Kemenhub ke Maskapai: Turunkan Harga Tiket Pesawat

07 Agustus 2022 13:22 WIB

Penulis: Idham Nur Indrajaya

Editor: Ananda Astri Dianka

Pesawat Wings Air jenis ATR melakukan penerbangan komersil perdana di Bandara Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat 5 Agustus 2022. (TrenAsia/Panji Asmoro)

JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengimbau seluruh maskapai yang melayani rute penerbangan berjadwal dalam negeri untuk menurunkan tarif tiket pesawat karena daya beli masyarakat yang belum pulih. 

Plt Direktur Jenderal Perhubungan Udara kemenhub Nur Isnin Istiartono mengatakan, dengan menjual tiket yang harganya lebih terjangkau, konektivitas antarwilayah di Indonesia dan kontinuitas pelayanan jasa transportasi udara akan tetap terjaga.

"Seperti kita ketahui, bahwa kemampuan daya beli masyarakat belum pulih akibat pandemi COVID-19, namun kebutuhan masyarakat akan transportasi udara tetap harus diperhatikan,” ujar Nur dikutip dari keterangan tertulis, Minggu, 7 Agustus 2022.

Disampaikan oleh Nur, pemerintah telah menetapkan Keputusan Menteri (KM) 142 Tahun 2022 tentang Besaran Biaya Tambahan yang Disebabkan Adanya Fluktuasi Bahan Bakar Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkatan Udara Niaga Berjadwal dalam Negeri yang mulai berlaku 4 Agustus 2022.

Menurut Nur, Kemenhub selaku regulator perlu menetapkan kebijakan ini untuk menjadi pedoman maskapai dalam menerapkan tarif penumpang. 

Pasalnya, untuk mendorong mobilitas masyarakat yang pada gilirannya dapat mendorong juga kapasitas dan produksi angkutan udara penumpang, kargo, dan pos, diperlukan tarif yang lebih terjangkau. 

Untuk penetapan besaran biaya tambahan atau sucharge, Ditjen Perhubungan Udara berupaya untuk mengakomodasi kepentingan semua pihak yang bertujuan untuk memberikan perlindungan konsumen dan menjaga keberlangsungan usaha yang sehat. 

"Mari bersama-sama kita saling berkontribusi dan berkolaborasi dalam pemulihan transportasi udara. Khususnya kepada maskapai agar patuh terhadap ketentuan tarif yang berlaku dan tetap menjaga kualitas pelayanan yang diberikan sesuai dengan kelompok pelayanan masing-masing," kata Nur.

Untuk memastikan imbauan Kemenhub ini dijalankan, Ditjen Perhubungan Udara akan melakukan evaluasi setelah tiga bulan penerapan besaran biaya tambahan oleh maskapai.

Sebagai informasi, besaran biaya tambahan untuk pesawat udara jenis jet ditetapkan paling tinggi 15% dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanan masing-masing maskapai.

Sementara itu, untuk pesawat udara jenis propeller, besaran biaya tambahan paling tinggi 25% dari tarif batas atas sesuai kelompok pelayanan masing-masing maskapai.

Penerapan pengenaan biaya tambahan tersebut bersifat opsional bagi maskapai, dan evaluasi Kemenhub akan dilakukan setiap tiga bulan sekali.

Berita Terkait