Keberhasilan dan Kegagalan Vaksinasi di Dunia Selama Satu Tahun

10 November 2021 20:00 WIB

Penulis: Fadel Surur

Editor: Laila Ramdhini

Vaksin pfizer (Pixabay)

JAKARTA - Desember 2021 akan menandakan satu tahun peluncuran kampanye vaksinasi global melawan virus corona (COVID-19). Data telah menunjukkan keberhasilan vaksinasi. Sampai akhir Oktober 2021, lebih dari 7 miliar suntikan vaksin telah dilakukan di seluruh dunia. 

Namun demikian, angka-angka tingkat regional dan negara menunjukkan perbedaan. Beberapa negara (kebanyakan negara maju) telah sukses melakukan vaksinasi pada sebagian besar populasinya, tetapi masih banyak (kebanyakan negara berkembang) yang belum menunjukkan progres yang menjanjikan. 

Negara-Negara Kaya Menerima Vaksin Lebih Awal. Sumber: EIU

Kanada

Perjalanan vaksinasi di Kanada berjalan lambat meskipun diawali dengan salah satu kampanye inokulasi tercepat di dunia. Keberhasilan ini tidak diraih dengan mudah; di awal 2021, ketika kebanyakan negara ekonomi G7 telah memvaksinasi mayoritas penduduk yang rentan, Kanada sempat tertinggal dengan tingkat vaksinasi hanya 1%. Ini tampak seperti sebuah paradoks karena Kanada telah memesan jumlah vaksin per kapita tertinggi (sekitar 10 dosis per penduduk). 

Namun, masalah sebenarnya ada di Eropa. Pemerintah Kanada memutuskan untuk membeli vaksin hanya dari pabrik di Eropa karena khawatir A.S tidak akan mengekspor vaksin virus corona pada negara tetangganya. Sayangnya, saat itu penundaan produksi kerap terjadi di Eropa. Negara-negara pun menyadari bahwa produksi vaksin tidak semudah itu dan pabrik vaksin bisa memakan waktu berminggu-minggu untuk mencapai kapasitas penuh.

Situasi ini menempatkan pemerintahan yang dipimpin Perdana Menteri Justin Trudeau dalam tekanan yang besar. Meski begitu, secara menakjubkan pemerintahan Trudeau mempertahankan prediksi bahwa seluruh orang Kanada akan dapat menerima vaksin pada akhir musim panas. Prediksi Trudeau pun terwujud, sejak bulan Maret, produksi di Eropa mulai mereda dan Kanada memulai peluncuran cepat yang mengandalkan infrastruktur vaksinasi yang memadai. 

Sampai awal Agustus, lebih dari 60% penduduk Kanada telah divaksinasi, salah satu yang tertinggi di dunia waktu itu. Hasil positif ini pun berkontribusi pada terpilihnya kembali Trudeau pada bulan September, menyoroti bagaimana program vaksinasi telah menjadi aset–atau kekurangan–politis bagi pemerintah.

Russia

Di atas kertas, Russia sudah siap meluncurkan vaksin virus corona; Russia adalah negara pertama di dunia yang mendaftarkan vaksin (Sputnik V), dibangun bertahun-tahun berdasarkan keahlian dalam bidang itu. Selain itu, pemerintahan Russia, sebagai bagian dari inisiatif “diplomasi vaksin”, melakukan upaya besar untuk mempromosikan Sputnik V sebagai alternatif terpercaya dari vaksin buatan Barat.

Namun, hampir setahun kemudian, upaya vaksinasi domestik dan global Russia mengalami kegagalan. Pada akhir Oktober, hanya sepertiga penduduk Russia yang telah menerima vaksin, dan negara-negara yang berencana menggunakan Sputnik V beralih ke alternatif lainnya. 

Ada dua faktor yang menyebabkan vaksinasi di Russia mengalami kegagalan. Yang pertama adalah tingkat keraguan terhadap vaksin yang sangat tinggi di negara-negara bekas Soviet. Hanya 40-45% penduduk Russia yang bersedia menerima vaksin, sebuah proporsi yang masih belum berubah dalam beberapa bulan terakhir walaupun ada lonjakan kasus dan kematian akibat virus corona. Bahkan mandat vaksin tidak berhasil dijalankan di negara yang sebagian besar populasinya percaya bahwa virus corona adalah sebuah eksperimen. Sebaliknya, mandat itu justru mendorong berkembangnya industri yang mengeluarkan sertifikat vaksinasi palsu. 

Masalah kedua adalah manufaktur, yang telah mengganggu produksi dosis kedua Sputnik V dan menggagalkan upaya diplomasi vaksin Russia. Kegagalan Russia dalam memvaksinasi penduduknya memiliki konsekuensi yang mengerikan. Menurut data The Economist, negara itu memiliki angka kematian per kapita tertinggi kelima di dunia (setelah Peru, Bulgaria, Serbia, dan Makedonia Utara), dengan perkiraan 800.000 kematian sejak awal 2020. Tragedi ini akan membebani prospek ekonomi negara untuk beberapa tahun ke depan, terutama karena prospek demografi Russia sudah suram bahkan sebelum pandemi.  

Chile

Peluncuran vaksin virus corona di Chile dimulai lebih awal dan berjalan cepat. Pada bulan Mei, 42% penduduk Chile sudah menerima vaksin, jauh lebih unggul dari kebanyakan negara maju pada saat itu. Setelah 6 bulan, Chile mencatatkan tingkat vaksinasi tertinggi di seluruh dunia, yaitu 79%. Di luar sistem perawatan Chile dan infrastruktur vaksinasi yang memadai, serta upaya signifikan untuk mengamankan vaksin lebih awal, peluncuran cepat vaksin juga merupakan hasil dari diplomasi vaksin. 

Chile mengamankan pasokan berjumlah besar dari suntikan Sinovac buatan China lebih awal dan menerima batch pertama pada akhir Januari, meningkatkan kampanye vaksinasi yang sempat lamban saat itu. Pada bulan Mei, Sinovac menjadi pilihan vaksin di Chile dan digunakan untuk 90% suntikan. Chile tidak sendiri, negara Amerika Latin lainnya termasuk El Savador, Meksiko, dan Uruguay juga bergantung pada vaksin dari China tersebut.

Meski begitu, peluncuran cepat ini tidak dapat mencegah kesalahan yang terjadi selama berbulan-bulan selanjutnya. Tingkat vaksinasi yang tinggi membuat otoritas Chile terlalu percaya diri bahwa keadaan terburuk pandemi sudah terlewati. Pembatasan terkait virus corona dilonggarkan mulai bulan Mei, saat kurang dari setengah penduduk sudah divaksinasi – dengan Sinovac yang terbukti kurang efektif dibanding jenis lainnya terhadap varian Delta, yang penyebarannya semakin cepat secara global. Peningkatan kasus yang disebabkannya pun memaksa Chile kembali ke lockdown, yang berangsur-angsur membantu menurunkan tingkat kasus dan kematian sejak Agustus. 

Pemerintah Chile sedang mencoba untuk diversifikasi portofolio vaksinnya, dengan pesanan tambahan Pfizer, Moderna, dan Sputnik V. Secara bersamaan, Chile juga meluncurkan program booster menggunakan vaksin AstraZeneca dan Pfizer. Namun, pengiriman vaksin non-China akan sulit karena pasokan global gagal memenuhi permintaan yang besar.

Dilihat dari negara-negara pada tingkat perkembangan yang sama, Kamboja berencana untuk memvaksinasi mayoritas penduduknya pada akhir 2022 atau awal 2023. Tetapi, pada bulan Oktober, Kamboja mencapai salah satu tingkat inokulasi tertinggi di seluruh dunia, dengan 80% penduduknya telah menerima vaksin (menungguli semua negara ASEAN, kecuali Singapura).

Keberhasilan ini disebabkan oleh tiga faktor. Pertama, Kamboja mengamankan pasokan vaksin dari China sejak awal sebagai bagian dari upaya diplomasi vaksin China untuk menjual vaksin ke negara-negara berkembang. Dengan itu, Kamboja mewujudkan prediksi bahwa mekanisme COVAX yang disponsori WHO tidak dapat menjadi langkah yang dapat diandalkan bagi negara berkembang untuk mengakses vaksin. 

Kedua, pemerintah Kamboja meminta bantuan militer untuk mengatasi kekurangan petugas kesehatan, terutama di daerah pedesaan. Taktik ini juga terbukti berhasil. Di banyak negara Asia seperti India dan Bangladesh, kekurangan tenaga kesehatan menghambat proses vaksinasi. Ketiga, otoritas Kamboja sangat berhati-hati untuk tidak mencabut pembatasan jarak social sebelum mencapai cakupan imunisasi tingkat tinggi.

Peluncuran vaksinasi Kamboja yang sangat cepat berarti prospek ekonomi jangka pendek nya lebih cerah daripada negara tetangga, seperti Thailand dan Vietnam. Ini terbukti berlaku di sektor pariwisata, yang menyumbang 12% pada ekonomi Kamboja. Pemerintah Kamboja berencana untuk membuka perbatasan pada akhir 2021 melalui kampanye “Cambodia safe” sebagai usaha meyakinkan wisatawan yang peduli terhadap keselamatan. 

Namun, terlepas dari usaha-usaha tersebut, jumlah wisatawan tetap tidak mungkin kembali ke tingkat pra-pandemi untuk beberapa tahun ke depan. Kami mengharapkan China, sebagai negara asal wisatawan yang berkunjung ke Kamboja, untuk mempertahankan control dan karantina yang ketat bagi para pelancong pada tahun depan.  

Tingkat Vaksinasi Negara-Negara per 8 November 2021. Sumber: ourworldindata.org

Afrika

Upaya vaksinasi di Afrika gagal total. Sampai akhir Oktober, kurang dari 6% penduduk di negara-negara Afrika sudah menerima vaksin. Di banyak negara, termasuk Burkina Faso, Kamerun, Chad, Etiopia, Guinea Bissau, Mali, Nigeria, dan Tanzania, tingkat vaksinasi nya bahkan lebih rendah (sekitar 1%), dengan prospek peningkatan yang kecil dalam waktu dekat.

Penyebab rendahnya tingkat vaksinasi sudah diketahui, meskipun ada perbaikan belakangan ini, produksi global masih tertinggal dari permintaan. Negara-negara berkembang mengalami penundaan yang lama untuk mendapatkan vaksin. Sementara itu, solidaritas global juga tidak efektif. Sejauh ini COVAX sudah mengirimkan hanya 400 juta dosis vaksin secara global (dibandingkan dengan target awal pengiriman 1,9 miliar dosis pada 2021). Sumbangan dari negara-negara maju juga gagal terwujud. Sampai akhir Oktober, negara-negara maju telah mengirimkan hanya 43 juta dosis vaksin (dari jumlah yang dijanjikan sebesar 400 juta – yang masih jauh di bawah kebutuhan). 

Bahkan jika vaksin dikirimkan ke Afrika dalam jumlah banyak, masalah vaksinasi di benua itu tetap tidak akan terselesaikan. Negara-negara di Afrika menghadapi tiga kendala dalam peluncuran program inokulasi. Yang pertama adalah logistik, karena kurangnya koneksi transportasi dan infrastruktur yang buruk di seluruh benua. Factor-faktor ini menunda peluncuran beberapa suntikan yang diterima, terkadang melampaui tanggal kadaluarsa (Kongo, Ghana, Madagaskar, Malawi, dan Sudan Selatan terpaksa menghancurkan batch vaksin yang telah kadaluarsa).

Selanjutnya adalah kurangnya tenaga kesehatan untuk memberikan suntikan, terutama di daerah pedesaan. Masalah ketiga berkaitan dengan keraguan terhadap vaksin. Sebuah study dari Uni Afrika (AU) menunjukkan bahwa di banyak negara-negara Afrika, termasuk Burkina Faso, Kongo, Nigeria, dan Senegal, vaksin dianggap “kurang aman” dibanding suntikan lain. Disinformasi adalah masalah utamanya. 

Di Nigeria, hampir 80% penduduknya percaya bahwa ancaman virus corona sebenarnya “dilebih-lebihkan”. Di Lagos, pihak berwenang menggunakan izin klinik swasta untuk mematok harga tinggi bagi vaksin, sebagai cara untuk menampilkan vaksin sebagai produk “mewah”. Sementara di Burkina Faso, 42% penduduknya percaya bahwa virus corona “direncanakan oleh aktor asing”, dan setengah dari populasi nya percaya bahwa Afrika digunakan sebagai “kelinci percobaan”. Ke depannya, pihak berwenang dan tenaga kesehatan harus menghadapi perjuangan keras untuk melawan masalah persepsi ini.

 

Berita Terkait