantang. “Perolehan kontrak baru yang kami peroleh sebesar Rp3,7 triliun. Terdapat koreksi sekitar 40 persen dari periode sebelumnya,” ujarnya, Senin, 10 Agustus 2020.

Agung menjelaskan proyek infrastruktur masih mendominasi perolehan kontrak baru perseroan. Jumlah mencapai 80% dari total kontrak baru ADHI. (SKO)

Tags:
ADHIBUMNBUMN KaryaEmiten konstruksiHeadlineinfrastrukturKonstruksiKontrak BaruKOntrak baru BUMN KaryaPT Adhi KaryaPT Adhi Karya TbkPT Pembangunan Perumahan (Persero) TbkPT PP (Persero) TbkPT Waskita Karya (Persero) TbkPT Wijaya Karya (Persero) TbkPTPPWaskita KaryaWijaya KaryawikaWSKT
wahyudatun nisa

wahyudatun nisa

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: