Kiamat Ritel (Serial 2): Jurus Luring atau Daring Biar Kantong Tak Kering

04 Juni 2021 07:07 WIB

Penulis: Reza Pahlevi

Ilustras / Shutterstock

JAKARTA – Hadirnya situs-situs perdagangan elektronik (e-commerce) sebelumnya sempat digadang-gadang menjadi ancaman terbesar keberlangsungan bisnis ritel modern. Praktisnya berbelanja dari rumah dianggap dapat mengalahkan kebiasaan lama berbelanja langsung ke toko.

Pada awalnya, bisnis ritel sempat bertahan menghadapi gempuran situs-situs marketplace di Indonesia. Alasan konsumen yang masih butuh melihat barang langsung menjadi salah satu alasan mengapa ritel modern tetap moncer.

Sayangnya, pandemi COVID-19 pun membuat keadaan berbalik 180 derajat. Pembatasan sosial membuat gerai-gerai ritel membatasi pengunjungnya. Beberapa gerai yang berada di pusat perbelanjaan bahkan sempat tutup sementara pada April-Mei tahun lalu akibat adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan ritel modern berformat besar paling terdampak selama pandemi COVID-19.

“Formatnya yang besar berarti harga sewanya besar. Kalau jumlah pengunjungnya dibatasi dan pendapatannya turun, untuk bayar beban sewa saja sudah berat,” ujarnya kepada wartawan TrenAsia.com, Rabu, 2 Juni 2021.

Benar saja, ambil contoh ritel berformat hypermarket Giant milik PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mulai berguguran sejak 2020 lalu. Pada tahun ini, HERO berencana menutup Giant seluruhnya pada 31 Juli 2021 dengan beberapa gerai rencananya diubah menjadi lini bisnis lain HERO seperti Ikea dan Hero Supermarket.

Hal serupa menimpa PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Ritel departement store pertama kali buka sejak 1958 ini menutup 25 gerai miliknya sepanjang 2020. Hingga Mei 2021, Matahari tercatat menutup 13 gerai lagi. Meski begitu, Matahari milik konglomerat Grup Lippo Mochtar Riady ini masih dapat bertahan tanpa ada rumor penutupan seluruhnya seperti Giant.

Kondisi pandemi sekaligus perubahan tren berbelanja konsumen membuat pebisnis ritel memutar otaknya. Jika sebelumnya e-commerce dianggap saingan, kini peritel mulai melirik e-commerce sebagai teman. Mungkinkah hal itu terjadi?

Ritel go digital, untung atau buntung?
Suasana gerai Matahari Departement Store Mal WTC, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 20 Oktober 2020. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Baru-baru ini, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) atau yang lebih dikenal sebagai pengelola Hypermart mengumumkan hasil kolaborasinya bersama situs e-commerce Tokopedia yang sudah menghadirkan 95 toko virtual.

Director Corporate Secretary & Public Affairs MPPA Danny Kojongian mengatakan kerja sama ini dimulai sejak Desember 2020 dengan 23 gerai di Jabodetabek. Hingga Mei 2021, jumlah toko sudah mencapai 82 dan sampai detik ini sudah mencapai 95 toko di seluruh Indonesia.

“Dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif bulanan (Tokopedia), (kolaborasi ini) menempatkan MPPA sebagai perusahaan ritel makanan terbesar di platform online di Indonesia,” ujar Danny dalam keterangan resmi, Rabu, 2 Juni 2021.

Selain itu, MPPA juga memperkuat bisnis online-to-offline (O2O) miliknya seperti Hypermart Online dan Chat & Shop. Kini, sudah ada 111 toko Hypermart Online dan 128 toko Chat & Shop. O2O sendiri berarti pembeli membeli secara daring (dalam jaringan/online) tetapi tetap mengunjungi gerai fisik luar jaringan (luring/offline) untuk mengambil barangnya.

Sementara itu, PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) yang utamanya bergerak di segmen pakaian menata ulang bisnisnya dengan memperkenalkan konsep unified retail. Konsep ini berarti MAPI akan mengintegrasikan penjualan online dan offline mereka.

Selama pandemi ini, MAPI terus menggenjot penjualan online lewat platform miliknya sendiri seperti Mapemall dan Mono-brand. Selain itu, MAPI juga hadir di situs-situs marketplace juga layanan O2O Chat & Buy.

Penjualan digital MAPI juga didukung oleh program keanggotaan MAP Club. Seperti keanggotaan ritel lainnya, MAP Club memberikan promosi dan poin yang dapat dipakai untuk belanja lagi di gerai-gerai MAPI.

“Selama kuartal pertama, platform loyalty program MAP Club milik perusahaan berhasil meningkatkan jumlah anggotanya hampir 25% yoy (year-on-year),” ujar VP Investor Relations, Corporate Communications, and Sustainability MAP Group Ratih D. Gianda baru-baru ini.

Berbagai upaya MAPI untuk meningkatkan penjualan digital ini pun membuahkan hasil. Pada kuartal I-2021, penjualan online berhasil meningkat 300% dibandingkan dengan tahun lalu. Ini pun membuat kontribusi penjualan online terhadap total penjualan menjadi 10,9%.

Di sisi lain, PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) yang mengelola supermarket Ranch Market dan Farmers Market berupaya agar format offline dan online dapat tumbuh secara beriringan dan saling mendukung.

“Sehingga tidak saling mengorbankan, membesarkan format offline at the expense of online, atau membesarkan format online at the expense of offline,” ujar Direktur RANC Hady Purnama dalam paparan publik belum lama ini.

Hady mengatakan kontribusi kanal digital RANC sampai saat ini masih di bawah 1% untuk total pendapatan perusahaan. Meski begitu, RANC tetap berkomitmen untuk mengembangkan kanal ini ke depannya.

“Pada akhirnya customer membutuhkan format online untuk kemudahan berbelanja dan format offline untuk pengalaman berbelanja,” tambahnya.

Meski mulai melihat pentingnya kanal digital, RANC tetap memprioritaskan pembukaan gerai sebagai strategi perusahaan. Hal ini karena gerai supermarket bukan hanya sekadar toko tetapi juga sebagai pusat logistik RANC untuk pangsa pasar di sekitar lokasi.

Penjualan digital masih belum signifikan
Suasana lengang akibat tenant yang tutup di area salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Pejaten, Jakarta, Jum’at (10/4/2020). Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar membuat sejumlah pusat perbelanjaan kembali memperpanjang masa penutupan sampai 19 April sebagai upaya mencegah penyebaran wabah COVID-19. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah sebenarnya mengaku skeptis dengan masuknya pemain ritel offline ke pasar digital ini. Menurutnya, masuknya ritel ke pasar digital hanya menambah omzet untuk menanggulangi tokonya yang tutup karena pandemi.

“Secara omzet masih besar di offline. (Pendapatan) pasar digital ini paling belum sampai 10% dari total omzet perusahaan,” ujarnya.

Yang dikatakan Budihardjo memang benar. Dari sekian banyak peritel yang besar di offline lalu masuk ke online, jumlah peritel yang pendapatan online-nya mencapai 10% hanya bisa dihitung jari. MAPI menjadi salah satunya yang berhasil mencatatkan kontribusi pendapatan digital sebesar 10,9%, itu pun baru dicapai pada kuartal I-2021.

Lalu, ada contoh juga situs e-commerce besutan Grup Lippo yang gagal dan berhenti beroperasi pada 2018, yaitu MatahariMall.com. Sebelumnya, MatahariMall.com ini berdiri sendiri dengan perusahaan terbatas mandiri.

Kala itu, konglomerat Mochtar Riady sudah mengucurkan dana hingga US$500 juta setara Rp6 triliun untuk mendirikan Mataharimall.com. Akhirnya, Mochtar Riady pun menyerah. MatahariMall.com pun dilebur dengan Matahari.com yang dikelola oleh PT Matahari Department Store Tbk (LPPF).

Meski begitu, pandangan soal untung atau tidaknya peritel offline yang masuk ke online ini masih dibilang prematur saat ini. Pandemi yang mengubah banyak hal termasuk tren berbelanja konsumen dapat menjadi penentu apakah peritel dapat bertahan. Peritel tentu perlu juga menyiapkan strategi yang tepat untuk menangkap pasar yang dinamis ini.

Tetap bergairah di offline
Ritel Alfamart milik PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) / Alfamart.co.id

Di sisi lain, emiten ritel milik konglomerat Djoko Susanto, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), pengelola minimarket Alfamart, tetap percaya diri dengan strateginya yang terus berekspansi ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Pada 2021 ini, AMRT berencana terus menambah gerainya di luar Pulau Jawa.

Tidak tanggung-tanggung, AMRT menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) hingga Rp3 triliun tahun ini. Penggunaan capex tersebut salah satunya akan dipakai untuk pembukaan gerai-gerai baru.

Capex yang sudah terserap selama Q1 2021 sekitar Rp700 miliar. Pembukaan gerai sampai pada Q1 sekitar kurang lebih 250-260 toko,” ujar Direktur Keuangan dan Corporate Secretary AMRT Tomin Widian dalam paparan publik.

Pada akhir 2020, persebaran gerai Alfamart memang masih terpusat di Pulau Jawa. Sebanyak 37% gerai berada di Jawa non-Jabodetabek dan 32% lainnya di wilayah Jabodetabek.

Manajemen AMRT mulai memfokuskan pembukaan toko di wilayah luar Pulau Jawa sejak lima tahun terakhir. Hasilnya, AMRT mencatat pembukaan toko di luar Jawa dapat meningkat tipis menjadi 30,7% pada 2020 dari sebelumnya 29,7% pada 2019.

Peritel telepon seluler dan elektronik lainnya, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), berstrategi sama dengan AMRT, yaitu membuka toko sebanyak-banyaknya. Tahun ini, ERAA berencana membuka hingga lebih dari 300 gerai baru.

“Sebagian besar penggunaan capex kami memang untuk pembukaan gerai baru. Kami targetkan itu sekitar 260-an sampai 300-an toko yang akan kami kembangkan,” Wakil Presiden Direktur Joy Wahyudi dalam paparan publik akhir Mei lalu.

Hingga kuartal I-2021, ERAA sudah membuka 36 gerai baru di seluruh Indonesia. Ada pun, penyerapan belanja modal sudah mencapai Rp37 miliar pada tiga bulan pertama ini.

Tahun lalu, ERAA berhasil membuka 135 gerai baru meski dalam kondisi pandemi. Rinciannya, 32 gerai baru dibuka kuartal I-2020, 42 pada kuartal II-2020, 29 pada kuartal III-2020, dan 32 pada kuartal IV-2020.

Erafone, salah satu toko di bawah naungan Erajaya, juga memperkenalkan konsep Erafone Cloud Retail Partner. Konsep ini memungkinkan investor individu membuka toko Erafone lewat inisiatifnya sendiri. Berkat konsep ini, sudah ada empat toko Erafone yang dibuka, satu di Cilacap, dua di Malang, dan satu lagi di Yogyakarta.

Pengunjung melintas di gerai Ace Hardware dan Ace Express di kawasan Kota Tangerang Banten. Foto: Panji Asmoro/TrenAsia

Meski tidak sebanyak jumlah gerai baru AMRT dan ERAA, PT Ace Hardware Tbk (ACES) juga berencana berekspansi tahun ini dengan membuka 10 gerai baru. Untuk rencana ini, perseroan milik konglomerat Kuncoro Wibowo ini menyiapkan capex senilai Rp150 miliar.

Jumlah ini sebenarnya lebih kecil dari tahun lalu. Peritel perkakas dan perabotan rumah tangga ini berhasil membuka 14 gerai baru dengan total luas sekitar 39.100 meter persegi (m2) dan menutup 3 gerai (7.100 m2) dengan alasan relokasi.

Hingga Mei 2021, Ace Hardware sudah membuka 3 gerai baru yang tersebar di Jabodetabek, Bandung, dan Kudus. 3 gerai baru ini membuat luas area bertambah 4.900 m2. Sementara itu, ACES menutup satu gerainya di Pekanbaru, Riau, setelah masa sewa berakhir dan tidak diperpanjang.

Jadi, ekspansi perusahaan ritel di luring atau daring pada hakikatnya demi menyelamatkan bisnis agar terus untung. Namun, ekspansi offline dan online juga memerlukan strategi yang mumpuni agar tak jauh panggang dari api. (SKO)

Artikel ini merupakan serial laporan khusus yang akan bersambung terbit berikutnya berjudul Kiamat Ritel.

  1. Kiamat Ritel (Serial 1): Deretan Perusahaan Ritel Tumbang Sebelum dan Setelah Pandemi

Berita Terkait