Kemenkeu Sebut Pemulihan RI ‘Empat Tingkat’ Lebih Baik dari Negara ASEAN Lainnya

18 Agustus 2021 16:45 WIB

Penulis: Fachrizal

Editor: Rizky C. Septania

Menteri Keuangan Sri Mulyani . Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyebut kinerja pemulihan ekonomi Indonesia sudah masuk ke dalam jajaran negara dengan pemulihan yang baik. Hal ini dikarenakan pada kuartal II-2021, pemulihan sudah melampaui masa sebelum pandemi Covid-19. 

Hal ini dinilai lebih baik dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN lainnya. Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, pemulihan ekonomi negara-negara tersebut masih berada di bawah level sebelum pandemi.

"Indonesia justru termasuk negara di ASEAN yang di 2021 sudah melampaui masa sebelum pandemi. Ibaratnya kalau ASEAN pada tahun 2020 turun tangga 3-4 anak tangga, 2021 (kita) naik anak tangganya 4," kata Febrio dalam press conference daring berjudul ’Strategi dan Outlook Perekonomian dan Kesejahteraan’ yang diselenggarakan oleh Badan Kebijakan Fiskal, hari ini pada Rabu, 18 Agustus 2021. 

Selain itu, Febrio juga membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan beberapa negara Eropa. Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi RI kuartal II sebesar 7,07 persen lebih baik dibandingkan beberapa negara Eropa.

Menurut dia, kebanyakan negara hanya pulih tinggi karena base effect dari pertumbuhan minus di kuartal II-2020 lalu. Di Inggris misalnya, dari -21,4 persen (yoy) di kuartal II-2020 menjadi 22,2 persen (yoy)

Pemulihan ekonomi Perancis bahkan sama dengan kontraksi tahun lalu, yakni dari -18,7 persen (yoy) menjadi 18,7 persen (yoy) di kuartal II-2021. Ada pula negara lain yang angka pertumbuhan ekonominya lebih rendah dibanding angka kontraksi, seperti Italia dari -18,2 persen menjadi 17,3 persen, Malaysia dari -17,2 persen menjadi -16,1 persen, dan Singapura -13,3 persen menjadi -14,3 persen. 

"Indonesia yang better. Di Kuartal II 2020 turun 5 anak tangga (-5,32 persen), tahun 2021 kita naiknya 7 anak tangga. Artinya selain base effect dari 2020, kita sudah recover. Ada tambahan pertumbuhan ekonomi di atas base effect sekitar 2 persen," ungkap Febrio.

Febrio berujar, pemulihan ekonomi juga terlihat dari membaiknya angka pengangguran, karena terjadi penyerapan tenaga kerja ketika produksi di industri sudah mulai menggeliat.

Pemulihan Ekonomi Ciptakan 2,61 juta Lapangan Kerja Baru

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi penurunan tingkat pengangguran terbuka sebesar 1,02 juta orang dari Februari 2021 terhadap Agustus 2020. Kemudian, tingkat kemiskinan pada bulan Maret 2021 turun 0,01 juta orang dibandingkan September 2020. 

Febrio mengungkapkan, pemulihan ekonomi telah menciptakan 2,61 juta lapangan kerja baru sepanjang September 2020-Februari 2021. Penurunan tingkat kemiskinan dan ketimpangan didorong oleh membaiknya kesempatan kerja dan keberlanjutan program perlindungan sosial dalam PEN tahun 2021. 

"Inilah perbandingan yang bisa mengerti bahwa kuartal II-2022 kemarin, selain rebound dari base effect kita menikmati pertumbuhan ekonomi yang riil. Kita menikmati pertumbuhan yang menaikkan daya serap pada tenaga kerja," kata Febrio.

Berita Terkait