Kelebihan Suplai, Ini Deretan Wilayah di DKI Jakarta yang Alami Penurunan Harga Properti

28 September 2021 15:30 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Amirudin Zuhri

Pengunjung melintas di area Pondok Indah Mall (PIM), Jakarta Selatan, Selasa, 20 April 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA - Di tengah pandemi, harga properti di kawasan elite Jakarta seperti Menteng dan Pondok Indah dikabarkan mengalami penurunan. Hunian mewah yang kerap ditinggali oleh orang-orang "besar" itu dipatok harga Rp40 juta-Rp85 juta per meter persegi.

Padahal, sebelumnya harga per meter persegi rata-rata sebesar Rp55 juta atau minimal Rp22 miliar per 400 meter persegi. Di samping itu, kisaran harga rumah di wilayah tersebut sebelum pandemi juga bisa tembus Rp100 miliar.

Country Manager Rumah.com Marine Novita mengungkapkan, penurunan harga hunian di kedua daerah tersebut muncul seiring dengan kenaikan suplainya pada kuartal III-2020.

Menurutnya, kenaikan jumlah suplai di area Menteng dan Pondok Indah sudah terjadi sejak dua kuartal akhir tahun lalu. Memasuki 2021, masih terjadi kenaikan suplai, tetapi tingkat kenaikannya tidak setinggi pada semester II-2020.

“Tingkat penurunan harga sempat berkurang, bahkan bertahan di kuartal IV-2020, tetapi kembali turun pada kuartal I-2021,” mengutip keterangan tertulis, Selasa, 28 September 2020.

Artinya, kata Marine, semakin banyak pemilik rumah yang ingin menjual properti di daerah tersebut sejak kuartal III-2020. Namun, hingga sekarang banyak yang belum terjual.

Hal ini berdampak terhadap penurunan harga rumah di kedua wilayah tersebut. Meskipun demikian, tingkat penurunan ini dianggap tidak terjadi secara drastis. Bahkan, masih cenderung rendah jika dibandingkan dengan kawasan lain di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Data Rumah.com Indonesia Property Market Index Kuartal II-2021 mencatat, wilayah-wilayah di DKI Jakarta mengalami penurunan secara merata di kisaran 0,44% per kuartal.

Wilayah dengan penurunan harga terbesar adalah Jakarta Pusat, yakni turun sebesar 1,52% (quarter-to-quarter) pada kuartal I-2021. Sementara itu, Jakarta Selatan turun sebesar 1,19% qtq. 

Penurunan harga perumahan mewah memang terjadi, tetapi Marine bilang kemungkinan besar para pemilik masih menahan sehingga tidak akan mengobral begitu saja.

Sementara itu, tren penurunan harga di Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan terjadi secara luas, baik di segmen rumah tapak maupun apartemen. “Penurunan harga di kedua wilayah ini masih terbilang wajar karena permintaan untuk harga di kisaran ini memang sedang rendah,” ujarnya.

Berita Terkait