Konglomerat Low Tuck Kwong Habiskan Rp285 Miliar Borong Saham Bayan Resources Sejak Awal 2021

09 Agustus 2021 22:05 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Editor: Laila Ramdhini

Pertambangan batu bara milik PT Bayan Resources Tbk (BYAN). (bayan.com.sg)

JAKARTA – Low Tuck Kwong, konglomerat terkaya ke-25 Indonesia pada 2020 versi majalah Forbes, terus memborong saham emiten tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sejak awal tahun ini.

Dalam catatan TrenAsia.com, Kwong sudah memborong 23.516.530 saham dalam 13 transaksi sejak awal 2021 dengan nilai transaksi mencapai total Rp285,93 miliar. Manuvernya ini membuat kepemilikan sahamnya naik dari 54,04% pada awal tahun jadi 55,11% per hari ini.

Perjalanan Kwong membeli saham BYAN dimulai pada 5-8 Januari 2021. Pada saat itu, dia membeli 18.500 saham dengan nilai Rp15.844,11 per sahamnya. Ini membuat nilai transaksi total menjadi Rp286,53 juta.

Selanjutnya, Kwong menambah lagi kepemilikan sahamnya di BYAN dengan membeli 354.000 saham senilai Rp15.004,94 per lembarnya. Untuk transaksi ini, dia menghabiskan uang Rp5,31 miliar.

Pada 20-27 Januari 2021, Kwong menggila dengan membeli saham sebanyak 20.743.130 atau 20,74 juta lembar senilai masing-masing Rp12.000 per lembar. Penambahan saham ini membuat kepemilikannya saat itu yang sebesar 54,04% menjadi 54,66%. Dirinya menghabiskan Rp248,92 miliar dalam transaksi ini.

Kwong lalu menambah sedikit sahamnya di BYAN sebanyak 1.900 saham pada 29 Januari 2021. Dengan harga saham Rp15.481 per lembar, dia menghabiskan Rp29,41 juta dalam transaksi ini.

Pada 9 Februari, Kwong menambah lagi 9.300 saham BYAN seharga Rp15.481 per lembarnya hingga menghabiskan Rp130,78 juta. Lalu, Kwong tambah lagi 1.500 saham seharga Rp13.831 dengan nilai transaksi Rp20,75 juta pada 17 Februari 2021.

Kwong membeli lagi 1.206.400 saham BYAN senilai Rp12.927 per lembar pada 22-26 Februari 2021. Dalam transaksi ini, dirinya menghabiskan Rp15,59 miliar.

Memasuki Maret akhir kuartal I-2021, Kwong membeli lagi 563.800 saham BYAN senilai Rp12.368,15 per lembarnya dengan nilai transaksi yang mencapai Rp6,97 miliar. Ini juga menjadi satu-satunya transaksi saham Kwong pada Maret.

Pertengahan April, Kwong kembali membeli 10.000 saham BYAN seharga Rp12.478,75 per lembarnya yang membuat nilai transaksi menjadi Rp124,79 miliar. Pada 21-27 April, dia menambah lagi 72.500 saham seharga Rp12.620 yang berarti nilai transaksinya Rp914,95 miliar.

Kwong baru membeli saham lagi memasuki Juli. Pada 7-9 Juli, Kwong membeli 76.300 saham seharga Rp13.648 dengan nilai transaksi Rp1,04 miliar. Lalu, Kwong tambah lagi 150.000 saham seharga Rp13.607,53 dengan nilai transaksi mencapai Rp2,04 miliar.

Termutakhir, Kwong membeli 309.200 saham seharga Rp14.683 per sahamnya pada 2-6 Agustus 2021. Ini membuat nilai transaksi tersebut mencapai Rp4,54 miliar.

Sebagai informasi, Kwong adalah pendiri sekaligus Direktur Utama BYAN. Ia sempat bekerja untuk perusahaan konstruksi ayahnya ketika berumur 20-an dan pindah ke Indonesia pada 1972. Sempat sukses jadi kontraktor, Kwong banting setir ke pertambangan setelah membeli tambang pertamanya pada 1997.

Kini, Kwong tidak hanya menguasai BYAN tetapi juga perusahaan perkapalan Singapura, Manhattan Resources, dan memiliki ketertarikan di The Farrer Park Company, Samindo Resources, and Voksel Electric..

Kwong juga menyuntik dana ke SEAX Global, perusahaan yang sedang membangun sistem kabel optik bawah laut yang akan menghubungkan konektivitas internet antara Singapura, Indonesia, dan Malaysia.

Pada 2020, Kwong dinobatkan menjadi orang terkaya ke-25 di Indonesia oleh Forbes. Dalam data real-time, Kwong menduduki posisi 2.524 orang terkaya di dunia dengan kekayaan sebesar US$1,2 miliar atau sekitar Rp17,26 triliun (kurs Rp14,353 per dolar AS) per 9 Agustus 2021.

Sepanjang semester I-2021, BYAN berhasil mencetak pendapatan sebesar US$1,02 miliar atau Rp14,83 triliun (kurs Rp14.496 per dolar AS sesuai laporan keuangan). Jumlah ini lebih tinggi 47,2% dibandingkan dengan US$695 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Laba bersih yang diatribusikan ke entitas induk pun melejit hingga 386,8% menjadi US$337 juta atau setara Rp4,8 triliun pada periode yang sama. Pada semester I-2020, laba bersih BYAN tercatat US$62,24 juta (Rp1 triliun).

Berita Terkait