Kinerja Kian Ciamik, Adi Sarana (ASSA) Buka Peluang IPO AnterAja

08 September 2021 09:30 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Sukirno

Perusahaan jasa pengantaran logistik PT Tri Adi Bersama (AnterAja), anak usaha PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) / Dok. AnterAja

JAKARTA – Kinerja anak usaha PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) kian cemerlang. Bahkan, sepanjang semester I-2021, AnterAja menjadi penopang utama pendapatan perseroan.

Berkembangnya AnterAja kemudian menimbulkan pertanyaan, apakah ASSA telah menyiapkan langkah untuk melakukan penawaran umum saham perdana (intial public offering/ IPO) anak usahanya tersebut.

“Sudah banyak yang minat dan bertanya kapan AnterAja IPO, tapi kami tidak mau buru-buru. Kami mau bangun dulu volumenya,” kata Presiden Direktur ASSA, Prodjo Sunarjanto dalam Public Expose 2021, Selasa 7 September 2021.

Ia mencontohkan, perusahaan pengiriman lain seperti SiCepat dan J&T yang lebih dulu memiliki volume besar. “SiCepat itu mungkin delivery-nya kira-kira 1,2 juta parcel per hari. Itu valuasinya sudah sekitar US$744 juta. Kemudian J&T dengan valuasi US$5 miliar.”

Target terdekat AnterAja saat ini adalah mencapai volume pengiriman 2 juta parcel per hari dalam dua tahun mendatang. Setelahnya, ASSA akan melihat bagaimana propspek AnterAja untuk IPO.

Kendati belum sebesar perusahaan pengiriman logistik lainnya, namun pertumbuhan AnterAja sudah menunjukkan hasil positif. 

Pada semester I-2021, laba bersih Adi Sarana melonjak 68,9% year on year (yoy) menjadi Rp73 miliar dari periode sebelumnya sebesar Rp43 miliar. Selain itu, pendapatan ASSA juga tumbuh dobel digit sebesar 50,4% yoy menjadi Rp2,11 triliun dari semula Rp1,40 triliun.

Jika dirinci, pendapatan Adi Sarana didominasi oleh segmen jasa pengangkutan (ekspres) alias AnterAja. Selama enam bulan pertama 2021, Anteraja  menyumbang pendapatan senilai Rp982,3 miliar atau 47% dari total pendapatan perseroan.

Pendapatan terbesar kedua disumbang oleh segmen rental kendaraan, autopool, dan pengemudi. Segmen ini berkontribusi sebesar Rp795 miliar atau 38% dari total pendapatan.

Selanjutnya segmen penjualan kendaraan bekas senilai Rp180,8 miliar (9%), jasa lelang Rp87,5 miliar (4%), dan logistik Rp64,5 miliar (3%).

Berita Terkait