Kadin Ingatkan Jangan Gegabah Ambil Kebijakan Lockdown

JAKARTA – Masyarakat terus mempertanyakan opsi lockdown untuk menekan angka infeksi virus corona, terlebih Malaysia baru saja mengumumkan kebijakan itu untuk dua pekan ke depan.

Sarman Simanjorang, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jakarta, menyebut pemerintah harus teliti mengambil sikap tersebut. Ia mengaku pelaku usaha sepenuhnya mendukung apapun kebijakan yang akan diambil nanti.

“Pemerintah memang harus ekstra hati-hati. Pelaku usaha mendukung penuh semua kebijakan pemerintah untuk menghadapi berbagai dampak virus corona ini termasuk bagaimana agar dapat mematikan penyebarannya,” katanya saat dihubungi melalui aplikasi pesan WhatsApp oleh TrenAsia dari Jakarta, Selasa 17 Maret 2020.

Menurutnya, dalam konteks lockdown perlu adanya pertimbangan dari berbagai aspek, termasuk dari sisi ekonomi dan kesiapan masyarakat.

“Negara-negara lain ketika diberlakukan lockdown mereka sudah lebih siap, bagaimana dengan kita?” tanyanya.

Lebih lanjut, ia menerangkan jika kondisi ekonomi Indonesia sudah sangat tertekan tanpa adanya lockdown. Pemerintah dinilai harus punya solusi bagaimana roda perekonomian jangan sampai stagnan.

“Apalagi yang bersentuhan dengan kebutuhan pokok pangan masyarakat. Terlebih kurang lebih 1,5 bulan lagi kita akan memasuki bulan Ramadan, stok pangan kita sudah harus dipersiapkan dari sekarang,” kata dia.

Meski sulit, ia meyakini bahwa pemerintah akan membuat kebijakan yang terbaik termasuk opsi jika memang kebijakan lockdown merupakan alternatif yang harus diambil.

Senada dengan Sarman, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebut kebijakan lockdown bukan hal yang mudah mengingat banyaknya persiapan yang harus dilakukan pemerintah.

Lockdown itu harus dengan pertimbangan yang sangat matang. Benar-benar detail bukan asal kebijakan,” sebutnya.

Sementara ini, ia merasa cukup dengan catatan masyarakat mematuhi arahan dari pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar dan mengurangi kontak secara fisik.

“Kita tidak ingin lockdown, yang bisa kita lakukan sekarang ini adalah isolasi secara terbatas,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa kedisiplinan masyarakat menjadi sangat penting persoalan virus corona ini bukan pada mematikan atau tidaknya, melainkan pada cepatnya persebaran virus sehingga sangat berbahaya.

Apa itu lockdown?

Lockdown diambil dari bahasa Inggris, artinya adalah terkunci. Jika dikaitkan dalam istilah teknis dalam kasus Corona atau COVID-19, arti lockdown adalah mengunci seluruh akses masuk maupun keluar dari suatu daerah maupun negara.

Tujuan mengunci suatu wilayah ini agar virus tidak menyebar lebih jauh lagi. Jika suatu daerah dikunci atau di-lockdown, maka semua fasilitas publik harus ditutup. Mulai dari sekolah, transportasi umum, tempat umum, perkantoran, bahkan pabrik harus ditutup dan tidak diperkenankan beraktivitas. Aktivitas warganya pun dibatasi. Bahkan ada negara yang memberlakukan jam malam.

Ketika virus Corona menyebar di kota Wuhan, China, pemerintah setempat memberlakukan kebijakan lockdown, disusul kota-kota lainnya di China yang penyebaran virusnya begitu massif. Sementara di Eropa, Italia jadi negara yang menerapkan kebijakan lockdown setelah penyebaran virus Corona di sana meningkat tajam dan menjangkiti ribuan orang.

Meskipun begitu, tidak semua negara mengunci wilayahnya setelah penyebaran virus Corona masuk ke wilayahnya. Korea Selatan memilih tidak mengunci wilayahnya, namun mengambil kebijakan lain untuk mencegah penyebaran virus Corona. Begitupula dengan Indonesia, pemerintah menilai opsi tersebut belum dibutuhkan untuk saat ini. (SKO)

Tags:
ChinaCorona VirusekonomiKADINlockdownVirus Corona
Ananda Astri Dianka

Ananda Astri Dianka

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: