Kapal Selam Nuklir Perancis akan Jalani Operasi Cangkok Hidung

PARIS- Angkatan Laut Perancis mengkonfirmasi mereka akan mencangkok bagian depan baru ke lambung kapal selam serang nuklir kelas Rubis, Perle yang rusak parah dalam kebakaran di dok kering  di Toulon, Prancis selatan, musim panas lalu.

Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly mengumumkan bahwa kapal selam akan diperbaiki dan kembali beroperasi. Selama perbaikan, bagian haluan Saphir, kapal selam serang nuklir kelas Rubis lain yang sebelumnya sudah pensiun, akan diambil dikawinkan dengan Perle di galangan kapal selam Naval Group di Cherbourg, Prancis utara. Parly mengatakan pekerjaan tersebut akan memakan waktu enam bulan untuk menyelesaikannya.

Jenis “operasi hidung” ini sering terjadi untuk kapal selam yang rusak parah. Setelah kapal serang kelas Los Angeles Angkatan Laut AS USS San Francisco bertabrakan dengan gunung bawah laut di Pasifik tengah pada tahun 2005, haluan USS Honolulu kemudian dicangkokkan.

Sebelum pensiun pada 2019, kapal selam serang nuklir kelas Rubis, Saphir, meninggalkan Faslane di Skotlandia untuk latihan Joint Warrior.

Emmanuel Gaudez, juru bicara galangan kapal mengatakan Naval Group telah melakukan operasi kompleks jenis ini di masa lalu.  Galangan kapal berencana untuk mulai mengerjakan perbaikan Perle pada Januari 2021, setelah kapal selam itu tiba di Cherbourg. Diharapkan pekerjaan itu akan selesai tepat waktu agar Perle dikirim kembali ke Angkatan Laut Prancis pada awal 2023.

Gaudez sebagaimana dilaporkan War Zone 25 Oktober 2020 mengatakan bahwa perbaikan tersebut tidak akan mengganggu jadwal kapal selam serang kelas Barracuda Angkatan Laut Prancis, yang juga sedang dibangun oleh Naval Group.

Perle mengalami kerusakan parah setelah kebakaran terjadi di atas kapal pada 12 Juni 2020.  Kebakaran dilaporkan akibat sambaran petir ketika menjalani perbaikan. Berada di bagian depan kapal, kobaran api terus menyala selama lebih dari 14 jam.

Tidak ada senjata atau bahan bakar nuklir di atas kapal pada saat itu dan ruang reaktor tidak terpengaruh oleh api. Tidak ada laporan korban luka. Namun, suhu tinggi yang disebabkan oleh api menyebabkan kerusakan struktural yang tidak dapat diperbaiki pada komponen baja di bagian depan lambung, yang sekarang akan dipotong dan diganti.

Mengenai Perle, Menteri Pertahanan Parly berbicara tentang pentingnya memulihkan kapasitas operasional Angkatan Laut Prancis sambil memastikan keselamatan para pelaut. Jelas, ada persyaratan agar keempat kapal selam kelas Rubis yang tersisa harus beroperasi, terutama ketika pada waktu tertentu dua atau tiga dari kapal ini kemungkinan besar akan direparasi, menjalani pemeliharaan terjadwal, atau untuk melatih awaknya . Kapal kelas Rubis pertama, Saphir, ditarik dari layanan pada Juli 2019 dan sekarang tersedia untuk dikanibal sebagai bagian dari perbaikan.

Suffren, yang pertama dari kapal Kelas Barracuda di mana  enam di antaranya pada akhirnya direncanakan, tidak akan tersedia hingga 2021. Angkatan Laut Prancis menganggap enam kapal selam serang diperlukan untuk memastikan bahwa dua atau tiga kapal selam dapat secara permanen dikerahkan di laut di mana perannya termasuk melindungi kapal induk Charles de Gaulle dan kapal selam rudal balistik bersenjata nuklir kelas Triomphant.

Namun, hingga kedatangan kelas Barracuda, Angkatan Laut Prancis tetap bergantung pada kelas Rubis, sebuah desain yang dibangun pada pertengahan 1970-an dan merupakan kapal selam serang bertenaga nuklir pertama negara itu. Dengan bobot terendam 2.600 ton, ini adalah kapal selam serang bertenaga nuklir terkecil di dunia yang aktif saat ini.

Tags:
kapal perangkapal selamkapal selam nuklirkapal selam nuklir perancisnuklirteknologi kapalteknologi militer
%d blogger menyukai ini: