Kiamat Ritel (Serial 3): Kinerja Emiten Mode Vs Hypermart, Siapa Jawara dan Merana?

08 Juni 2021 07:07 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Pengunjung melintas di depan salah satu tenant pusat perbelanjaan yang menggelar diskon belanja Natal dan Tahun Baru di Mal Senayan City, Jakarta, Jum’at, 25 Desember 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Ujian besar tengah menguji sejumlah emiten ritel di dalam negeri. Jauh sebelum pandemi, hadirnya metode jual-beli daring melalui platform e-commerce mengancam bisnis ritel konvensional.

Setelah virus corona mewabah di Indonesia pada kuartal I-2020, para pelaku ritel makin kelimpungan. Tak lama setelah itu, gerai-gerai ritel tutup berjemaah. Kondisi ini bahkan berlanjut hingga sekarang.

Ancaman ini terutama dirasakan oleh emiten ritel dengan bisnis utama mode alias fesyen dan ritel grosir alias hypermarket. Hingga kuartal pertama 2021, tak sedikit perusahaan ritel dengan bisnis fesyen dan hypermarket mengalami penyusutan pendapatan hingga merugi.

Pandemi COVID-19 dan lesunya daya beli masyarakat memaksa mereka untuk menutup gerai-gerai yang ada. Selain itu, beberapa di antaranya memutar otak untuk mengalihkan model bisnis, dan sisanya merambah bisnis e-commerce dan omni-channel.

Jika emiten ritel dengan bisnis fesyen dan hypermarket terpukul pandemi, beda cerita dengan emiten ritel dengan bisnis minimarket. Emiten-emiten ini justru diuntungkan.

Fokus pada penjualan bahan pokok dengan jumlah gerai yang banyak dan cenderung lebih dekat dengan masyarakat, disinyalir menjadi keuntungan emiten minimarket di tengah pandemi COVID-19.

Nah, kali ini TrenAsia.com akan membedah kinerja keuangan sekaligus proyeksi sejumlah emiten ritel dari segala sektor bisnis sepanjang 2020 dan awal tahun 2021. Mana saja emiten yang tumbang dan berhasil bertahan? Simak ulasannya!

Nasib Ritel Fesyen
Ritel Ramayana Departement Store milik PT Ramayana Lestari Tbk (RALS) / Facebook @ramayanadepartementstroe

Dalam industri fesyen di Indonesia, biasanya dibagi dalam tiga layer sesuai dengan segmen pangsa pasarnya. Di antaranya segmen menengah ke bawah, segmen menengah, dan segmen menengah ke atas.

Untuk target pasar kelas menengah ke bawah, diwakili oleh emiten PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS). Sepanjang tahun 2020 dan tiga bulan pertama 2021, perseroan mencatat kinerja yang negatif.

Berdasarkan laporan keuangan tahun buku 2020, RALS membukukan total pendapatan sebanyak Rp2,53 triliun. Nilai ini anjlok sekitar 54,83% year-on-year (yoy) dibandingkan dengan pendapatan tahun sebelumnya Rp5,60 triliun.

Hal ini membuat perseroan berbalik rugi Rp138,87 miliar sepanjang tahun lalu. Pada tahun 2019, RALS masih mencetak laba tahun berjalan sekitar Rp647,90 miliar.

Minimnya aktivitas konsumsi pada segmen kelas bawah, membuat perseroan menutup 13 gerainya hingga melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada ratusan karyawan sepanjang tahun 2020.

Kondisi ini tak banyak berubah pada awal tahun 2021. Perseroan masih mencatat penurunan total pendapatan sebesar 46,41% menjadi Rp490,94 miliar pada kuartal pertama tahun ini. RALS juga mengalami kerugian sebesar Rp85,67 miliar dari untung Rp13,30 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Suasana pengunjung berbenja di Matahari Departement Store Mal WTC, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 20 Oktober 2020. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Selanjutnya, pada emiten fashion retail kelas menengah diwakili oleh PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Senada dengan RALS, kinerja keuangan emiten anak usaha Grup Lippo ini cukup memprihatinkan.

Sepanjang tahun lalu, perseroan menorehkan pendapatan bersih sebesar Rp4,84 triliun atau ambles 52,91% secara tahunan dari tahun sebelumnya dengan realisasi pendapatan hingga Rp10,28 triliun. Akibatnya, LPPF mencatat rugi bersih Rp873,18 miliar selama 2020 dari untung Rp1,37 triliun pada akhir 2019.

Pada tiga bulan pertama 2021, perseroan berhasil memperkecil penurunan pendapatan. Meskipun masih negatif, pendapatan LPPF pada Q1-2021 hanya turun 24,98% yoy menjadi Rp1,16 triliun. Total kerugian hanya naik tipis sekitar 1,49% secara tahunan dari Rp93,54 miliar menjadi Rp95,35 miliar.

Sementara itu, emiten ritel fesyen dengan pangsa pasar kelas menengah ke atas diwakili oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Sempat terpukul pada 2020, namun kinerja keuangan MAPI mulai menunjukkan perbaikan pada triwulan I-2021.

Melansir laporan keuangannya, pendapatan bersih perseroan turun 31,38% yoy menjadi Rp14,85 triliun per 31 Desember 2020 dari Rp21,64 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pada kesempatan yang sama, MAPI berbalik rugi Rp553,72 miliar dari sebelumnya untung Rp933,49 miliar di tahun 2019.

Sedangkan, sepanjang kuartal pertama 2021, pendapatan bersih perseroan hanya tergerus 8,66% menjadi Rp4,31 triliun dari periode yang sama tahun lalu dengan total pendapatan Rp4,72 triliun.

Berbeda dari RALS maupun LPPF, pada periode ini MAPI sukses mencatat pertumbuhan laba tahun berjalan mencapai 222,91% yoy dari Rp8,08 miliar menjadi Rp26,09 miliar.

MAPI jadi Juara Ritel Fesyen?
Pengunjung melintas di depan salah satu tenant pusat perbelanjaan yang menggelar diskon belanja Natal dan Tahun Baru di Mal Senayan City, Jakarta, Jum’at, 25 Desember 2020. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Dari ulasan tersebut, Analis Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Christine Natasya mengatakan bahwa MAPI memiliki keunggulan dalam segi pemilihan target pasar.

Pasalnya, konsumen dengan pendapatan menengah ke atas lebih tahan dalam menghadapi guncangan ekonomi dibandingkan dengan dua segmen lainnya.

Ia menjelaskan, meskipun pandemi dan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sempat berdampak pada performa perseroan, namun terjadi peningkatan store traffic yang mendorong pendapatan serta laba perseroan pada kuartal terakhir 2020.

“Hal ini sangat mengejutkan karena pada Desember 2020 pemerintah melakukan pengetatan PSBB sebelum libur Natal dan Tahun Baru. Namun pada akhir tahun lalu, MAPI justru mencatat pertumbuhan revenue hingga 38,5% dari kuartal sebelumnya,” kata Christine dalam program SuperStock, dikutip Senin 7 Juni 2021.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa MAPI memiliki tiga segmen bisnis, di antaranya retail sales atau specialty stores dengan merek produk kenamaan seperti ZARA, Pull&Bear, MANGO, Lacoste hingga Stradivarius.

Sedangkan, MAPI juga memiliki segmen bisnis department store, seperti SOGO dan Seibu. Kemudian, pada segmen bisnis food and beverages, perseroan memegang lisensi penjualan ritel atas produk Starbucks, Burger King, dan Domino’s Pizza.

“Menurut kami, MAPI akan memfokuskan bisnisnya pada higher profit specialty stores dibandingkan dengan segmen lainnya. Karena memang bisnis specialty stores milik MAPI ini memiliki komposisi pendapatan terbesar bagi perseroan,” tutur Christine.

Ia bilang, sebenarnya perseroan sendiri telah memfokuskan bisnisnya pada bisnis specialty stores sejak lima tahun terakhir. Hal ini sejalan dengan perubahan perilaku konsumen global yang lebih suka berbelanja produk fesyen secara spesifik daripada ke department store.

Starbuck, salah satu gerai yang dikelola oleh Mitra Adiperkasa. / Pixabay

Sejalan dengan hal tersebut, Chistine memperkirakan perseroan akan membukukan pertumbuhan pendapatan dobel digit untuk bisnis specialty stores MAPI, terutama dari lini bisnis anak usahanya, yaitu PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).

“Sebagai tambahan, MAPI melihat adanya potensi pada ranah elektronik sehingga mereka masuk ke bisnis ini pada tahun 2019 dengan mengakuisisi 18 Infitnite Store, toko yang menjual produk-produk Apple dan melakukan rebranding infitnite store menjadi Digimap,” tambahnya.

Tak mau ketinggalan dengan perkembangan bisnis melalui platform online, MAPI turut mengembangkan digital online shopping. Dengan website Mapemall dan situs mono-brand lainnya, Chistine meyakini perseroan akan bertahan dari ketatnya persaingan bisnis e-commerce di Tanah Air. MAPI juga telah bermitra dengan marketplace lainnya, seperti Lazada dan Zalora.

Dengan beberapa catatan tersebut, Chistine memproyeksikan pendapatan MAPI akan bertumbuh hingga 23,3% sepanjang 2021. Hal ini akan turut meningkatkan tingkat profitabilitas perseroan. Caranya, dengan menjaga jumlah barang yang akan diimpor serta menjaga alur kas.

“Karena memang di masa pandemi cash flow harus tetap dijaga, sehingga diperkirakan MAPI tidak akan mengalokasikan capital expenditure terlalu banyak di tahun ini,” papar Chistine.

Emiten Minimarket Lebih Tahan Banting
Gerai ritel Hypermart milik PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dari Grup Lippo / Lippomallkemang.com

Selain ritel fesyen, emiten dengan bisnis ritel berbasis hypermarket juga mengalami hal serupa. Sebagai contoh, emiten pengelola Hypermart, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan pengelola Giant, PT Hero Supermarket Tbk (HERO) babak belur dihantam corona.

Peliknya kondisi pandemi, memperpanjang daftar kerugian MPPA dan HERO. Kedua emiten ini dikabarkan melakukan PHK kepada sejumlah karyawannya. Bahkan, HERO banting setir, dengan menutup semua gerai Giant yang rencananya akan disulap menjadi IKEA.

Kendati begitu, bisnis ritel serupa dengan ukuran yang lebih kecil, justru menunjukan hal berbeda. Bisnis ritel berbasis minimarket seperti Alfamart yang dikelola PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan Alfamidi yang dikelola PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) tampak lebih tahan banting menghadapi pandemi.

Ketika sejumlah emiten tertekan, pendapatan bersih AMRT sepanjang tahun 2020 malah terkerek sekitar 3,95% menjadi Rp75,83 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp72,94 triliun. Namun laba bersih perseroan turun 4,59% yoy dari Rp1,11 triliun menjadi Rp1,06 triliun.

Pada periode yang sama, MIDI membukukan pendapatan neto senilai Rp12,66 triliun atau naik sekira 8,90% yoy dari Rp11,63 triliun selama tahun 2019. Di sisi lain, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk lebih rendah 1,37% yoy menjadi Rp200,27 miliar.

Setali tiga uang, Indomaret yang dioperasikan oleh PT Indomarco Prismatama turut memperlihatkan ‘tameng’ yang kuat di masa pandemi. Anak usaha PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) milik Grup Salim ini sukses mencatat kinerja positif sepanjang tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2020 yang dirilis DNET, lini bisnis Indomaret memperoleh penjualan bersih hingga Rp86,12 triliun. Nilai ini naik 5,28% dibandingkan dengan penjualan tahun sebelumnya, Rp81,80 triliun. Bahkan laba bersih komprehensif melonjak 35,20% yoy menjadi Rp1,51 triliun.

Dua ritel milik konglomerat Indonesia, yakni Alfamart dan Indomaret yang kerap berdampingan / Foto: Batamnews

Direktur PT MNC Asset Management, Edwin Sebayang mengamini bahwa emiten minimarket lebih mampu bertahan di kala pandemi, dibandingkan dengan emiten hypermarket. Mudah dijangkau masyarakat, serta ukurannya yang lebih kecil, menjadi alasan utama bisnis minimarket moncer.

“Alasannya karena size AMRT dan MIDI lebih kecil dan letak mereka strategis, seperti dekat dengan perumahan, perkantoran, dan lain sebagainya,” tulis Edwin kepada TrenAsia.com, melalui pesan singkat, Senin 7 Juni 2021.

Selain usaha minimarket, emiten ritel non-konsumer seperti PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES), dan PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) termasuk emiten yang tahan terhadap gempuran pandemi COVID-19.

Dari ulasan tersebut, bisnis apa dan emiten mana saja yang kira-kira akan tumbang dan berkembang? (SKO)

Artikel ini merupakan serial laporan khusus yang akan bersambung terbit berikutnya berjudul Kiamat Ritel.

  1. Kiamat Ritel (Serial 1): Deretan Perusahaan Ritel Tumbang Sebelum dan Setelah Pandemi
  2. Kiamat Ritel (Serial 2): Jurus Luring atau Daring Biar Kantong Tak Kering

Berita Terkait