Kenali Badai Sitokin yang Membuat Deddy Corbuzier Hampir Meninggal

23 Agustus 2021 07:18 WIB

Penulis: Daniel Deha

Editor: Amirudin Zuhri

JAKARTA -- Deddy Corbuzier menderita badai sitokin (cytokine storm) yang membuatnya sakit kritis hingga hampir meninggal. Selama dua pekan, badai sitokin itu telah membuat paru-parunya rusak hingga 60%.

"Mohon maaf saya baru bisa memberitahu keadaan sebenarnya pada masyarakat. Intinya dua minggu saya break semuanya karena saya harus konsentrasi pada kesehatan saya. Saya sakit. Kritis, hampir meninggal karena badai Cytokine, lucunya dengan keadaan sudah negatif. Yes it's COVID-19," tulis Deddy Corbuzier di akun Instagramnya, Minggu, 22 Agustus 2021.

Dikutip dari Forbes, badai sitokin adalah salah satu protein yang berperang penting untuk sistem kekebalan tubuh manusia. Dia adalah protein imunologi inflamasi yang ada untuk melawan infeksi dan menangkal kanker. Namun, jika diproduksi berlebihan sitokin berbalik merusak organ tubuh.

Beberapa penelitian yang menganalisis profil sitokin dari pasien COVID-19 menunjukkan bahwa badai sitokin berkorelasi langsung dengan cedera paru-paru, kegagalan multi-organ, dan prognosis COVID-19 yang parah.

Hal itu terjadi karena infeksi COVID-19 disertai dengan respons inflamasi agresif melepaskan sejumlah besar sitokin pro-inflamasi. Respon imun tubuh terhadap virus SARS-CoV-2 yang bersifat hiperaktif kemudian mengakibatkan reaksi inflamasi yang berlebihan.

Inflamasi adalah peradangan yang terjadi pada tubuh dalam melindungi diri dari infeski mikroorganisme asing, seperti virus, bakteri atau jamur. Pada saat mekanisme alami ini terjadi, sel darah putih melakukan perlawanan terhadap virus asing itu.

Untuk pasien COVID-19, kondisi itu diketahui dengan pemeriksaan D-dimer dan C-Reactive Protein. CRP adalah protein yang diproduksi oleh organ hati sebagai respons terhadap peradangan di tubuh. Indikatornya, orang sehat memiliki kadar CRP rendah, sebaliknya, CRP tinggi menunjukkan adanya penyakit.

Penting untuk dicatat bahwa banyak hal  terjadi sebelum potensi badai sitokin terkait COVID-19 bereaksi. Itulah sebabnya sebagian besar pasien COVID-19 tidak akan pernah harus berurusan dengan sindrom tersebut.

Peneliti sindrom badai sitokin dari University of Alabama, Randy Cron, menjelaskan bahwa menurut data dari China, serta di tempat lain, menunjukkan bahwa sekitar 80% pasien dapat mengatasi COVID-19 di rumah karena mereka tidak menunjukkan gejala atau merasa seperti mengalami kasus flu yang mengerikan.

Namun, sekitar 20% memerlukan rawat inap dan dari 20% yang dirawat di rumah sakit, sama sekali tidak diketahui berapa persen yang memiliki badai sitokin sehingga sulit untuk mengukur kematian badai sitokin terkait COVID-19.

Menurut dia, tingkat kematian tipikal pada orang dewasa yang terinfeksi sindrom ini berkisar antara 50% hingga 80%.

Memahami Badai Sitokin Bekerja

Untuk memahami lebih jelas mengenai terjadinya badai sitokin pertama-tama kita harus mengetahui tentang sistem kekebalan tubuh manusia itu bekerja.

Biasanya, tubuh manusia memiliki sistem kekebalan bawaan seperti kulit dan selaput lendir, ditambah dengan pertahanan penanggap pertama kita seperti fagosit, protein antimikroba, dan sel penyerang.

Respons sistem kekebalan bawaan adalah hal-hal yang terjadi ketika tubuh kita sakit atau terluka. Misalnya, ketika mengalami hidung tersumbat dan bersin maka kita akan mengalami pilek. Atau, ketika lutut yang robek menjadi merah, panas dan meradang, serta terkadang berisi nanah.

Pada umumnya, pertahanan pertama ini efektif dan mungkin mengapa banyak orang yang tertular COVID-19 tanpa gejala seperti halnya yang terjadi pada Deddy Corbuzier.

Namun, ketika sistem kekebalan bawaan tidak cukup, ia akan memanggil lini pertahanan kedua kita: sistem imun yang aktif.

Ini biasanya ketika respons peradangan meningkat dan kita mengalami demam, yang memicu sejumlah alarm kimia tubuh yang memanggil sistem kekebalan aktif untuk bertindak dan meningkatkan tingkat metabolisme dalam sel.

Dengan begitu, memungkinkan mereka untuk sembuh lebih cepat, serta mempermudah berbagai sel dan protein untuk melakukan tugasnya lebih cepat dan lebih efektif.

Sel aktif dalam tubuh kita disebut Sel-T, yang memiliki berbagai bentuk untuk memerangi infeksi. Ketika sel-T diaktifkan, mereka melepaskan sitokin, yang memicu sel-T tambahan untuk diproduksi, yang kemudian melepaskan lebih banyak lagi sitokin.

Salah satu jenis sel T yang dibuat disebut sel-T sitotoksik. Sel-T sitotoksik adalah sel yang mampu berkeliaran di tubuh dan membunuh sel yang terinfeksi yang secara kimiawi menghentikan produksi COVID-19.

Ketika tubuh merespons dengan cara yang seharusnya, sel-T sitotoksik hanya akan menargetkan sel yang terinfeksi untuk dibunuh dan bergerak.

Saat kita berada dalam pergolakan badai sitokin, sistem-sistem itu mulai kewalahan dan tidak berfungsi. Intinya, respons kekebalan tubuh kita menjadi sangat meningkat sehingga berhenti membedakan antara sel yang terinfeksi dan sel yang sehat.

Tentu, ini sangat buruk bagi pasien karena tidak hanya virus COVID-19 yang membunuh sel-sel di tubuh kita, sekarang sistem kekebalan tubuh kita juga ikut merusak.

Namun sebetulnya, menargetkan sitokin selama pengelolaan pasien COVID-19 dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan mengurangi kematian.

Beberapa gejala klinis badai sitokin misalnya, demam, kelelahan, anoreksia, sakit kepala, ruam, diare, artralgia, mialgia, dan neuropsikiatri. 

Gejala-gejala ini mungkin disebabkan langsung oleh kerusakan jaringan yang diinduksi oleh sitokin, atau perubahan fisiologis fase akut, atau mungkin akibat dari respon yang dimediasi oleh sel imun.

Jika sudah dialami seorang pasien dapat berkembang pesat menjadi koagulasi intravaskular diseminata, dengan oklusi vaskular atau perdarahan katastropik, dispnea, hipoksemia, hipotensi, ketidakseimbangan hemostatik, syok vasodilatasi, dan ujungnya adalah kematian.

Gejala itulah yang dialami oleh Raditya Oloan yang meninggal beberapa waktu lalu.*

Berita Terkait