Kode Broker Saham Ditutup: Bandar Untung, Investor Ritel Buntung

14 Januari 2022 07:00 WIB

Penulis: Gloria Natalia Dolorosa

Editor: Gloria Natalia Dolorosa

Chairul Tanjung dan Putri Tanjung menghadiri pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Selasa, 11 Januari 2022. (Instagram @putri_tanjung)

JAKARTA - Pro kontra penutupan kode broker saham mencuat lagi. Warganet ramai membahas kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut setelah Putri Tanjung, anak taipan Chairul Tanjung, mengunggah foto di akun Instagramnya. 

Saat itu, 11 Januari 2022, Putri dan ayahnya menghadiri pembukaan perdagangan di BEI. Mereka berfoto dilatari papan perdagangan bursa yang memuat data transaksi saham. Tampak biasa saja. 

Tapi ketika melihat lebih cermat, terpampang kode broker saham. Padahal, sejak 6 Desember 2021 BEI memutuskan untuk menutup kode broker. Alhasil, investor tidak bisa lagi mengetahui siapa buyer, siapa seller

Cemas Ditinggal Cuan

Penutupan kode broker membuat cemas investor ritel/trader . Bagaimana tidak cemas? Investor ritel/trader yang biasanya bertransaksi dengan cara mengikuti perilaku investor lain -- biasa disebut herding behavior -- kehilangan strategi. Dan, tentu saja mereka berpotensi kehilangan kesempatan menghasilkan cuan. 

Kecemasan ini terlihat dari pembicaraan warganet di Twitter. Sepanjang 6 Desember 2021 (dimulainya penutupan kode broker) hingga 13 Desember 2022, muncul 296 tweets yang membahas kode broker. Frasa "kode broker" menjadi kata kunci dalam memonitor seluruh pembicaraan tersebut. 

Dari 299 tweets tersebut, 153 tweets (51%) membahas soal kasus munculnya kode broker saham di papan perdagangan BEI pada 11 Januari. Sementara, sebanyak 146 tweets (49%) membicarakan soal kebijakan penghapusan kode broker saham. Dapat disimpulkan, pembicaraan kasus tampilan kode broker saham 11 Januari lalu dominan.  Menilik 146 tweets soal kebijakan BEI menghapus kode broker, apa yang sesungguhnya dibicarakan warganet? Sebanyak 44% tweets mengupas soal kebijakan BEI menghapus kode broker. Sebagian besar tweets ini berasal dari akun media massa.

Berikutnya, 23% tweets membahas pengaruh penutupan kode broker terhadap perilaku investor dan strategi sekuritas. Kelompok tweets ini juga membicarakan soal nilai transaksi saham di BEI turun pasca-penghapusan kode broker diberlakukan. 

Memang lebih banyak tweets tentang kebijakan penutupan kode broker. Namun, sebagian kecil pembicaraan yang memprotes kebijakan itu (23%) tentu tidak bisa diabaikan. Mereka seperti kehilangan arah karena tidak tahu lagi mesti menggunakan taktik macam apa untuk bertransaksi saham. Sebab, biasanya mereka menyontek perilaku transaksi broker. 

Ambil contoh, sebuah akun mengetwit bahwa ia sangat kecewa atas kebijakan penutupan kode broker dan menilai transparansi perdagangan saham kian minim. Akun lain menyebut kebijakan itu memukul investor ritel sehingga sulit sekali bagi ritel mencari uang di saham. Lainnya menilai BEI berpihak pada bandar, market mover, dan investor kelas kakap. 

Krisis Kepercayaan 

Saat foto Putri Tanjung terunggah di media sosial, warganet semakin yakin bahwa kebijakan penutupan kode broker memang menunjukkan keberpihakan BEI pada bandar dan investor kelas kakap. Ritel tidak dapat melihat kode broker, tetapi investor besar seperti Chairul Tanjung bisa leluasa melihat kode broker. Sebuah privilege bagi bandar dan investor besar. Sampai-sampai, ada akun yang menyebut "... investor ritel merencanakan, bandar yang menentukan." Ritel buntung, bandar dan investor besar untung. 

Pada periode 11-13 Januari 2022, tweets warganet bukan lagi bernuansa cemas seperti pada hari-hari sebelumnya. Tweets warganet cenderung tidak percaya pada BEI. Pertanyaan soal keberpihakan BEI ke bandar dan investor besar seperti terkonfirmasi benar ketika papan perdagangan BEI 11 Januari lalu menampilkan kode broker. Bahkan sebuah akun mengetwit ingin pindah ke cryptocurrency karena transaksi saham tidak lagi mengasyikkan. Akun lain menduga tampilan kode broker bakal dikomersilkan di masa mendatang. 

Berita Terkait