Kondisi Ketenagakerjaan AS Memburuk, Stimulus The Fed Terus Berlanjut?

06 September 2021 10:48 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Editor: Amirudin Zuhri

Joe Biden saat kampanye di Detroit, Michigan, Amerika Serikat, Senin (9/3/2020).

JAKARTA – Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) melaporkan non farm payrolls (NFP) pada Agustus 2021 anjlok dibandingkan bulan sebelumnya. NFP pada Agustus tercatat hanya mencapai 235.000 atau jauh di bawah Juli 2021 yang menembus 1,05 juta.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan kondisi ini semakin menekan bank sentral AS untuk terus memberikan stimulus. Pasalnya, stimulus berupa pembelian obligasi pemerintah itu menjadi asupan dan untuk program pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam.

Imbasnya, pelaku pasar ikut ragu terhadap arah kebijakan tapering off The Fed yang dicanangkan pada tahun ini. “Kepastian sih tetap di tangan the Fed. Tapi dengan adanya pemburukan situasi tenaga kerja menjadi pertimbangan untuk menahan pelonggaran lebih lama.,” ucap Ariston kepada TrenAsia.com, Senin, 6 September 2021.

Data NFP pada Agustus 2021 bahkan tidak melebihi survey yang dilakukan Bloomberg dan Reuters yang sebesar 733.000 dan 570.000. Di sisi lain, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan tingkat pengangguran berada di level 5,2% pada bulan lalu.

Sebanyak 5,6 juta orang dilaporkan tidak bisa bekerja karena pandemi COVID-19 pad Agustus atau naik dari sebelumnya 5,2 juta pada Juli 2021.

Enggannya pelaku usaha untuk membuka lapangan pekerjaan, kata Ariston, juga menjadi sinyal tingkat suku bunga acuan masih akan ditahan The Fed. Tingkat suku bunga rendah 0%-0,25% yang diterapkan hingga kini disebut jadi penopang ekonomi di AS.

Pelaku Usaha Menahan Diri

Selain dari aspek perekonomian, merebaknya varian baru COVID-19 delta diyakini menjadi alasan pelaku usaha di AS menahan untuk membuka lapangan kerja baru. Walhasil, Ariston menilai kondisi ketenagakerjaan di negara adikuasa ini semakin tertekan.

“keraguan ke pasar soal waktu pelaksanaan kebijakan pengetatan moneter AS ke depan, baik tapering ataupun kenaikan suku bunga,” ucap Ariston.

Meski Tapering Off The Fed tidak kunjung ada kepastian, Bank Indonesia (BI) rupanya telah mengambil ancang-ancang. Bahkan, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan efek tapering off tidak bakal terlalu mengguncang pasar keuangan di dalam negeri.

“Kami sudah antisipasi sejak Februari 2021, insyaallah dampaknya tidak sebesar taper tantrum 2013,” jelas Perry dalam konferensi pers belum lama ini.

Melambungnya cadangan devisa, kata Perry, menjadi alasan di balik kesiapan Indonesia mengantisipasi tapering off. “Ini sudah lebih dari cukup,” tegas Perry.

BI mencatat cadangan devisa pada Juli 2021 mengalami kenaikan sebesar US$2 juta selama sebulan terakhir. Posisi cadangan devisa Indonesia merangkak dari U$137,1 miliar atau setara Rp1.968,70 triliun (asumsi kurs Rp14.259,60 per dolar Amerika Serikat) pada Juni menjadi US$137,3 miliar atau Rp1.971,57 triliun pada Juli 2021.

Berita Terkait