Kinerja 3 Emiten BPD 2020: Bank BJB Paling Gemilang, Bank Banten dan Bank Jatim Tumbang

November 04, 2020, 06:32 AM UTC

Penulis: Aprilia Ciptaning

Ilustrasi PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau Bank BJB / Dok. Perseroan

JAKARTA – Sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD) telah merilis kinerja keuangan pada kuartal III-2020. Siapa yang tumbang dan menang pada saat pandemi COVID-19?

Dari 26 BPD di Indonesia, baru tiga yang sudah go public. Ketiganya yaitu PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT BPD Jawa Timur Tbk (BJTM), dan PT BPD Banten Tbk. (BEKS).

Situasi pandemi rupanya menjadi pukulan berat bagi bank-bank tersebut. Meskipun Bank BJB masih mencatat pertumbuhan laba sebesar 6,1% year-on-year (yoy) pada periode ini, tetapi dua lainnya tak berhasil mempertahankan kinerja.

Sebaliknya, laba Bank Jatim mengalami kontraksi atau minus 4,3% yoy, bahkan Bank Banten justru membukukan peningkatan rugi bersih hingga 27,09% yoy dari kuartal III tahun lalu.

Begitu pun dengan penyaluran kredit, hanya BJBR yang mampu mencatat kenaikan sebesar 8,6% year-to-date (ytd). Sementara itu, kredit kedua bank lainnya sama-sama mengalami kontraksi.

Bank BJB
Paparan publik PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) atau Bank BJB / Dok. BJB

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) satu-satunya bank yang mencatat kinerja gemilang pada sembilan bulan pertama 2020.

Bank yang dipimpin oleh Yuddy Renaldi ini mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp1,2 triliun per kuartal III-2020.

Kendati kenaikannya tipis, laba tersebut masih tumbuh 6,1% yoy dibandingkan dengan Rp1,13 triliun per September 2019.

Selain itu, perseroan juga meraup pendapatan sebesar Rp9,1 triliun, meningkat 3,4% yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp8,8 triliun.

Penyaluran kredit secara bank only tumbuh 8,6% ytd, dari Rp81,8 triliun per akhir 2019 menjadi Rp88,9 triliun per Sepember 2020.

Hal ini diimbangi dengan penurunan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross, dari 1,75% menjadi 1,5%, sedangkan NPL net menjadi 0,45% dari periode sebelumnya 1%.

Begitu pun dengan dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun sebesar Rp109,3 triliun per kuartal III-2020.

Jumlah tersebut tumbuh cukup tinggi, yakni 30,8% ytd dari DPK per akhir 2019 sebesar Rp83,5 triliun.

Pada periode ini, aset BJBR juga tumbuh 19,4% ytd menjadi Rp147,5 triliun. Per akhir 2019, total aset perseroan tercatat Rp123,5 triliun.

Ilustrasi Gedung PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) atau Bank Jatim / Dok. Bank Jatim
Bank Jatim

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) pada periode ini mengalami kontraksi laba sebesar minus 4,3% yoy menjadi Rp1,09 triliun. Per September 2019, laba perseroan sebesar Rp1,14 triliun.

Meskipun demikian, BJTM masih membukukan pendapatan sebesar Rp4,4 triliun, naik 4,7% yoy dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019 yang sebesar Rp4,2 triliun.

Kredit perseroan hingga akhir September 2020 tercatat sebesar Rp36,7 triliun, turun tipis 0,5% ytd dibandingkan dengan akhir 2019 sebesar Rp36,9 triliun.

Rasio kredit bermasalah atau NPL gross naik tinggi, dari 2,89% menjadi 4,49%. Pun dengan NPL net dari 0,56% menjadi 1,85%.

Kemudian, DPK juga naik 15,5% ytd, dari Rp60,5 triliun per akhir 2019 menjadi Rp69,7 triliun selama sembilan bulan berjalan 2020.

Pun dengan aset yang berhasil dibukukan sebesar Rp82 triliun, meningkat 6,0% ytd dari Rp76,7 triliun per akhir 2019.

Bank Banten gelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2019 di Serang (17/7). (Kiri-kanan) Direksi Bank Banten Jaja Jarkasih (kiri), Komisaris Independen Titi Khoiriah (kedua kiri), Plt. Komisaris Utama Bank Banten Media Warman (ketiga kiri), Direktur Utama Bank Banten Fahmi Bagus Mahesa (ketiga kanan), Direksi Bank Banten Kemal Idris (kedua kanan), Sekretaris Perusahaan Bank Banten Chandra Dwipayana (kanan). / Bankbanten.co.id
Bank Banten

Kinerja PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS) tercatat paling ambruk pada periode ini.

Alih-alih meraup laba, perseroan justru merugi cukup dalam. Berdasarkan laporan keuangan BEKS, rugi bersih yang dialami perseroan mencapai Rp137,9 miliar.

Jumlah tersebut membengkak 27,09% yoy dari rugi bersih per September tahun lalu yang sebesar Rp108,5 miliar.

Sementara itu, pendapatan perseroan juga minus 27,7% yoy, dari Rp421 miliar menjadi Rp304 miliar pada periode ini.

Tak ada pertumbuhan, begitu pun dengan kredit yang hanya berhasil disalurkan Rp3,8 triliun, melambat 26,9% ytd dibandingkan dengan akhir 2019 sebesar Rp5,2 triliun.

Bahkan, rasio kredit perseroan juga meningkat tinggi. NPL gross tercatat sebesar 6,66% dari 5,01%, serta NPL net menjadi 4,6% dari yang sebelumnya 4,01%.

DPK juga merosot 23,6% menjadi Rp4,2 triliun per September 2020. Padahal per akhir tahun lalu perseroan masih menghimpun dana nasabah sebesar Rp5,5 triliun.

Adapun total aset BEKS pada periode ini juga turun 23,3% ytd, dari Rp8,09 triliun per akhir 2019 menjadi Rp6,2 triliun per September 2020. (SKO)