Kinerja Moncer Usai Merger, Pelindo Sumbang Laba BUMN Rp3,2 Triliun pada 2021

25 Juni 2022 17:10 WIB

Penulis: Agnes Yohana Simamora

Editor: Laila Ramdhini

Suasana bongkar muat di area PT IPC Petikemas, Tanjung Priok 2, Jakarta, Selasa, 26 Oktober 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (TrenAsia)

JAKARTA – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatat kinerja positif tahun 2021 pascamerger. Pengelola pelabuhan pelat merah ini berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp3,2 triliun, naik dibandingkan dengan perolehan tahun 2020 sebesar Rp3 triliun.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan nilai laba bersih tersebut turut menyumbang peningkatan laba BUMN tahun 2021 yang mencapai Rp126 triliun, atau meningkat sebesar 869% dari laba tahun 2020.

"Pencapaian positif Pelindo pada 2021 ini sejalan dengan program merger yang telah dijalankan pada Oktober 2021 lalu, di mana perseroan telah bukukan pendapatan usaha senilai Rp 28,8 triliun, naik dibandingkan pendapatan usaha 2020 yakni sebesar Rp 26,6 triliun," kata Erick, dikutip dari keterangan resmi, Sabtu, 25 Juni 2022.

Selain itu, Pelindo juga memberikan kontribusi pada negara melalui setoran dividen, konsesi, Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan Pajak Bumi Bangunan (PBB) dengan nilai total Rp 4,7 triliun pada tahun buku 2021.

Di kesempatan yang sama, Group Head Sekretariat Perusahaan Pelindo Ali Mulyono mengatakan salah satu fokus utama Pelindo pascamerger adalah transformasi operasional pada kluster petikemas melalui standardisasi dan sistemisasi pelabuhan.

Alhasil, selama hampir delapan bulan pascamerger terdapat peningkatan kinerja dan produktivitas di sejumlah pelabuhan. Adapun peningkatan produktivitas bongkar muat diukur dengan parameter boks per kapal per jam (BSH) dan pengurangan port stay atau waktu sandar kapal di pelabuhan yang diukur dengan jumlah hari.  

Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan mencatat kenaikan jumlah bongkar muat hingga lebih dari dua kali lipat dari 20 boks per kapal per jam menjadi 45 boks per kapal per jam. Kecepatan bongkar muat itu membuat waktu sandar kapal dapat berkurang menjadi setengahnya, dari dua hari menjadi hanya satu hari.  

Kemudian, di TPK Makassar, kecepatan bongkar muat dari 20 BSH menjadi 42 BSH dan waktu sandar juga bisa berkurang dari 2 hari menjadi 1 hari. Sejalan dengan TPK Makassar, Terminal Makassar New Port juga mengalami peningkatan kecepatan bongkar muat dari 20 BSH menjadi 39 BSH dengan standar waktu sandar yang berkurang dari 2 menjadi 1 hari.

Bagi Pelindo, semakin pendeknya waktu sandar dan kecepatan bongkar muat membuat biaya operasional semakin efisien yang tergambar dalam kinerja kuartal I-2022, dengan perolehan laba bersih mencapai Rp670 miliar, atau meningkat 46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Berita Terkait