Konsumen Masih Lebih Percaya Telemedicine RS Ketimbang Startup

28 Oktober 2020 14:35 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Ilustrasi pengobatan digital alias telemedis (telemedicine) / Shutterstock

JAKARTA – Managing Partner Inventure Yuswohady menyampaikan 71 % responden survei lebih memilih layanan telemedicine dari rumah sakit (RS) daripada startup teknologi.

Hasil riset ini membuktikan layanan digital menjadi primadona selama pandemi COVID-19 termasuk layanan telemedicine. Terkhusus, layanan telemedicine yang menjadi alternatif utama untuk bisa mengakses fasilitas kesehatan di tengah kekhawatiran konsumen pergi ke rumah sakit.

“Temuan ini menjadi insights luar biasa bagi rumah sakit/klinik di Indonesia untuk gerak cepat menyediakan layanan telemedecine, sebelum ‘kuenya’ terlanjur diambil oleh para pemain startup teknologi,” kata Yuswohad dalam keterangan resmi, Rabu, 28 Oktober 2020.

Seperti ditunjukkan hasil riset Inventure, hal ini diperkuat dengan tingginya permintaan konsumen terhadap layanan Telemedicine dari rumah sakit.

Di mana hampir semua responden yakni 95,3% dari 441 orang mengatakan bahwa rumah sakit harus menyediakan layanan Telemedicine.

Selain itu, krisis kesehatan dan ekonomi akibat COVID-19 juga semakin menyadarkan masyarakat pentingnya memiliki asuransi kesehatan. Hal ini beralasan, mengingat risiko hidup dan kesehatan yang tinggi menciptakan kebutuhan akan proteksi asuransi yang lebih besar.

Hasil survei yang sama melaporkan 78,7% dari 629 responden berpendapat bahwa memiliki asuransi jiwa dan kesahatan menjadi hal yang dianggap penting.

“Musibah pandemi menjadi blessing in disguise bagi kalangan industri asuransi karena justru membangun urgensi masyarakat untuk menggunakan jasa asuransi untuk melindungi diri dan keluarga,” tambahnya.

Tren ini memberikan kesempatan bagi industri asuransi untuk memanfaatkan momentum pentrasi bisnisnya. Caranya dengan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya berinvestasi dalam hal proteksi diri yaitu asuransi.

Berita Terkait