Keputusan China Tak Gunakan Dolar AS Guncang Pasar Keuangan Dunia

May 03, 2020, 03:04 PM UTC

Penulis: Aprilia Ciptaning

Mata uang China. / Pixabay

Keputusan China untuk membatalkan patokan dolar Amerika Serikat dalam transaksi bursa mengganti hanya dengan yuan, mengguncang pasar keuangan dunia.

Keputusan itu terbilang berani dan penting dalam sejarah ekonomi Tiongkok. Artinya, dolar AS bakal dihilangkan dari perdagangan Negeri Tirai Bambu yang berakibat pada kejatuhan mata uang Negeri Paman Sam di pasar global.

Tiongkok melakukan terobosan sistem pembayaran dengan uji coba mata uang digital ­­electronic renmimbi (e-RMB) di empat kota besar, yaitu Shenzhen, Suzhou, Chengdu, dan Xiong’an.

Disebutkan oleh media lokal China, e-RMB bakal menjadi mata uang digital pertama dalam sistem pembayaran nasional. Bahkan beberapa sektor pemerintahan mulai menerapkan gaji karyawannya dengan metode baru ini.

“Di Suzhou, mata uang digital akan digunakan sebagai subsidi transportasi, sedangkan di Xiong’an akan fokus untuk makanan dan ritel,” demikian dikutip dari The Guardian, Minggu, 3 Mei 2020.

Di samping itu, meski belum resmi dirilis, diketahui bahwa e-RMB telah masuk dalam sebuah aplikasi. Bahkan, bisnis ritel makanan seperti McDonalds dan Starbucks disebutkan telah ikut serta dalam uji coba.

Sebelumnya, di China sendiri telah dikenal beberapa platform pembayaran digital, seperti Alipay dari Alibaba’s Ant Financial dan WeChat Pay dari Tencent.

Institut pengembangan mata uang digital di People’s Bank of China pun tengah fokus melakukan pengembangan e-RMB sejak 17 April 2020.

“Mata uang digital ini akan memfasilitasi integrasi perdagangan secara global dengan risiko kepentingan politik yang minimal,” ujar Gubernur Bank sentral China Yi Gang.

Meskipun belum resmi, diperkirakan mata uang ini akan menjadi terobosan baru dalam sistem pembayaran jangka panjang secara global.

Pasar Modal RI

Direktur Anugrah Mega Investama Hans Kwee menyetujui prediksi tersebut. Menurutnya, penurunan penggunaan uang tunai diperkirakan akan terus berlanjut mengingat platform pembayaran digital semakin populer.

“Terlebih, orang-orang menghindari kontak fisik selama pandemi COVID-19,” ujarnya dalam siaran tertulis, Minggu, 3 Mei 2020.

Di samping itu, Hans mengungkapkan bahwa isu mata uang digital ini juga dipengaruhi oleh beberapa sentimen positif di pasar global.

Pertama, berita terkait obat COVID-19 yang menunjukkan titik terangnya. Hans merujuk pada hasil uji coba Gilaed Sciences yang telah melaporkan perkembangan 50% pasien menunjukkan reaksi lebih baik.

Dengan pemberian obat remdesivir, dilaporkan selama lima hari, separuh dari pasien uji coba kondisinya membaik, bahkan ada yang telah keluar dari rumah sakit.

Hal ini diperkuat oleh hasil studi National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) yang mengatakan bahwa obat tersebut memiliki efek positif yang nyata terhadap 800 pasien uji coba.

“Bila ditemukan obat COVID-19, maka pemulihan ekonomi dunia akan lebih cepat,” tutur Hans.

Sentimen positif yang kedua adalah rencana pembukaan dan pelonggaran kebijakan lockdown oleh sejumlah negara bagian Amerika Serikat (AS).

Diketahui, setidaknya ada 16 negara yang akan kembali memulai aktivitas bisnis di antaranya Alaska, Georgia, South Carolina, Tennessee, Texas, dan lain-lain.

Pelonggaran kebijakan yang dimaksud meliputi, pembukaan restoran, ritel, dan layanan konsumen mulai 12 Mei 2020. Selain itu, sektor konstruksi dan manufaktur juga akan dimulai lagi secara bertahap.

“Namun, hal ini masih berisiko terhadap penularan COVID-19 sehingga kemungkinan lockdown kembali masih ada,” kata Hans.

Selain itu, perekonomian AS juga belum dapat dikatakan stabil. Hans menyebut rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama di negara ini masih suram.

“Kontraksi sebesar 4,8% terjadi, sedangkan pada kuartal keempat tahun lalu masih tumbuh 2,1%,” ujar Hans.

Di samping itu, Departemen Tenaga Kerja di AS melaporkan sebanyak 3,84 juta orang telah mengajukan tunjangan pengangguran, ditambah dengan penurunan belanja konsumen sebesar 7,5% yoy pada maret 2020.

Meskipun demikian, Hans mengatakan bahwa sentimen positif masih didukung oleh rebound-nya harga minyak.

Berdasarkan data Kpler, kurang lebih 85% dari penyimpanan minyak onshore di seluruh dunia dalam kondisi penuh. Selain itu, pengurangan produksi oleh OPEC+ pada 1 Mei mendorong harga minyak naik sehingga dapat menghindari kejatuhan harga, seperti yang terjadi sebelumnya hingga mencapai minus US$37 per barel.

Selanjutnya, sentimen positif yang ketiga diisi oleh The Fed yang mempertahankan suku bunga pada batas mendekati nol. Chairman The Fed Jerome Powell berkomitmen untuk mendukung ekonomi AS. Bagi pasar, hal ini membuat kecenderungan rupiah tetap kuat.

Terakhir, sentimen positif didukung oleh kebijakan domestik dari Bank Indonesia (BI). Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan jumlah QE mencapai Rp503,8 triliun dengan tambahan dari pelonggaran giro wajib minimum (GWM) dan rasio intermediasi makroprudensial (RIM) sebesar Rp117,8 triliun per Mei 2020.

“Pasar menutup akhir bulan April 2020 dengan berbagai sentimen positif. Hal ini diikuti dengan aksi ambil untung pelaku pasar,” ungkap Hnas.

Ia memperkirakan, dukungan sepekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ada di level 4.441 sampai 4.317 dan resistance di level 4.669 sampai 4.747. (SKO)