Kisah Para Konglomerat (Serial 1): Michael Bambang Hartono, Dari Pabrik Mercon Sampai Jadi Paling Kaya

26 April 2021 07:07 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Michael Bambang Hartono adalah konglomerat paling kaya di Indonesia selama 10 tahun berturut-turut, bersama adiknya Budi Hartono sebagai pemilik Grup Djarum. / Istimewa

JAKARTA – Michael Bambang Hartono, taipan asal Kudus, Jawa Tengah lagi-lagi menyabet gelar sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia pada 2021 versi Majalah Forbes 2021. Menempati urutan kedua, kekayaan Michael hanya mampu dikalahkan oleh satu orang saja.

Lalu siapa orang terkaya nomor wahid di Tanah Air? Tak lain tak bukan, konglomerat tersebut adalah adik Michael sendiri yakni Robert Budi Hartono. Tak main-main, Hartono bersaudara tercatat sudah menduduki singgasana berlabel orang ‘tajir melintir’ secara berturut-turut selama 13 tahun.

Secara global, kekayaan Michael saat publikasi Forbes dirilis, ia berada di urutan 89 dengan total kekayaan sebesar US$19,7 miliar setara Rp286,5 triliun. Dari 100 orang terkaya, duo Hartono menjadi satu-satunya pengusaha yang berasal dari Asia Tenggara.

Total, terdapat 2.755 miliarder yang berasal dari berbagai negara bertengger dalam daftar orang paling kaya sedunia. Jumlah tersebut bertambah sebanyak 660 orang jika dibandingkan dengan tahun lalu. Dari jumlah 2.755 miliarder di dunia, 18 di antaranya adalah orang Indonesia. 

Melansir data Forbes terkini, Rabu, 21 April 2021 pukul 09.47 WIB, kekayaan Michael susut 0,95% atau senilai US$172 juta menjadi US$17,8 miliar.

Perusahaan Keluarga
Menara BCA. / Istimewa

Mengutip berbagai sumber, taring kekayaan keluarga Hartono memang didominasi dari dua bisnis utama yaitu rokok melalui PT Djarum dan perbankan yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Sejarahnya, bisnis keluarga konglomerat ini bermula dari sang ayah, Oei Wie Gwan, seorang Tionghoa yang merantau ke Nusantara.

Saat tiba di di Kudus, Jawa Tengah, Oei Wie Gwan mendirikan pabrik mercon cap “Leo”. Pabrik tersebut tercatat sukses hingga menjadi eksportir. Sayangnya, usahanya gulung tikar akibat kebakaran yang melanda kala itu.

Tak berlama-lama terpuruk, Oei Wie Gwan kembali memulai bisnis dengan membeli sebuah pabrik rokok kretek bernama Djarum Gramophon pada 21 April 1951. Di awal merintis usahanya, pabrik kretek tersebut hanya memperkerjakan 10 pegawai.

Dengan kondisi terbatas, Oei Wie Gwan bahkan ikut melinting rokok bersama dengan pegawainya. Lagi-lagi musibah kebakaran kembali meluluhlantakkan bisnis Oei Wie Gwan.

Setelah itu, Oei Wie Gwan meninggal dunia sebelum kembali menghidupkan lagi bisnisnya. Di tengah duka akibat kematian ayahnya, Michael dan Budi Hartono yang saat itu masih menjadi mahasiswa ekonomi di Universitas Diponegoro, Semarang, terpanggil untuk pulang dan melanjutkan perjalanan bisnis sang ayah.

Rokok Djarum
Landmark Kudus Kota Kretek. / Djarum.com

Dengan kekompakan dan kelihaian berbisnis duo Hartono, rokok Djarum kian berkembang pesat di tangan mereka. Berkat tangan dingin Hartono bersaudara, rokok Djarum sangat populer sebagai rokok kretek lintingan tangan yang berproduksi dalam jumlah besar.

Untuk mempertahankan kualitas, rokok kretek lintingan tangan dikerjakan secara manual oleh para pekerja. Hingga akhirnya, rokok Djarum mulai melakukan diversifikasi produk dengan menggunakan mesin pelinting rokok pada 1970.

Pada tahun itu pula, Djarum mendirikan Research and Development Center untuk keperluan pengembangan rokok dan juga langkah awal ekspor. Tak butuh waktu lama, dua tahun kemudian rokok Djarum sudah mampu menembus pasar global berkat kualitas rokoknya yang baik.

Tak hanya ekspor ke Asia, rokok Djarum juga sudah beredar di Amerika Serikat (AS) dan Australia. Pada 1981, produk Djarum Super diperkenalkan di AS. Sementara Djarum Special dikenalkan di AS pada 1983.

Dengan pasar yang makin luas, Djarum juga menambah varian produk melalui berbagai merek dagang khusus untuk pasar internasional, seperti Djarum Cherry, LA Menthol Lights, Djarum Menthol, LA Lights, Djarum Vanila, Djarum Black Supersmooth, dan Djarum Black Menthol Supersmooth.

Polytron, Penguasa Elektronik Era 90-an
Televisi premium dari Polytron ini dihargai Rp 36 juta / Istimewa

Tak puas dengan kesuksesan di industri tembakau, kakak beradik Hartono mulai kepincut industri lain. Pada 1978, mereka mulai berkecimpung di industri elektronik dengan memproduksi barang elektronik dengan merek dagang Polytron.

Kerap kali dianggap produk Jepang, Polytron nyatanya dapat mengambil hati konsumennya karena kualitas yang baik dengan harga yang kompetitif dengan merek lokal atau internasional lainnya. Kesuksesan Polytron tercermin dari penguasaan pangsa pasar perangkat elektronik audio sebanyak 50% pada 1990.

Praktis, Polytron menjadi merek elektronik nomor satu di Indonesia saat itu. Bisa ditebak, hangatnya sambutan pasar domestik membuat Hartono bersaudara kembali memperluas imperium bisnisnya.

Dua tahun kemudian, Polytron mulai merambah ke pasaran internasional dengan melakukan ekspor TV berwarna ke beberapa negara di Eropa. Memasuki era 2000-an, Polytron terus mengembangkan produknya untuk memproduksi perangkat-perangkat elektronik terbaru, seperti ponsel pintar pertama yang dirilis pada 2013.

Durian Runtuh BCA saat Krisis Moneter
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja. / Facebook @BankBCA

Majalah Forbes melaporkan, dua per tiga kekayaan Michael Hartono dan saudaranya bersumber dari investasi kepemilikan saham di BCA. Mulanya, Hartono bersaudara mengambil alih saham perseroan dari tangan Salim Grup yang tengah goyang selama krisis ekonomi 1997-1998.

Transaksi tersebut ibarat durian runtuh bagi keluarga Hartono. Jika bukan karena krisis moneter, Hartono barangkali tidak membeli BCA yang sejatinya pada masa Orde Baru tengah berjaya di tangan taipan Sudono Salim, ayah Anthoni Salim, pemilik Salim Grup.

Saat ini, Grup Djarum melalui PT Dwimuria Investama Andalan memiliki saham di BCA sebanyak 54,94%. Sementara sebanyak 45,06% sisanya, dilepas ke publik.

Pada perdagangan hari ini, kapitalisasi pasar emiten bersandi saham BBCA ini mencapai Rp768,62 triliun dengan harga saham per lembarnya dibanderol Rp31.025 per saham.

Sosok Bersahaja
Konglomerat Michael Bambang Hartono saat menyantap makanan di warung tahu / Istimewa

Di balik gemerlapnya harta kekayaan Michael, siapa sangka kalau pria berusia 81 tahun ini sempat menghebohkan publik karena tertangkap kamera tengah menyantap penganan di pinggir jalan. Pada 2019, Senior Manager Corporate Communications PT Djarum, Budi Darmawan membenarkan foto viral mirip Michael sedang makan di warung tahu.

Ia tak menyangkal, bosnya itu memang memiliki selera makan yang sederhana. Salah satu kuliner favoritnya adalah Tahu Pong di Semarang. Selain itu, Michael juga gemar masakan tanah kelahirannya, seperti soto Kudus, opor Sunggingan, Soto Kerbau, dan lain-lain.

Selain sukses di dunia bisnis, Michael juga berhasil menorehkan prestasi di bidang olah raga cabang bridge dalam gelaran Asian Games 2018. Sebagai peraih medali perunggu, Michael mendapat bonus Rp250 juta tanpa potongan pajak sebagai bentuk apresiasi. Michael menyatakan seluruh bonus bakal diberikan kepada organisasi.

Kecintaannya terhadap olah raga juga dibuktikan melalui Perkumpulan Bulu Tangkis Djarum yang resmi berdiri pada 1969. Awalnya perkumpulan ini didirikan hanya sebagai kegiatan penyaluran hobi bagi karyawan pabrik rokok Djarum di Kudus. Namun, pada tahun 1969, akhirnya yang ikut berlatih bukan hanya karyawan, melainkan juga pemain dari luar. (SKO)

Artikel ini merupakan serial laporan khusus yang akan bersambung terbit berikutnya berjudul “Kisah Para Konglomerat.

Berita Terkait