Kemitraan Kunci Industri Kelapa Sawit Sebagai Penopang Ekonomi

10 November 2022 21:31 WIB

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Yosi Winosa

Nampak seorang petani tengah melakukan panen tanaman kelapa sawit di kawasan Bogor Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA - Peringatan Hari Pahlawan 10 November banyak pihak yang memaknai sebagai semangat membuka gerbang kemerdekaan. Di industri kelapa sawit, petani pun bisa dikategorikan sebagai pahlawan dalam membangun industri kelapa sawit yang kian tumbuh membesar.

Sebab itu kemitraan menjadi kunci penting dalam mensinergikan industri yang telah menjadi penopang ekonomi negara. Dengan asumsi sebesar 40% produksi bersumber dari perkebunan kelapa sawit milik petani, maka sebanyak 19,6 juta ton produksi CPO Indonesia bersumber dari kebun petani kelapa sawit.

Tentunya, perkebunan kelapa sawit rakyat ini, juga memiliki kontribusi besar bagi konsumen masyarakat dunia.

Permintaan pasar global yang selalu meningkat, akan sejalan dengan pertumbuhan perkebunan kelapa sawit rakyat yang terus berkembang. Melalui kontribusi terhadap ekonomi nasional yang besar, maka perkebunan kelapa sawit rakyat harus mendapatkan prioritas dan dukungan besar bagi keberlanjutannya.

Turut memaknai momentum tersebut, InfoSAWIT mengadakan “Diskusi Sawit Bagi Negeri” yang digelar sejak tahun 2021 lalu. Diskusi tersebut juga merupakan diskusi interaktif para pemangku kepentingan usaha kelapa sawit nasional, yang menghadirkan pembicara sebagai narasumber dari berbagai kalangan, untuk memberikan gambaran utuh mengenai keberadaan minyak sawit.

Tujuannya untuk memberikan pemahaman yang benar mengenai keberadaan dan kontribusi minyak sawit, bagi negara, sosial dan lingkungannya.

Dari hasil diskusi tersebut InfoSAWIT membungkusnya dalam sebuah “Buku Panduan Sawit: Perkebunan Sawit Rakyat”, yang didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), dimana buku ini berisikan hasil diskusi dan menampilkan beragam konsep dan usulan dari para pelaku sawit baik itu pemerintah, swasta maupun petani, yang secara resmi dilaunching pada Kamis, 10 November 2022.

Buku ini juga sebagai bukti sahih beberapa aksi dan usulan yang muncul dari diskusi yang telah dilakukan dan supaya menjadi catatan penting dalam upaya pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional. Selain menjadi pendukung dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional.

Pimred InfoSAWIT, Ignatius Ery Kurniawan, perkebunan kelapa sawit komersil yang sudah dikembangkan lebih dari 110 tahun, memiliki banyak pertumbuhan bisnis dan kemampuan dalam mensejahterakan masyarakat. Perkebunan kelapa sawit yang biasanya berada di berbagai daerah pelosok desa, seringkali menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat desa dalam mewujudkan kesejahteraannya.

Sebab itu, penguatan petani kelapa sawit dalam melakukan praktik budidaya terbaik dan berkelanjutan harus mendapatkan prioritas dan bantuan besar dalam kegiatannya. Bersamaan dengan pemberdayaan perkebunan kelapa sawit yang memiliki tugas mulia untuk menanam pohon kelapa sawit sebagai sumber kehidupan di Indonesia dan dunia.

Sementara diungkapkan Deputi Menko Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kemenko Musdhalifah Machmud, meyakini dengan maju dan berkembangnya sektor agribisnis bisa memberikan dampak positif bagi kesejahteraan rakyat dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Salah satunya dengan mendorong perkebunan kelapa sawit bermanfaat bagi masyarakat serta layak lingkungan, dengan melakukan perbaikan tata kelola yang terus menerus.

"Mendorong pengembangan industri kelapa sawit di Indonesia, yang kerap memperoleh tantangan dari berbagai aspek, baik itu kampanye negatif, tantangan regulasi, menjadi upaya yang terus dilakukan, sampai pada kondisi tata kelola kelapa sawit yang lebih baik,” katanya dikutip dari pengantar Buku Panduan Sawit: Perkebunan Sawit Rakyat.

Direktur Utama BPDPKS, Eddy Abdurrahman, sawit nasional dari hulu hingga hilir memiliki peranan penting bagi pembangunan nasional. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, tercatat empat aspek indikator, yaitu; Pertama, menciptakan lapangan kerja sebanyak 4,2 juta orang pekerja langsung dan 12 juta orang pekerja tidak langsung.

Kedua, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 3,5% dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Ketiga, Berkontribusi terhadap perolehan devisa negara, rata-rata sebesar 13,5% dari ekspor non migas setiap tahunnya. Dan keempat, mendorong kemandirian energy melalui bahan bakar nabati atau biodiesel yang menghemat devisa impor solar senilai US$8 miliar per tahun.

"Melalui keberadaan minyak sawit berkelanjutan yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan manusia, dan menjaga harmonisasi sosial dan kelestarian lingkungan selaras dengan tujuan pembangunan nasional dalam menjaga harmonisasi People, Profit dan Planet (3P). Sesuai pula dengan prinsip dan kriteria Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang secara mandatori telah dilaksanakan,” katanya.

Berita Terkait