Karpet Merah untuk GoTo Melantai di Bursa

09 Juni 2021 23:02 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Gojek dan Tokopedia secara resmi mengumumkan pembentukan Grup GoTo pada hari ini, Senin, 17 Mei 2021. / Dokumentasi Gojek-Tokopedia

JAKARTA – Perusahaan kolaborasi bisnis Gojek-Tokopedia, GoTo, menjadi entitas yang paling ditunggu untuk mencatat saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia.

Ketua Indonesia Fintech Society (IF Soc) Mirza Adityaswara mengatakan jika GoTo berhasil melantai di bursa, maka perusahaan teknologi lainnya bakal lebih berani untuk melakukan hal serupa

Mirza mengatakan penting bagi perusahaan teknologi seperti GoTo memanfaatkan kondisi pasar modal Indonesia yang tengah berseri-seri.

Hal ini tampak dari semakin tingginya porsi investor domestik dalam pasar modal dalam negeri. Menurut data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), porsi investor domestik terus merangkak naik dari 48,15% pada 2019 menjadi 50,79% pada akhir 2020.

Dari segi regulasi, bursa Indonesia juga semakin akomodatif dengan melakukan reklasifikasi emiten pada Januari 2021. Hadirnya klasifikasi baru seperti teknologi, kata Mirza, menjadi bukti perusahaan teknologi semakin dilirik untuk melantai di bursa.

“Di Januari 2021 PT BEI (Bursa Efek Indonesia) sudah memasukan klasifikasi perusahaan teknologi, ini menjadi tanda bursa kita sudah semakin mature,” ujar Mirza dalam Media Briefing, Rabu, 9 Juni 2021.

Perusahaan Teknologi Berpotensi Rajai Bursa

Mirza mengungkapkan, selain terdorong kondisi bursa yang mulai akomodatif, lini bisnis produk teknologi juga prospektif. Berkaca dari bursa Amerika Serikat, perusahaan teknologi hanya butuh 10 tahun untuk bercokol sebagai emiten dengan nilai kapitalisasi tinggi (big cap).

Sejak tahun lalu, Apple Inc baru mencatatkan rekor dengan nilai kapitalisasi terbesar, yakni US$2,02 triliun atau Rp31,3 kuadriliun (asumsi kurs Rp14.249,75 per dolar Amerika Serikat).

Tidak jauh berbeda, perusahaan teknologi di Amerika Serikat juga telah memiliki nilai kapitalisasi pasar yang tinggi seperti Microsoft (US$1,62 triliun), Facebook Inc (US$766,36 miliar), hingga Alphabet Inc (US$1,07 triliun).

Sinyal yang sama disebut Mirza dengan melihat valuasi  GoTo yang menembus US$40 miliar. Menurut Mirza, keputusan perusahaan teknologi raksasa seperti GoTo untuk IPO bisa mendorong perusahaan lainnya untuk tercatat di bursa.

“Bursa Indonesia itu dinilai adanya old economy saja, padahal perusahaan teknologinya ada dan sudah di akomodasi,” ujar Mirza.

Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014-2019 Rudiantara menilai masuknya GoTo bisa mendorong perusahaan lain lebih berani untuk tercatat di bursa. Menurutnya, pendanaan oleh publik menjadi opsi yang bisa ditempuh, bahkan bila perusahaan teknologi tersebut masih belum mencatatkan keuntungan.

“Lost (kerugian) perusahaan di bursa sudah bisa sampai 6 tahun, kebijakan itu sangat akomodatif untuk perusahaan teknologi yang belum bisa gain profit,” kata Rudiantara.

Seperti diketahui, Indonesia sebetulnya menjadi rumah bagi banyak perusahaan rintisan (start up) yang tengah melakukan ekspansi. Sebanyak 7 dari 11 startup berstatus Unicorn di Asia Tenggara diketahui berasal dari Indonesia.

Total valuasi dari 11 start up tersebut ditaksir mencapai US$28 miliar. Start up berstatus centaur atau selevel di bawah unicorn di Indonesia menguasai 38% dari keseluruhan start up dengan nilai valuasi berkisar berkisar US$100 juta-US$999 juta tersebut.

Ekosistem ini yang menjadi keunggulan Indonesia dalam membangun perusahaan teknologi. Ekosistem itu, kata Rudiantara, perlu diakselerasi dengan menambah modal melalui opsi IPO di bursa dalam negeri.

“Di Amerika itu sudah didominasi oleh perusahaan teknologi. Dengan inovasi yang tinggi di Indonesia, saya rasa opsi IPO ini bisa menjadi alternatif karena tidak jarang proses private placement dari modal ventura perlu waktu lama,” ujar Rudiantara.

Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri pun menyebut IPO perusahaan teknologi itu sudah banyak diantisipasi oleh investor dalam negeri. Menurutnya, produk teknologi yang sudah membumi membuat investor, terutama dari kalangan ritel, menanti IPO perusahaan teknologi tersebut.

“Sekarang perusahaan teknologi membawa inovasi baru, ini tentunya dirasakan oleh masyarakat. Kemudahan dari perusahaan teknologi ini tidak gratis, selama ini selalu investor private placement, kalau didapat dari capital market, bisa berefek positif bagi perusahaan karena investornya siap mencaplok,” kata Yose. (LRD)

Berita Terkait