Keduluan TBIG hingga TOWR, IPO Mitratel Bidik Rp14,5 Triliun

April 19, 2021, 06:04 AM UTC

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Gedung Merah Putih milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) / Dok. Kementerian BUMN

JAKARTA – Anak usaha badan usaha milik negara (BUMN) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk segera melantai di pasar modal Indonesia. Perusahaan tersebut adalah PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel.

Tak tanggung-tanggung, perusahaan penyedia sarana infrastruktur telekomunikasi ini membidik dana segar sebanyak US$1 miliar setara Rp14,5 triliun (asumsi kurs Rp14.500 per dolar Amerika Serikat) melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Menanggapi hal tersebut, CEO Finvesol Consulting Fendy Susianto menilai rencana aksi korporasi Mitratel ini cukup terlambat. Pasalnya, sudah terdapat beberapa emiten dengan bisnis serupa yang lebih dulu IPO, seperti PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).

“Mitratel terlambat masuk sekitar 10 tahun dibandingkan dengan emiten-emiten infrastruktur telekomunikasi lainnya seperti TBIG dan TOWR dari 2010 sudah IPO. Jadi rada telat dan ini bukan barang baru di pasar,” ujarnya saat diskusi dengan reporter TrenAsia.com, Minggu 18 April 2021.

Jika Mitratel resmi menyelenggarakan IPO di Indonesia, maka Mitratel harus menawarkan hal yang berbeda dari kedua emiten menara tersebut. Menurut Fendy, ini guna menarik investor institusional agar mau membeli saham Mitratel nantinya.

“Singkatnya kompensasi apa kira-kira yang harus dibayar Mitratel karena keterlambatan dia melantai di bursa?” tutur pria yang akrab disapa OmFin ini.

Pesaing Utama Hingga Daya Tawar Mitratel
Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo (tengah) bersama Komisaris Utama Telkom Rhenald Kasali (paling kanan) serta Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah (paling kiri) menyaksikan penandatanganan Perjanjian Jual Beli (Sale and Purchase Agreement/SPA) tahap I untuk pengalihan kepemilikan sebanyak 1.911 dari total 6.050 menara telekomunikasi Telkomsel ke Mitratel yang dilakukan oleh Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko (kedua dari kiri) dan Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro (kedua dari kanan) di Jakarta, Selasa (20/10). / Dok. Telkom

OmFin menilai, pesaing terbesar Mitratel di sektor infrastructure telco nantinya adalah TBIG milik Grup Saratoga dan TOWR milik Grup Djarum. Baginya, Mitratel memiliki bisnis yang cukup prospektif, sejalan dengan masih baiknya prospek pada saham-saham di sektor menara.

“Kalau mitratel jadi IPO di Indonesia, kemungkinan dia ada di tengah antara TBIG dan TOWR,” ungkapnya.

Di samping itu, Mitratel juga diuntungkan dengan adanya label BUMN yang melekat pada perusahaan tersebut serta didukung oleh Telkom, salah satu emiten big caps.

Memiliki sekitar 16.000 menara, OmFin bilang Mitratel mempunyai keunggulan dan kesiapan di luar Pulau Jawa dengan jumlah tenant yang cukup besar.

“Kelebihan lainnya juga Mitratel ini memiliki kesiapan di luar Jawa. Karena kalau TOWR dan TBIG rata-rata masih di dalam Pulau Jawa,” jelas dia.

Tak hanya itu, sambung OmFin, nilai tambah lain yang dimiliki Mitratel adalah memiliki pelanggan tetap yang loyal, yakni PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).

Sesama entitas anak usaha Telkom, maka hampir dipastikan kebutuhan akan sarana infrastruktur telekomunikasi Telksomsel akan dipenuhi oleh Mitratel.

“Nilai tambah lainnya misalnya market share Mitratel di Telkomsel besar, dan otomatis Telkomsel akan menjadi konsumen tetapnya ‘kan,”

Skema Dual Listing
Ilustrasi menara Base Transceiver Station (BTS) PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) / Facebook @Mitratel

Lebih lanjut, OmFin merujuk ekuitas Mitratel yang saat ini berkisar Rp9 triliun dengan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sekitar Rp4 triliun. Maka, valuasi Mitratel ditaksir mencapai angka Rp40 triliun.

“Kalau kita asumsikan IPO di angka Rp14,5 triliun–Rp15 triliun, artinya itu sekitar 30–40 persen saham yang dilepas ke publik. Besar sekali,” paparnya.

Dengan dana sebesar itu, ia menganggap penyerapan saham dari aksi IPO Mitratel di dalam negeri akan kurang menjamin. Apalagi, kata dia, saat ini perekonomian global masih dalam tahap pemulihan.

Terlebih, BPJS Ketenagakerjaan sebagai institusi dana kelolaan pelat merah terbesar di Tanah Air sedang berupaya mengurangi porsi portofolio saham.

“Saya tidak katakan tidak bisa, tapi di tengah kondisi begini sepertinya agak berat,” imbuhnya.

Berdasarkan analisisnya tersebut, ia menduga Mitratel tidak akan melaksanakan IPO di dalam negeri. Kemungkinan besar, IPO Mitratel akan digelar di luar negeri atau paling tidak dengan menggukanan skema dual listing.

“Jalan ini yang sangat memungkinkan kalau intensinya mau IPO dengan perolehan dana sebesar itu. Kalau di Indonesia saya agak pesimistis bisa mencapai target,” tegas OmFin.

Sebelumnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membenarkan kabar rencana penawaran umum perdana saham (IPO) pada anak usahanya PT Dayamitra Telekomunikasi alias Mitratel. Namun emiten pelat merah ini masih belum bisa memastikan kapan rencana IPO tersebut bakal terealisasi.

Manajemen Telkom menjelaskan, saat ini pihak perseroan tengah mengkaji rencana IPO Mitratel yang sudah direncanakan sejak 2012 silam. Kajian dilakukan guna memastikan strategi IPO ini dapat berjalan baik dan optimal. (SKO)

Berita Terkait