Kalah dari China, Jokowi Sebut Ekonomi RI Masih Belum Pulih Hingga 2022

04 Mei 2021 22:02 WIB

Penulis: Muhamad Arfan Septiawan

Presiden Joko Widodo dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. / Facebook @smindrawati

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan pemulihan ekonomi Indonesia bakal terus berlanjut pada 2022. Sejalan dengan rencana tersebut, Jokowi meminta seluruh kementerian dan lembaga fokus pada belanja padat karya yang memicu pertumbuhan ekonomi.

“Rencana kerja pemerintah tahun 2022 masih mengusung pemulihan ekonomi dan reformasi struktural,” Kata Jokowi dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional, Selasa 4 Mei 2021.

Jokowi pun menyebut anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mulai tahun ini ditujukan untuk memulihkan serapan kerja. Pasalnya, peningkatan serapan kerja menjadi gerbang dalam mendongkrak konsumsi rumah tangga.

Apalagi, konsumsi rumah tangga berkontribusi hingga 57,7% terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Program padat karya dinilai Jokowi bisa memberi efek perekonomian yang cepat.

“Kita harus juga mendorong agar industri mulai bangkit, para pekerja mulai bekerja, domestic supply side harus ditingkatkan. Tetapi semua dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat,” terang Jokowi.

Kalah dari China

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia belum bisa se-agresif negara-negara lain di Asia pada tahun ini.

Suharso memperkirakan ekonomi Indonesia masih terkontraksi di kisaran 0,6% hingga 0,9% pada kuartal I-2021. Angka itu, kata Suharso, tertinggal jauh dari China yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi hingga 18,3% pada kuartal I-2021.

“China merupakan salah satu contoh ekonomi yang pulih dengan cepat pascapandemi. Pertumbuhan ekonomi China bahkan mengalami rebound pada kuartal-I 2021 dengan tumbuh sebesar 18,3%,” kata Suharso dalam kesempatan yang sama.

Kendati pemulihan Indonesia dinilai lebih lama, Suharso menjanjikan perbaikan ekonomi bakal diiringi dengan reformasi struktural. Hal itu, kata Suharso, dilakukan demi menjaga asa Indonesia masuk kategori negara maju pada 2045.

Stimulasi pertumbuhan ekonomi pada 2022 ditargetkan mencapai 6%. Bila pertumbuhan ekonomi Indonesia secara gradual terus meningkat sejak 2022, Indonesia diyakini bisa lepas dari jerat middle income trap pada 2036.

“Dibutuhkan pertumbuhan rata-rata 6% dan terus meningkat untuk membawa Indonesia menjadi negara maju dan lepas dari middle income trap sebelum 2045,” terang Suharso. (LRD)

Berita Terkait