Jurus Pengembang Properti Kakap Bangkit Usai Terkena Badai Corona Pada Semester I-2020

13 Agustus 2020 16:19 WIB

Penulis: wahyudatun nisa

Suasana bangunan apartemen di kawasan Jakarta Pusat, Jum’at, 17 Juli 2020. Konsultan properti JLL memproyeksikan permintaan properti khususnya apartemen akan mulai menguat kembali pada kuartal II/2020, salah satu faktor pendorongnya adalah pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Sejumlah emiten properti kelas kakap membukukan kinerja kurang optimal sepanjang semester I-2020. Penjualan properti anjlok, laba perusahaan ikut jeblok. Berbagai macam strategi pun dilakukan agar tidak tergerus badai pandemi.

Berdasarkan data yang dirangkum TrenAsia.com, Kamis, 13 Agustus 2020, PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) sebagai perusahaan properti dengan total aset sebesar Rp60,41 triliun pun mencatatkan kinerja paling anjlok sepanjang semester I-2020.

Per akhir Juni 2020, BSDE mengalami kerugian hingga Rp89,3 miliar. Padahal di semester I-2019 perseroan mampu meraup laba bersih hingga Rp2,09 triliun. Pendapatan perseroan juga surut 35,1% (year on year/yoy) menjadi Rp2,33 triliun.

Alhasil, perseroan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement untuk menopang keuangannya. Dari aksi korporasi ini BSDE bakal meraup tambahan dana sebesar Rp1,23 triliun.

Direktur Bumi Serpong Damai Hermawan Wijaya mengatakan dana hasil penerbitan saham baru ini akan digunakan untuk memperkuat struktur modal, pengembangan proyek, infrastruktur, serta cadangan dana operasional.

Lippo Group

Emiten properti kelas kakap selanjutnya yaitu PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR). Perusahaan yang memiliki aset terbesar kedua setelah BSDE ini juga mengalami kinerja yang menurun. Pendapatan perseroan turun 1,93% dari Rp5,43 triliun di semester I-2019 menjadi Rp5,33 triliun di semester I-2020.

Pada paruh pertama tahun ini pun perusahaan bersandi saham LPKR itu membukukan kerugian hingga Rp1,25 triliun. Di periode yang sama, perseroan berupaya untuk memperkuat posisi kas dan memperbaiki jatuh tempo utang obligasinya dari 2022 menjadi 2025.

Emiten properti ini meningkatkan saldo kas sebesar Rp860 miliar dengan melepas posisi lindung nilai yang ada dan menggantinya dengan lindung nilai dolar Amerika Serikat (AS) pada Rp15.000 hingga Rp17.500. Perseroan juga menambah kas sebesar Rp249 miliar dari pelepasan saham First REIT di semester I-2020.

CEO Lippo Karawaci John Riady meyakini bahwa bisnis properti sedang pulih dan akan terus bertumbuh dimana perseroan akan terus membangun proyek rumah hunian yang terjangkau sesuai dengan keinginan konsumennya.

Selanjutnya, perusahaan properti dengan aset sebesar Rp37,88 triliun yakni PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) membukukan laba sebesar Rp169,51 miliar di semester pertama tahun ini. Angka itu anjlok 42,82% secara tahunan.

Untuk mendongkrak kinerjanya, CTRA telah menerapkan strategi penjualan secara digital dengan meluncurkan klaster baru di sejumlah proyek yang sedang berjalan. Klaster baru itu antara lain klaster Elecio di proyek Citra Garden Puri Jakarta Barat serta klaster Ayodya dan Seminyak di proyek Citra Maja Raya.

Agung Podomoro

Perusahaan berikutnya yaitu PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN). Emiten properti dengan total aset Rp30,63 triliun ini mengalami kerugian sebesar Rp3 miliar. Berbanding terbalik dengan periode di tahun lalu, perseroan mengantongi laba bersih sebesar Rp143,38 mliar.

Pendapatan Agung Podomoro surut 12,01% yoy dari yang semula sebesar Rp1,95 triliun menjadi sebesar Rp1,72 triliun. Untuk mendorong kinerja perseroan ke depannya, perseroan pun melakukan strategi untuk dapat meningkatkan likuiditas keuangannya.

Strategi itu antara lain melanjutkan program-program penjualan yang dapat menarik minat konsumen di masa pandemi ini yakni melalui media sosial. Dalam kondisi likuiditas yang ketat, perusahaan mengupayakan efisiensi biaya.

Selain efisiensi untuk biaya kepegawaian, biaya umum dan administrasi, biaya penjualan dan promosi, perseroan juga menentukan prioritas dalam melakukan konstruksi atau pembangunan proyek propertinya.

Serupa dengan APLN, PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) yang bergerak dalam bidang real estate ini laba bersihnya melorot 64,65% yoy. Di enam bulan pertama tahun ini perseroan hanya mampu meraih laba sebesar Rp482,55 miliar, turun drastis dari perolehan tahun lalu yaitu Rp1,36 triliun.

Sejumlah strategi pun dilakukan perusahaan dengan aset Rp26,49 triliun itu untuk mempertahankan kelangsungan usahanya di tengah pandemi ini. Adapun, strategi itu meliputi pengendalian arus kas yaitu dengan mengurangi beban operasional dan menunda/mengurangi belanja modal.

Perseroan juga memberikan relaksasi pola pembayaran kepada tenant-tenant pusat perbelanjaan yang terdampak dengan kriteria tertentu, meningkatkan upaya pemasaran dengan memanfaatkan database terintegrasi yang dimiliki Perseroan seperti sales video call dan lainnya.

Kemudian, meningkatkan upaya pemasaran dan promosi melalui media digital, menjalankan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 secara ketat untuk semua lini usaha perseroan, menjalin komunikasi aktif dengan para stakeholder untuk secara bersama-sama mengurangi dampak krisis dan pemulihan usaha.

Tak hanya itu, perseroan juga mempercepat program-program transformasi proses bisnis yang telah direncanakan untuk efisiensi proses kerja, serta meningkatkan program-program CSR untuk meringankan beban rumah sakit dan warga terdampak di sekitar wilayah operasional perseroan. (SKO)

Berita Terkait