Kinerja Jeblok Ditelan Corona, Cuan Emiten Rokok Sirna

JAKARTA – Pelaku industri hasil tembakau (IHT), mulai dari skala produksi rumahan sampai perusahaan multinasional kompak berteriak sesak napas sepanjang paruh pertama 2020.

Bak pepatah: sudah jatuh tertimpa tangga, kehadiran pandemi COVID-19 tak ayal membuat nasib IHT makin nelangsa setelah baru saja terkena kenaikan cukai yang eksesif.

Belum selesai dengan kenaikan tahun ini, wacana peningkatan tarif cukai hasil tembakau (CHT) 2021 sudah santer terdengar. Pemerintah berencana menjadikan CHT sebagai salah satu instrumen andalan untuk menggenjot penerimaan negara tahun depan.

Dalam APBN 2021, penerimaan kepabeanan dan cukai diekspektasikan masih mampu tumbuh hingga 3,8% secara tahunan (year-on-year/yoy). Lebih rinci, CHT ditargetkan naik 4,8% dari Rp164,9 triliun menjadi Rp172,76 triliun.

Ilustrasi perkebunan tembakau / Foto: Balittas.litbang.pertanian.go.id
Satu Suara

Hantaman bertubi-tubi ini ditanggapi seragam oleh berbagai lapisan pelaku IHT. Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman–Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Jawa Timur (PD F SPRTMM–SPSI Jatim) berharap pemerintah tidak mengerek tarif cukai rokok pada 2021. Hal ini untuk menjaga agar kinerja di sektor IHT tetap terjaga di masa pandemi COVID-19.

“Di tengah kenormalan baru, seharusnya pemerintah tidak menerbitkan kebijakan yang menghambat recovery industri,” kata Ketua PD F SPRTMM–SPSI JATIM, Purnomo dalam pesan WhatsApp kepada TrenAsia.com belum lama ini.

Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Surabaya Sulami Bahar menilai penaikkan cukai akan berpengaruh terhadap pemulihan industri tembakau. Dia juga memerkirakan kenaikan cukai dengan rerata sebesar 23% yang berlaku tahun ini berpotensi mengurangi serapan tenaga kerja hingga 26%.

Dengan kalkulasi tambahan akibat pandemi, Sulami memperkirakan penurunan produksi rokok dapat mencapai 40%. “Dengan adanya kenaikan cukai, produksi kami turun hingga 15 persen, ditambah lagi dengan COVID-19, kami prediksi akan turun 40 persen,” kata Sulami.

Tidak hanya dirasakan IHT berskala kecil dan menengah, perusahaan kakap multinasional juga tak kalah sengsara. Presiden Direktur PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), Mindaugas Trumpaitis menyatakan bahwa pandemi telah mengubah iklim industri rokok secara umum.

Iklim yang berubah mulai dari jumlah produksi, serapan bahan baku, hingga pergeseran preferensi perokok ke produk rokok yang lebih murah. HM Sampoerna mencatat turunnya konsumsi produk dengan tingkat pajak golongan V1 disebabkan oleh daya beli konsumen yang lesu.

Dengan demikian, masyarakat memilih untuk mengganti jenis rokoknya ke produk yang lebih murah (tingkat pajak golongan V2 dan golongan V3). Kondisi tersebut membuat emiten bersandi saham HMSP itu harus menyesuaikan permintaan pasar yang berubah.

“Sebagai contoh, kami meluncurkan produk SKM (sigaret kretek mesin) tar tinggi untuk merespons pergeseran permintaan ke produk tar yang lebih tinggi,” kata dia.

Ilustrasi rokok linting / id.quora.com
Diet Hingga Tingwe

Untuk membuktikan pernyataan pengusaha rokok, TrenAsia.com mewawancarai sejumlah perokok aktif yang berlatar pekerjaan dan penghasilan berbeda.

Rahman, seorang medical representative sebuah perusahaan farmasi mengaku tidak mengalami pemotongan gaji. Namun, pendapatannya berkurang setengah karena insentif penjualan produknya terjun bebas selama pandemi.

Jika gaji pokok dikalkulasi dengan insentif, pendapatan Rahman biasanya selalu mencapai dua digit per bulan. Tapi apa daya, tergerusnya pendapataan saat ini memaksa Rahman harus diet rokok dari sebelumnya bermerek Marlboro menjadi Lucky Strike yang harganya murah.

“Mau enggak mau, ganti. Yang paling mirip rasanya ya Lucky Strike. Marlboro-nya dijatah sebulan hanya sekali,” kata Rahman.

Meski diet, Rahman tidak mengurangi jumlah batang yang dikonsumsinya. Hanya saja, dia mengganti rokoknya dengan yang lebih murah.

Berbeda dengan Rahman, Jati, karyawan pabrik dengan gaji mentok upah minimum provinsi (UMP) Jawa Barat bahkan lebih jauh lagi. Jati benar-benar harus mengurangi jumlah konsumsi rokoknya.

Padahal, dia juga sudah beralih ke rokok yang murah. Bahkan, dia sesekali membeli tembakau kiloan dan kertas papir untuk stok jika memang sudah tidak bisa membeli rokok kemasan.

“Kalau dulu sebungkus dua hari, sekarang harus bisa 3-4 hari. Kalau enggak tahan ya ngelinting sendiri,” tutur Jati.

Jati bercerita, teman-teman satu indekosnya juga melakukan hal yang sama dengan dirinya. Tak pelak, kebiasaan tingwe alias ngelinting dewe bukan lagi hal yang asing di lingkungannya.

Aktivitas pabrik rokok HM Sampoerna. / Istimewa
Momentum

Menariknya, Andi, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta yang bisa dikatakan tergolong berpenghasilan tinggi justru memiliki respons yang berbeda dengan dua pekerja sebelumnya. Jika yang lain turun ‘takhta’ ke rokok yang murah, Andi justru melihat kondisi saat ini menjadi momentum untuk berhenti merokok.

Sejak ada pandemi, Andi mengatakan tidak menurunkan level rokok yang dihisapnya, namun hanya mengurangi jumlah batangnya. Akan tetapi, alasannya bukan karena uang, melainkan kesehatan.

Andi berkisah sudah sejak lama dia berniat berhenti merokok namun tak pernah terealisasi karena tidak ada keadaan yang memaksa. “Sekarang justru pelan-pelan mengurangi, uangnya dialihkan ke investasi kesehatan saja,” terangnya.

Dari tiga narasumber tersebut terlihat bahwa klaim pabrik rokok yang merasakan penurunan permintaan dan pergeseran minat produk terbukti benar adanya.

Di sisi lain, ini juga mengamini riset yang menyebut bahwa perokok memang didominasi oleh masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.

Awak media mengamati monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin, 3 Agustus 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
Nasib 4 Emiten Rokok

Empat emiten rokok telah melantai di PT Bursa Efek Indonesia (BEI). PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) membukukan penurunan laba bersih paling dalam. Sedangkan, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) justru mendulang berkah luar biasa pada semester I-2020. Bagaimana tidak, laba bersih Wismilak meroket hingga ratusan persen.

Bagaimana kinerja keuangan dari masing-masing emiten rokok raksasa Indonesia? Berikut ringkasan kinerja empat perusahaan emiten rokok tersebut.

Produk rokok HM Sampoerna. / TrenAsia-Sukirno
1. HM Sampoerna (-27,91%)

Perusahaan rokok milik Philip Morris International, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) menjadi emiten rokok paling jeblok pada paruh pertama tahun ini. HM Sampoerna membukukan penurunan laba bersih sebesar 27,91% yoy dari Rp6,77 triliun menjadi Rp4,88 triliun pada semester I-2020.

Ciutnya laba HMSP tidak lepas dari penjualan rokok yang tergerus 11,79% dari Rp50,71 triliun menjadi Rp44,73 triliun pada enam bulan pertama tahun ini.

Penurunan paling dalam terjadi pada pos penjualan ekspor yang mencapai 25,44% dari Rp191,35 miliar pada tahun lalu menjadi Rp142,67 miliar pada tahun ini.

Sementara itu, penjualan lokal yakni segmen sigaret kretek mesin (SKM) tergerus 15,04% menjadi Rp30,5 triliun. Sigaret putih mesin (SPM) juga turun 20,95% menjadi Rp4,3 triliun.

Akan tetapi, pertumbuhan kinerja justru tercatat dari sigaret kretek tangan (SKT). Pada SKT ini, HM Sampoerna masih mampu naik tipis sebesar 6,85% menjadi Rp9,51 triliun.

Meski mampu menekan beban pokok penjualan sebesar 8,85% dari Rp38,39 triliun menjadi Rp34,99 triliun pada tahun ini, keuntungan perusahaan tetap mengalami penurunan.

“Pandemi COVID-19 juga telah mengakibatkan terganggunya kegiatan operasional perusahaan. Seperti penutupan sementara dua fasilitas produksi linting tangan, adaptasi kegiatan manufaktur, pengadaan barang, periklanan, dan promosi,” kata Presdir HMSP Mindaugas Trumpaitis.

Ilustrasi rokok Gudang Garam. / Gudanggaramtbk.com
2. Gudang Garam (-10,75%)

Emiten rokok milik orang terkaya ke-4 di Indonesia Susilo Wonowidjojo, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga tak lepas dari jeratan maut COVID-19. Kontraksi kinerja tercermin dari capaian laba bersih GGRM yang turun 10,75% dari Rp4,28 triliun menjadi Rp3,82 triliun per 30 Juni 2020.

Bersamaan dengan itu, laba kotor GGRM juga menyusut hingga 13% dari Rp10 triliun menjadi Rp8,7 triliun pada tahun ini. Sedangkan, pos penjualan mampu mencetak Rp53,7 triliun, naik 1,72% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp52,7 triliun.

Direktur & Corporate Secretary Gudang Garam Heru Budiman angkat suara terkait lesunya volume penjualan rokok. Tercatat, penjualan GGRM turun 8,8% yoy dari 46,6 miliar batang menjadi 42,5 miliar batang pada Juni 2020.

Penurunan paling banyak terjadi pada SKM LTN (SKM rendah tar nikotin) yaitu sebesar 45,6% menjadi 2,3 miliar batang.

Volume penjualan SKM FF (SKM full flavor) juga mengalami penurunan sebesar 6,6% menjadi 35,8 miliar batang. Sementara itu, volume penjualan SKT (sigaret kretek tangan) naik 7,5% menjadi 4,5 miliar batang.

Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan penjualan perseoran sebesar 1,7% menjadi Rp53,7 triliun disebabkan adanya kenaikan harga dan penurunan volume.

Berkenaan dengan pengaruh pandemi terhadap iklim bisnis IHT saat ini, GGRM mengakui COVID-19 menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan.

“Gudang Garam terus bersiaga dan memantau perkembangan situasi ini dengan seksama. Fokus kami adalah memastikan kualitas dan ketersediaan produk di pasar tetap terjaga serta mempertahankan posisi keuangan yang konservatif dan sehat,” kata Heru.

Ilustrasi rokok Bentoel (RMBA) / Bungkusrokok.com
3. Bentoel International (+56,53%)

Meski masih rugi, PT Bentoel International Investama Tbk (RMBA) harus berbangga dengan kinerja sepanjang semester I-2020. Bagaimana tidak, kerugian Bentoel berhasil menipis 56,53% dari Rp380,59 miliar menjadi Rp165,44 miliar.

Ada sejumlah faktor yang membuat kerugian betah dengan RMBA, salah satunya adalah kontraksi penjualan sepanjang paruh pertama 2020. RMBA membukukan penjualan sebesar Rp7,59, turun 25,73% dari tahun sebelumnya Rp10,22 triliun.

Pada saat yang bersamaan, RMBA mampu menekan beban pokok penjualan sebesar 25,31% dari Rp8,69 triliun menjadi Rp6,49 triliun pada Juni 2020. Sebab, biaya pita cukai dan PPN turun dari sebelumnya Rp6,28 triliun menjadi Rp4,35 triliun.

Selanjutnya, biaya bahan baku juga turun dari Rp2,09 triliun menjadi Rp1,54 triliun. Sedangkan biaya atau beban pabrikasi angkanya turun dari Rp402,83 miliar menjadi Rp397,31 miliar.

Namun, untuk biaya tenaga kerja langsung mengalami peningkatan tipis dari Rp35,57 miliar menjadi Rp48,11 miliar.

“Di tengah tantangan akibat kebijakan tarif cukai tersebut, dunia juga menghadapi tantangan lain akibat munculnya pandemi COVID-19 pada awal 2020 yang mengakibatkan menurunnya volume penjualan dan daya beli konsumen,” jelas manajemen RMBA dalam keterangan pers.

Oleh karena itu, RMBA berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan keberlangsungan industri tembakau, khususnya di tengah-tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

Produk rokok Wismilak / Wismilak.com
4. Wismilak (+410,06%)

PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) justru tengah berbahagia lantaran merekah seorang diri di antara gersangnya IHT saat ini. Bukan tanpa sebab, laba bersih WIIM malah meroket 410,06% dari Rp8,55 miliar menjadi Rp43,61 miliar pada Juni 2020.

Moncernya laba bersih perseoran ditopang oleh laris manisnya penjualan pada enam bulan pertama tahun ini. Hingga Juni 2020, Wismilak membukukan penjualan sebesar Rp829,26 miliar, naik 27,71% dari tahun sebelumnya Rp649,31 miliar.

Kendati demikian, beban pokok penjualan tercatat naik 27,41% menjadi Rp574,48 miliar. Begitu pula dengan beban usaha yang bengkak 8,13% menjadi Rp205,89 miliar.

Meski begitu, Wismilak tetap mampu mempertahankan kinerja keuangan yang positif pada semester I tahun ini.

Menanggapi kinerja luar biasa tersebut Sekretaris Perusahaan Wismilak, Surjanto Yasaputera, mengatakan panen cuan WIIM berasal dari produk-produk baru yakni Wismilak Satya dan Diplomat Evo pada rilis 2019.

Menjawab keluhan sepinya minat rokok mahal, produk baru WIIM sangat tepat sasaran menjangkau daya beli masyarakat yang lesu. Sebab, kedua produk tersebut memiliki harga yang terjangkau sehingga cenderung diminati oleh konsumen.

“Produk rokok yang kami luncurkan beberapa waktu terakhir ini berada dalam range (harga) yang cukup affordable sehingga bisa menjadi alternatif pengganti buat konsumen yang merasa rokok sebelumnya terlalu mahal harganya,” jelasnya. (SKO)

Tags:
cukai hasil tembakaucukai rokokemiten rokokGGRMHeadlineHm sampoernaHMSPindustri hasil tembakauindustri rokokkenaikan cukai rokokkinerja emitenkonglomeratlaba bersihPenjualan rokokPT Bentoel International Investama Tbk (RMBA)PT Gudang Garam TbkPT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbkpt wismilak inti makmur tbkrmbarokokwiim
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: