Kecanggihan Peradaban Mesir Kuno, Ini Cara Piramida Giza Dibangun

07 September 2022 22:30 WIB

Penulis: Rizky C. Septania

Editor: Fakhri Rezy

Piramida Agung Giza di Mesir. (Wikipedia)

KAIRO - Tiga piramida Giza yang berada di Mesir menjadi salah satu keajaiban dunia. Terdiri dari tiga bangunan besar yang letaknya di dataran tinggi membuat manusia yang hidup di era modern bertanya, bagaimana peradaban Mesir Kuno memindahkan batuan raksasa dengan teknologi minim.

Jika melihat ketiga piramid itu sekarang masih berdiri dengan megahnya, hal ini tentunya bukan masalah bagi orang Mesir yang hidup di era tersebut. Pada zaman itu, teknologi mesir kuno telah menemukan cara mengatasi masalah logistik saat pembangunan piramida Mesir.

Mengutip Acient Origin Rabu, 7 September 2022, penduduk Mesir memanfaatkan kanal air untuk menghantarkan kapal yang memuat batuan besar yakni granit dan batuan kapur. Batuan ini nantinya digunakan untuk pembangunan Piramida Giza.  

Keberadaan kanal ini ditemukan setelah penggalian arkeologi dan pembangunan perkotaan di wilayah tersebut telah mengungkapkan keberadaan serangkaian kanal dan cekungan di sekitar wilayah.

Menurut arkeolog, struktur buatan manusia ini akan memanfaatkan aliran Sungai Nil dan menciptakan hubungan langsung antara sungai paling terkenal di Afrika dan Dataran Tinggi Giza. Bagian ini akan sempurna bagi pembangun piramida untuk menghemat waktu dan uang.

Tak hanya lewat penggakian arkeologi. Pembangunan kanal pada peradaban Mesir Kuno bahkan tercatat dalam manuskrip  yang dikenal sebagai papirus Wadi al Jarf.

Pada manuskrip tersebut, tertulis jelas desain proyek pengalihan air yang memungkinkan pengangkutan material ke Dataran Tinggi Giza dijelaskan secara rinci. 

Dokumen-dokumen ini juga menceritakan bagaimana batu kapur digali di sebuah situs yang dikenal sebagai Toura dan diangkut ke lokasi pembangunan Piramida Agung Khufu, satu bangunan  terbesar dari tiga piramida di Giza . Rute kanal yang menghubungkan tambang dengan Giza menempuh jarak sekitar 17 kilometer.

Dengan adanya dan penemuan arkeologi di daerah tersebut maka terkonfirmasi bahwa cekungan, pelabuhan, dan kanal yang dijelaskan dalam papirus Wadi-al-Jarf benar-benar ada.

Meski bukti fisik dan tertulis sudah ditemukan, para Arkeolog masih menyangsikan bagaimana kanal air bisa berfungsi hingga ke dataran tinggi giza. Sebab, saat ini letak Sungai Nil sendiri berada kisaran delapan kilometer d dari timur Piramida Giza. Pun permukaannya berada di bawah kanal air. Jadi Mustahil untuk mengalirkan air ke kanal tersebut.

Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Arkeolog Prancis lewat sebuah prosiding.

Lewat penelitian yng dimuat dalam Proceedings of the National Academy of Sciences,  para ilmuwan telah mengkonfirmasi bahwa ketinggian air di anak sungai Nil yang saat itu berada di kisaran wilayah piramida  akan cukup selama hari-hari Dinasti Keempat untuk membuat hubungan permanen dengan sistem kanal buatan.

Ini kemudian memungkinkan kapal pemasok untuk membawa jutaan ton batu kapur dan granit langsung ke Dataran Tinggi Giza.

Berdasaekanbteuan Arkeolog, kisaran 14.800 hingga 5.500 tahun yang lalu,ketinggian air di Khufu selama  periode lembab Afrika.  Namun, setelah itu, ketinggian air mulai surut secara bertahap meskipun anak sunga cabang Khufu tetap berada di ketinggian selama Periode Kerajaan Lama.

Sekadar informasi, Piramida Agung Giza,  konon dibangun sebagai monumen untuk firaun Khufu. Bangunan ini selesai dibangun sekitar 4.500 tahun yang lalu, begitu juga dengan dua bangunan lainnya, piramida Khafre dan Menkaure. 

Pada saat ini anak sungai Khufu sudah dapat dilayari, membuat pergerakan material konstruksi berat bisa dilakukan.

Punya teknologi kompleks

Penulis artikel di Proceedings of the National Academy of Sciences menjelaskan dengan tepat bagaimana sistem sungai dan kanal yang kompleks bekerja di ujung Giza.

“Hipotesis kompleks pelabuhan fluvial mendalilkan bahwa pembangun piramida memotong tanggul barat cabang Khufu dari Sungai Nil dan mengeruk cekungan ke kedalaman sungai untuk memanfaatkan kenaikan tahunan tujuh meter banjir Nil seperti lift hidrolik, membawa permukaan air yang lebih tinggi ke dasar Dataran Tinggi Giza. Dengan cara ini, memungkinkan untuk mengangkut persediaan dan bahan bangunan langsung ke kompleks piramida,” tulis jurnal tersebut.

Sistem kanal-dan-sungai akan memungkinkan pengangkutan material dan orang dalam jarak yang lebih jauh juga. Sebab, kanal memang dibangun untuk memfasilitasi konstruksi monumen dari semua jenis di Mesir kuno, dan juga menghubungkan Giza dengan kota-kota Mesir di wilayah tersebut. 

Banjir tahunan Sungai Nil menyediakan semua air yang dibutuhkan untuk sistem seperti itu untuk bekerja dan orang Mesir menemukan cara terbaik untuk memanfaatkan dan menggunakannya untuk keuntungan mereka.

Meskipun tak bisa dibandibgkn dengan piramida,  sistem kanal, cekungan, pelabuhan, dan anak sungai alami yang saling terkait  membuka potensi transportasi Sungai Nil.  Artinya, kanal air pada peradaban Mesir Kuno sendiri merupakan karya jenius teknik para pembangun piramida.

Tanpa sistem seperti itu untuk mengarahkan air ke tempat yang dibutuhkan, kegiatan pembangunan piramida Mesir akan lebih sulit.

 

 

Berita Terkait