Kenapa Orang Mudah Menghabiskan Uang untuk Nonton Konser?

18 Maret 2023 11:15 WIB

Penulis: Chrisna Chanis Cara

Editor: Laila Ramdhini

Aksi band heavy metal legendaris, Deep Purple, dalam konser di Solo, 10 Maret 2023 lalu. (MetalTalk.net/Umar R)

JAKARTA—Tahun 2023 bisa dibilang menjadi tahun kebangkitan industri pertunjukan di Indonesia. Lepas dari masa transisi setelah pandemi COVID-19, industri pertunjukan seperti konser musik langsung melesat. Tak tanggung-tanggung, deretan musisi papan atas dunia sukses didatangkan ke Tanah Air. 

Nama-nama tersebut antara lain NCT Dream, Westlife, Arctic Monkeys, The Strokes, BLACKPINK, SUM 41, Suga BTS hingga band rock legendaris Deep Purple. Belum lama ini, BLACKPINK baru saja menggebrak Jakarta lewat konser bertajuk BORN PINK. Sekitar 140.000 penonton menjejali Stadion Utama Gelora Bung Karno dalam konser selama dua hari. 

Tiket konser The Strokes yang baru digelar akhir Juli 2023 pun sudah ludes jauh-jauh hari. Padahal harga tiket konser artis luar negeri kini rata-rata berharga jutaan rupiah. BLACKPINK bahkan mematok banderol Rp3,8 juta untuk tiket termahalnya di konser kemarin. Angka itu hanya terpaut tipis dari UMR Kota Bandung 2023 senilai Rp4 juta. 

Riset menyebutkan harga tiket konser di penjuru dunia memang cenderung naik beberapa waktu terakhir. Menurut peneliti Pollstar, harga rata-rata tiket 100 tur paling populer di Amerika naik empat kali lipat selama 20 puluh tahun terakhir. Kisarannya US$25,81 (sekitar Rp300.000) pada tahun 1996 menjadi US$ 91,86 (sekitar Rp1 juta) pada 2019.

Melejitnya harga tiket konser salah satunya akibat naiknya honor para musisi. Kini para artis cenderung mengoptimalkan pemasukan dari penampilan panggung menyusul berkurangnya intensitas penjualan album fisik. Kenaikan harga tiket juga muncul karena adanya fasilitas tambahan seperti makan malam dengan artis, sesi tanda tangan dan pengalaman personal lain. 

Lalu kenapa orang masih mudah merogoh koceknya untuk menonton konser? Penelitian seorang profesor psikologi dari Cornell University, Thomas Gilovich, mengungkap alasannya. Konser masih dinikmati warga, terutama anak muda, sebagai self reward dan pelarian dari beban pekerjaan.

Alih-alih menghabiskan uang untuk membeli barang atau menyicil Kredit Pemilikan Rumah (KPR), anak muda lebih memilih membeli pengalaman dengan menonton konser artis idola. 

Riset Gilovich menyebut tingkat kebahagiaan melalui pengalaman baru akan cenderung meningkat. Profesor bernama Sonja Lyubomirsky menggambarkan kebahagiaan sebagai keadaan positif yang membuat orang merasa bermakna dan berharga. Hal itu kerap dirasakan para fans saat menonton dan bernyanyi bersama musisi idolanya.   

Bagi sejumlah orang, pengalaman menonton konser secara langsung tidak dapat digantikan oleh apapun. Ingatan tentang konser bahkan bisa tertanam bertahun-tahun dan menjadi memori manis. 

Nuran Wibisono dalam bukunya “Nice Boys Don’t Write Rock n Roll” menceritakan betapa bahagianya dia sehabis menonton konser Guns N’ Roses (GnR) di Singapura tahun 2016. Itu adalah tur perdana GnR sejak 1993. 

“Mereka menua, tapi begitu juga kita. Begitu pula saya, yang pertama kali mendengar GNR saat SMP dan langsung tahu kalau band ini akan saya cintai sampai saya dikubur kelak,” ujarnya.

Penulis yang juga jurnalis itu menyebut menonton GnR dengan tiga personel lengkap mungkin adalah pengalaman yang nyaris langka. 

“Sebab, mengutip flyer saat mereka membaptis ulang Whisky a Go Go: kapan lagi. Siapa tahu mereka akan bertengkar dan bubar lagi. Siapa tahu salah satu dari mereka, atau malah kita, akan dipanggil ke alam barzah. Siapa yang tahu masa depan?.”

Agus Mulyadi dalam esainya berjudul Terkadang Tiket Konser Lebih Berharga dari Apa Pun menyebut menonton konser bukan hal yang sederhana. Dia menyarankan tak perlu menyesal karena membuang uang untuk menonton konser musisi favorit. 

“Ia memorable, ia sentimentil, dan sekali lagi, ia layak diperjuangkan,” ujar penulis di Mojok.co itu. 

Berita Terkait