Keren! Pertama di Indonesia, LRT Jabodebek Buatan Lokal Dioperasikan Tanpa Masinis

14 Desember 2021 01:47 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Sukirno

Suasana Stasiun TMII LRT Jabodebek. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sempat menjajal LRT naik dari Stasiun TMII menuju Stasiun Harjamukti, Cibubur. (Foto: Kementerian Perhubungan)

JAKARTA -- Lintas Raya Terpadu/Light Rail Transit Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi (LRT Jabodebek) direncanakan akan menjalani uji coba perdana pada Juni 2022. Kereta layang ini akan dioperasikan tanpa masinis menggunakan sistem Communication-Based Train Control (CBTC) dengan Grade of Automation (GoA) level 3.

Vice President Public Relations PT Kereta Api Indonesia (Persero) Joni Martinus mengatakan sistem CBTC adalah pengoperasian kereta berbasis komunikasi, sehingga sistem dapat mengoperasikan kereta dan memproyeksikan jadwal secara otomatis serta disupervisi juga secara otomatis dari pusat kendali operasi.

Setelah uji coba perdana pada Juni 2022, sistem ini akan terus diujicobakan hingga peresmian LRT Jabodebek pada 17 Agustus 2022.

"Grade of Automation level 3 atau GoA3 adalah tingkat otomasi operasional kereta di mana pengoperasian dilakukan secara otomatis tanpa masinis, namun mensyaratkan masih terdapat petugas operasional di dalam kereta untuk penanganan kondisi darurat dan pelayanan kepada pelanggan. Petugas ini disebut Train Attendant," terang Joni dalam keterangan resmi, Senin, 13 Desember 2021.

Sebagai gambaran, pengoperasian kereta dengan sistem CBTC GoA 3 yang digunakan pada LRT Jabodebek ini juga telah diterapkan di belahan dunia lainnya seperti Amerika Serikat, China, Jepang, Singapura, Spanyol, Inggris, Brasil, dan beberapa negara lainnya.

Joni menjelaskan, ketika menggunakan sistem CBTC ini, jika terjadi gangguan sarana atau prasarana, petugas Train Attendant akan mengambil alih pengoperasian kereta secara manual dengan kecepatan terbatas.

Untuk LRT Jabodebek, kereta ini akan beroperasi mengikuti jadwal yang telah diunggah ke sistem persinyalan di pusat kendali operasi atau Operation Control Center (OCC).

Seluruh operasional LRT Jabodebek kemudian berjalan secara otomatis dengan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan.

Dia menambahkan, sistem CBTC GoA 3 pada LRT Jabodebek ini dibangun oleh sinergi BUMN antara KAI, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT Len Industri (Persero), dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA.

"Operator pada OCC akan memantau jalannya LRT dan hanya akan mengintervensi jika ditemukan ketidaksesuaian seperti adanya keterlambatan, gangguan suplai daya, dan sebagainya," terang Joni.

Dia mengungkapkan penggunaan GoA 3 untuk LRT Jabodebek telah ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan melalui Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 765 Tahun 2017. 

KAI berkomitmen untuk memenuhi ketentuan teknis, operasional, serta keselamatan LRT Jabodebek sesuai dengan kriteria desain yang diatur dalam regulasi Kemenhub.

Dari segi keselamatan, lanjut dia, LRT Jabodebek telah terlindungi oleh Automatic Train Protection (ATP) serta Interlocking & Zone Controller.

Dengan adanya ATP, LRT Jabodebek terlindungi dari over speed dan jaminan pengereman yang andal. Adapun interlocking & zone controller berfungsi untuk menjamin tidak ada kesalahan pembentukan rute serta mendistribusikan otorisasi kontrol operasi LRT.

“Keunggulan dari GoA 3 adalah mengurangi potensi kecelakaan akibat human error, meningkatkan akurasi jadwal kereta, dan dapat mengoptimalkan jadwal perjalanan," kata Joni.

Pada akhir Oktober lalu, uji coba LRT Jabodebek sempat mengalami kecelakaan. Insiden tersebut terjadi di jalur layang antara Stasiun Harjamukti-Stasiun Ciracas, Jakarta Timur.

Peristiwa terjadi lantaran ada satu kereta yang langsir menabrak rangkaian lain di salah satu rel. Langsir merupakan istilah perpindahan rangkaian kereta di jalur rel.

Meskipun tidak ada korban jiwa karena memang tidak ada penumpang, kerusakan terjadi pada kabin kereta. Rangkaian kereta yang mengalami kecelakaan pun akan dikirimkan kembali ke pabrik produksi di Madiun, Jawa Timur.

PT INKA menjelaskan bahwa kecelakaan ini terjadi karena ada indikasi human error. Saat mengemudikan kereta, masinis menjalankan dengan kecepatan lebih. Masinis dikabarkan mengalami luka ringan akibat kecelakaan.

Berita Terkait