Kabar Baik, Ilmuwan Temukan Antibodi yang Mampu Netralkan Berbagai Varian Virus COVID-19

09 September 2021 02:30 WIB

Penulis: Justina Nur Landhiani

Editor: Rizky C. Septania

WHO Pantau Varian Virus COVID-19 Baru Bernama Mu (Freepik.com)

JAKARTA - Para peneliti atau ilmuwan kini telah mempelajari ada selusin antibodi yang bisa melawan virus COVID-19 atau SARS-CoV-2 yang diisolasi dari orang-orang yang sebelumnya telah terinfeksi.

Para ilmuwan mencari antibodi yang tidak akan kehilangan keefektifannya terhadap varian baru dan bisa bekerja melawan berbagai virus pernapasan.

Mengutip dari laman Medical News Today, para ilmuwan mengidentifikasi antibodi yang kuat dengan sebutan S2E12. Antibodi tersebut diketahui efektif untuk melawan berbagai virus pernapasan dan mungkin bisa menjadi pelindung terhadap paparan virus.

Antibodi lainnya yang sudah dipelajari, yang disebut dengan nama S2H97 mampu mencegah infeksi COVID-19 pada hewan uji yaitu hamster Suriah, saat hewan tersebut menerima antibodi secara profilaksis 2 hari sebelum terpapar.

Antibodi sendiri merupakan suatu mekanisme pertahanan tubuh manusia terhadap suatu zat asing seperti bakteri dan virus. Setelah dihasilkan, antibodi akan mengikat zat asing tersebut, yang disebut sebagai antigen. Proses pengikatan itu memicu serangkaian respon imun tubuh yang memobilisasi sel lain untuk melawan antigen yang menyerang.

Para ilmuwan kemudian membuat antibodi dalam skala laboratorium. Tiga terapi berbasis antibodi monoklonal dirancang untuk memblokir perlekatan virus COVID-19 ke sel manusia, yang saat ini tersedia melalui FDA adalah bamlanivimab plus etesevimab, casirivimab plus imdevimab, dan sotrovimab. Casirivimab plus imdevimab sendiri telah disetujui untuk digunakan di Inggris.

Menurut Dr. William Schaffner, seorang profesor kedokteran di Divisi Penyakit Menular Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt di Nashville mengatakan bahwa orang yang dites positif COVID-19 dan yang berisiko mengembangkan gejala yang parah, termasuk yang berusia di atas 65 tahun serta memiliki sistem kekebalan yang lemah harus berkonsultasi kepada dokter untuk menerima pengobatan menggunakan antibodi monoklonal.

Perawatan antibodi monoklonal diketahui dapat mencegah evolusi infeksi dari infeksi ringan menjadi infeksi yang serius. Dengan kata lain, kit Anda baru saja terpapar virus, terapi tersebut bisa membantu mencegah Anda untuk dirawat di rumah sakit dan menjadi lebih parah.

Namun, pada 27 Agustus 2021 lalu beberapa antibodi monoklonal kehilangan efektivitasnya karena virus mengalami mutasi. Antibodi monoklonal tersebut yaitu bamlanivimab dan etesevimab.

Dengan adanya perkembangan tersebut, sekarang, tim peneliti yang bekerja secara kolaboratif telah menyadari bahwa:

  • SARS-CoV-2 kemungkinan akan terus berkembang, sehingga memungkinkan virus lolos dari penanganan pengobatan antibodi.
  • Virus COVID-19 manusia lainnya akan terus berevolusi.
  • Virus kadang-kadang dapat berpindah dari satu spesies ke spesies lain.

Untuk alasan itu, mereka menulis dalam penelitian mereka, untuk mengembangkan antibodi dan vaksin yang kuat untuk evolusi virus.

Oleh karena itu, para peneliti masih mempelajari selusin antibodi anti-SARS-CoV-2 yang diisolasi dari individu yang sebelumnya tertular SARS-CoV-2 atau sindrom pernapasan akut parah (SARS-CoV). Mereka mencari apa pun yang mungkin resisten terhadap kehilangan keefektifannya saat virus bermutasi dan yang bekerja melawan berbagai virus pernapasan.

Berita Terkait