Kasus Pailit Marak di Industri Properti, Ini Bisa Jadi Ancaman Krisis Baru

JAKARTA – Pandemi COVID-19 menghantam kuat sektor properti. Penjualan jeblok dan kasus pailit pun marak terjadi di industri ini. Kondisi buruk ini dinilai dapat menjadi ancaman krisis baru bagi ekonomi nasional.

Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Ajib Hamdani mengatakan maraknya kasus pailit di sektor properti sempat terjadi pada 2012-2014 silam.

Menurutnya, hal tersebut sangat berbahaya bagi perekonomian nasional jika pemerintah tidak segera mengambil langkah tegas. Apalagi, saat ini perekonomian Indonesia tengah beranjak pulih dari terpaan pandemi.

“Jika tidak ada perhatian dan penanganan yang tepat, dampak dari masalah ini secara sistemik dapat mempengaruhi ratusan industri berikut dengan puluhan juta tenaga kerja,” tutr Ajib di Jakarta, Senin, 12 Oktober 2020.

Ia menyebutkan kelonggaran dalam undang-undang adalah salah satu faktor yang menyebabkan kasus pailit kembali ramai terjadi. Padahal, industri properti tengah tumbuh bergerak dengan menunjukkan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Sektor properti memimpin penguatan dengan kenaikan 1,46 persen ke level 301,16 bulan lalu. Jangan sampai kontribusi pengusaha sektor properti nasional sia-sia karena kurang maksimalnya perlindungan baik kepada pelaku usaha maupun konsumennya,” tuturnya.

Dia menegaskan urgensi dari pentingnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) untuk terus diakselerasi oleh pemerintah dan DPR.

“Adanya payung hukum yang kuat dan dapat melindungi berbagai pihak. Dari pengusaha, pemodal, dan pembelinya. Tentu dapat menghadirkan iklim ekonomi yang ideal di setiap industri,” sebutnya.

Ia berharap bahwa ke depannya industri properti, pihak pengembang maupun konsumennya dapat terjaga dan terlindungi dari ulah para oknum dan permasalahan lainnya.

“Pemulihan ekonomi bangsa pun menjadi sebuah keniscayaan. Seperti bambu, untuk dapat menunjang pertumbuhan yang pesat, diperlukan akar atau pondasi yang kuat,” ujar dia.

Tags:
ekonomiekonomi nasionalHeadlineHimpunan Pengusaha Muda IndonesiaHipmikrisis ekonomipailitProperti
wahyudatun nisa

wahyudatun nisa

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: