Konflik Rusia-Ukraina dan Pencarian Tulang Belulang Pangeran Abad ke-11

03 Januari 2022 17:03 WIB

Penulis: Amirudin Zuhri

Editor: Laila Ramdhini

Peta Ukraina-Rusia (Wikipedia)

JAKARTA-Pada abad ke-11, seorang pangeran yang disebut Yaroslav the Wise menyatukan kerajaan-kerajaan yang terletak di antara Laut Baltik dan Hitam. Dia kemudian menyusun hukum dan membentuk negara politik pertama di Slavia timur. Baik Rusia maupun Ukraina mengklaim Yaroslav sebagai leluhur mereka.

Kini Ukraina sedang mencari tulang Yaroslav yang hilang. Menemukan mereka akan menjadi kemenangan simbolis yang penting, serta memperkuat kedaulatan Ukraina pada saat ketegangan signifikan dengan tetangganya. 

Warisan Yaroslav masih diperebutkan, membentuk landasan sejarah untuk pembangunan militer Rusia saat ini di dekat Ukraina yang dilihat oleh sejumlah pihak termasuk Amerika sebagai potensi awal untuk invasi Rusia.

Sebagaimana ditulis The Wall Street Journal dalam artikelnya 1 Januarin 2022, Rusia dan Ukraina masing-masing mengklaim sebagai pewaris politik federasi Rus Kiev yang didirikan Yaroslav. Ukraina mengabadikan perintah Pangeran Yaroslav yang Bijaksana untuk layanan kepada negara. Sebuah fregat Rusia yang membawa namanya berpatroli di Laut Baltik. Gambar Yaroslav juga muncul di uang kertas masing-masing negara.

Bagi Presiden Rusia Vladimir Putin, Kievan Rus adalah bagian dari bukti bahwa Rusia dan Ukraina adalah satu ruang sejarah dan spiritual. Seperti yang ia tuliskan dalam esai di Juli 2021. Putin juga menyebutkan Ukraina tidak memiliki dasar untuk eksis sebagai negara berdaulat. 

Dia menunjuk pada akar linguistik abad pertengahan yang sama, kepercayaan Kristen Ortodoks yang sama dan pemerintahan mereka dimulai pada abad kesembilan oleh dinasti Rurikid di mana Yaroslav menjadi bagiannya.

Beberapa bulan sebelum esainya muncul, Putin memulai penumpukan pasukan di dekat Ukraina. Pada musim gugur, dia mengizinkan mobilisasi baru di sepanjang perbatasan Ukraina yang berlanjut dalam beberapa pekan terakhir.

Untuk Ukraina, nama Yaroslav telah disebut dalam pidato hari kemerdekaan oleh Presiden Volodymyr Zelensky. Pemerintah Ukraina telah mencari jasad Yaroslav sebagai tanda nyata kebangsaan dan mengejar petunjuk di seluruh Eropa hingga Amerika.

Pejabat Ukraina telah memeriksa arsip perang Jerman dan melakukan perjalanan ke New York dalam upaya pencarian mereka. Agen Departemen Keamanan Dalam Negeri bergabung dalam upaya itu dengan  menggeledah sebuah gereja Ortodoks Rusia di Brooklyn.

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba sebagaiman dikutip The Wall Street Journal mengatakan sebagai keturunan langsung dari Rus kuno, mereka tidak menyangkal hak Belarus dan Rusia modern untuk menghormati ikatan bersejarah mereka dengannya juga.   “Apa yang kami lawan dengan tegas adalah upaya Rusia saat ini untuk memanfaatkan sejarah Rus untuk melayani mitos Putinis modern dan klaim teritorial yang tidak sah.”

Seorang juru bicara Kremlin tidak menanggapi permintaan komentar, begitu pula Institut Sejarah Rusia yang didukung pemerintah.

Sebuah lukisan dinding di Katedral St. Sophia yang menggambarkan keluarga Vladimir the Great, termasuk putranya, Yaroslav, kedua dari kiri/ IRINA TRUSH

Jenazah Diletakk di Sarkofagus

Sebagai pangeran agung Kiev, Yaroslav mewariskan salah satu perangkat hukum pertama yang dikodifikasi di tanah Slavia timur dan mempromosikan pendidikan publik. Dia berdagang dengan Prancis, Norwegia, dan Persia. Dia juga menikahkan anak-anaknya dengan penguasa Eropa Tengah dan Barat. Termasuk seorang putri, Anna, yang menjadi ratu Prancis.

Setelah kematiannya pada tahun 1054, jenazahnya diletakkan di sebuah sarkofagus marmer putih berukir di Katedral St. Sophia di Kyiv. Sebuah gereja yang ia beri nama dan pola menurut kolosus di Konstantinopel yang sekarang menjadi Istanbul.

Federasi Kievan Rus-nya menurun dengan penaklukan Mongol pada abad ke-13. Bagian dari apa yang sekarang menjadi Ukraina selama berabad-abad adalah bagian dari apa yang menjadi kekaisaran Rusia. Ukraina mendeklarasikan kemerdekaan dalam kekacauan perang saudara Rusia seabad yang lalu. Namun kemudian menghabiskan beberapa dekade sebagai bagian dari Uni Soviet. Dengan runtuhnya Soviet, Ukraina kembali mendeklarasikan kemerdekaannya pada tahun 1991.

Hubungan Ukraina dengan Rusia sejak itu menjadi masalah yang menentukan bagi banyak orang Ukraina. Kadang-kadang memicu gerakan protes nasionalis.

Nelia Kukovalska, seorang arsitek dan sejarawan mengatakan bahwa dia secara politis terbangun oleh satu gerakan semacam itu.  Direktur Jenderal Katedral St. Sophia dan bangunan bersejarah di sekitarnya, Kukovalska dan rekan-rekannya berencana untuk membuka makam Yaroslav the Wise pada tahun 2009 untuk mempelajari sisa-sisanya.

Mereka ingin membandingkan DNA tulang dengan keturunan yang diketahui di Prancis, Jerman dan Hongaria dan berharap untuk memperkuat klaim Ukraina atas warisan pan-Eropa. Bukan warisan Rusia, dan membangkitkan dukungan di seluruh benua untuk kemerdekaan negara itu. .

Menurut makalah tahun 2013 yang diterbitkan National Academy of Sciences of Ukraina, puluhan tahun telah berlalu sejak sarkofagus Yaroslav the Wise dibuka. Pejabat Soviet telah membuka tutupnya pada tahun 1936 untuk memeriksa isinya dan membuka kembali ruang bawah tanah pada tahun 1939. Dua kerangka di dalamnya, satu laki-laki, satu perempuan, dibawa ke Leningrad yang sekarang menjadi St. Petersburg. Di tempat ini para ilmuwan memberi penanggalan karbon pada tulang-tulang tersebutyang menyebut abad ke-11.

St. Sophia Kiev/Britania School

Jenazah itu kemudian dikembalikan ke Kyiv dan disimpan di St. Sophia, dengan rencana untuk dipajang di depan umum. Pada 10 September 2009 Kukovalska dan timnya kemudian akan membuka peti kayu dengan panjang kira-kira 1 meter. Saat sebuah derek mengangkat tutup batu seberat dua ton, keluar bau yang menyengat. Di laboratorium Kyiv, Kukovalska dan rekan-rekannya menemukan kerangka yang hampir lengkap di dalam kotak, sisa-sisa seorang wanita yang diduga adalah Ingegerd, istri kedua Yaroslav, yang cocok dengan deskripsi kerangka wanita yang dibawa ke Leningrad pada tahun 1939. Tetapi Jenazah Yaroslav telah menghilang.

“Saya benar-benar terkejut,” kata Kukovalska. “Saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya akan melakukan semua yang saya bisa untuk menemukan kebenaran dan menjelaskannya kepada semua orang Ukraina.”

Dia kemudian memilah-milah catatan arsip dan mewawancarai orang Ukraina di luar negeri. Kukovalska mengumpulkan narasi yang berasal dari Perang Dunia II. Dia juga menganalisa sejumlah informasi yang beredar di dalam gereja Ortodoks dan orang Ukraina lainnya yang mengungsi akibat perang.

Kerangka yang hampir lengkap ditemukan pada tahun 2009 di sebuah kotak kayu dari dalam sarkofagus Yaroslav the Wise. Itu dianggap sebagai sisa-sisa istri kedua Yaroslav./: IRINA TRUSH

Diambil Nazi

Setelah pasukan Nazi menduduki Kyiv pada September 1941, banyak pendeta Ortodoks Ukraina di pengasingan dari rezim Soviet kembali. Dua tahun kemudian, ketika tank-tank Soviet mendekat dari timur dan  para pendeta melarikan diri.

Sebuah buletin berbahasa Ukraina tahun 1954 yang ditemukan  Kukovalska mengatakan bahwa tentara Nazi telah mengambil jenazah Yaroslav the Wise dari Kyiv sebelum kedadatangan Soviet. Dalam buletin tersebut, seorang uskup senior di Gereja Ortodoks Ukraina Kanada dan seorang sejarawan gereja terkemuka menulis bahwa tulang-tulang itu telah dibundel dengan ikon St. Nicholas the Wet dari abad ke-11. Barang itu telah digantung di Katedral St. Sophia selama hampir seribu tahun.

Artikel itu menyebutkan kedua barang itu dimiliki oleh seseorang di New York yang mengklaim bahwa barang-barang itu berada di tangan yang tepat.

Artikel lain muncul di majalah Ukraina-Amerika dari tahun 1967 juga  mengarah ke Amerika. Petro Odarchenko, seorang ahli bahasa dan sejarawan yang selamat dari pendudukan Nazi di Kyiv menulis bahwa pemimpin agama senior di St. Sophia di bawah Nazi telah memberikan tulang tersebut ke mayor Jerman yang membawanya ke Warsawa.

Di sana petugas menyerahkan tulang-tulang itu kepada seorang pendeta Ukraina yang kemudian membawanya ke Amerika. Barang itu diyakini dimiliki oleh Uskup Agung Palladius hingga hari ini.

Catatan tersebut tidak memberikan bukti yang menguatkan dan kedua penulis sudah lama meninggal pada saat Kukovalska membaca karya mereka. Kontaknya di New York mengidentifikasi Palladius, pendeta yang disebutkan dalam artikel   sebagai Pastor Pallady Rudenko. Seorang pemimpin gereja Ukraina yang berimigrasi ke Amerika setelah perang.

Pada tahun 1961 di New York, Pastor Pallady memimpin pembelian sebuah bangunan tua tahun 1899 di bagian Williamsburg di Brooklyn yang sebelumnya berfungsi sebagai gedung pengadilan dan bank. Tempat itu kemudian diubah menjadi Gereja Ortodoks Ukraina Tritunggal Mahakudus.

Nelia Kukovalska di Holy Trinity Gereja Ortodoks Ukraina di Brooklyn dekat ikon St. Nicholas the Wet, terakhir terlihat di St. Sophia di Kyiv selama Perang Dunia II.

Pencarian ke Amerika

Pada musim gugur 2010, beberapa dekade setelah kematian Pastor Pallady,  Kukovalska melakukan perjalanan ke New York dan tiba di Holy Trinity yang terletak di bawah bayangan Jembatan Williamsburg. Tidak jauh dari Peter Luger Steak House.

Begitu masuk, dia mengenali sebuah benda yang tergantung di dinding, ikon St. Nicholas the Wet. Benda yang terakhir terlihat di St. Sophia di Kyiv selama Perang Dunia II.

Kukovalska mengatakan Pendeta di Gereja Holy Trinity  bagaimanapun terkejut ketika ditanya tentang jenazah Yaroslav. Dia mengatakan bahwa karena presiden Ukraina pada saat itu, Viktor Yanukovych, memelihara hubungan dekat dengan Moskow para pemimpin gereja New York mungkin khawatir bahwa jika jenazah dipulangkan ke Ukraina, akan jatuh ke tangan Rusia. Pastor Victor Vronsky, ketua gereja menolak berkomentar saat ditanya oleh Wall Street Jorunal. Begitu pula Gereja Ortodoks Ukraina amerika yang memiliki otoritas atas gereja Brooklyn.

Setelah Yanukovych melarikan diri dari Ukraina di tengah kerusuhan politik dan sosial pada tahun 2014, Rusia mengambil alih Krimea dan mendukung pemberontakan di timur Ukraina. Setelah itu Pemerintah Ukraina yang baru memberikan dorongan lebih lanjut untuk mencari relik tersebut.

Presiden baru Petro Poroshenko mengajukan kasus dengan otoritas ekumenis Kristen Ortodoks di Istanbul untuk memberikan pemerintahan kepada Gereja Ortodoks Ukraina, dan melepaskannya dari kesetiaan selama berabad-abad kepada Gereja Ortodoks Rusia.

Poroshenko juga menugaskan stafnya untuk menemukan dan mengambil jenazah Yaroslav.   Pejabat Ukraina termasuk  Kukovalska menghubungi agen Interpol dan Biro Investigasi Federal yang berspesialisasi dalam kejahatan terkait artefak.

Pada tahun 2016 kantor Poroshenko menulis surat kepada Departemen Kehakiman Amerika untuk meminta bantuan, mengklaim memiliki bukti bahwa tulang-tulang itu dimiliki oleh gereja Williamsburg. Surat itu memperingatkan risiko besar hilangnya relik.

Banding Ukraina akhirnya mencapai kantor Departemen Keamanan Dalam Negeri di New York. Pada suatu pagi di musim gugur tahun 2017, tiga agen DHS muncul di katedral Brooklyn yang berbeda, Gereja Ortodoks Rusia Holly Trinity di New York Timur. Mereka menggeledah gereja,  memeriksa buku-buku liturgis dan etalase yang berisi sisa-sisa Herman dari Alaska, santo pelindung Ortodoks Rusia di Amerika Utara.

Penyelidik DHS tidak menemukan apa pundan agen tersebut menolak untuk membuka kasus tersebut secara resmi. Dia menolak mengatakan apakah penyelidik menggeledah gereja Williamsburg. FBI dan Departemen Luar Negeri Amerika juga menolak berkomentar.

Moskow semakin khawatir dalam beberapa tahun terakhir bahwa Ukraina bergerak lebih dekat ke Barat dan melampaui pengaruh Rusia. Presiden Ukraina saat ini,  Zelensky telah menindak para politisi dan media pro-Rusia hingga memberikan Kremlin lebih sedikit pengaruh pada politik domestik Ukraina.

Zelensky juga telah mendesak pencarian tulang belulang Yaroslav dengan pemerintahnya tetap berhubungan dengan Washington dan komunitas Ukraina di Amerika dan di tempat lain. Mereka akan terus mencari tulang belulang Yaroslav untuk membuktikan sejarah yang sebenarnya.

Berita Terkait