Jumlah Penumpang MRT Jakarta Saat PSBB Anjlok 98%

May 01, 2020, 02:02 AM UTC

Penulis: wahyudatun nisa

Suasana jumlah penumpang menurun selama penerapan PSBB di MRT Jakarta. / Dok. PT MRT Jakarta

Sejak diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menangkal penyebaran wabah virus corona (COVID-19), jumlah penumpang Moda Raya Terpadu Ratangga (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta anjlok 98% dari 109.000 menjadi tersisa 2.080 orang per hari.

Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar mengatakan sepanjang April 2020, rata-rata jumlah penumpang hanya 4.134 orang per hari. Menurut dia, tren penurunan jumlah penumpang ini merupakan bentuk keberhasilan dalam mendukung kebijakan PSBB.

“Jumlah penumpang pada 28 April kemarin sudah turun lagi menjadi 2.080 orang,” kata William dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, 30 April 2020.

Dia menjelaskan, sebelum COVID-19 merebak, jumlah penumpang masih mencapai 109.000 orang per hari. Kemudian pada 13 Maret, jumlah penumpang turun menjadi 98.000 orang. Meski jumlahnya masih tinggi, kala itu masyarakat sudah mulai melakukan antisipasi terhadap penyebaran virus tersebut.

Penurunan penumpang secara drastis terjadi pada 16 Maret, saat diterapkan pembatasan jam operasional serta pelebaran headway. Saat itu, jumlah penumpang MRT Jakarta hanya 27.000 orang.

Meski pembatasan itu hanya berlaku sehari, kebijakan tersebut kembali diterapkan pada 20 Maret sehingga jumlah penumpang turun menjadi 21.000 orang. Lalu pada 27 Maret, jumlahnya turun tajam menjadi 8.000 orang.

“Kami memperkirakan dalam beberapa waktu ke depan jumlah penumpang MRT masih ada di kisaran 2.000 sampai 3.000 per hari seiring telah ditutupnya tujuh stasiun untuk sementara waktu,” ujar William.

William juga mengaku telah menyiapkan empat skenario untuk menghadapi krisis saat ini.

“Pertama, skenario moderat yaitu dua bulan operasi normal pada Januari dan Februari 2020 lalu, tiga bulan pandemi pada Maret-Mei 2020, empat bulan periode rebound pada Juni hingga September 2020, dan mulai stabil pada Oktober 2020,“ jelasnya.

Kedua, skenario berat, yaitu dua bulan operasi normal Januari sampai Februari 2020, lima bulan periode pandemi pada Maret hingga Juli 2020, empat bulan periode rebound mulai Agustus hingga November 2020, dan Desember 2020 layanan kembali stabil.

Kemudian, ketiga, skenario sangat berat dengan periode pandemi mencapai tujuh bulan yakni Maret hingga September 2020, dan tiga bulan periode rebound mulai Oktober hingga Desember 2020.

Keempat, skenario buruk dengan sembilan bulan masa pandemi dari Maret hingga November 2020, tiga bulan periode rebound mulai Desember 2020 hingga Februari 2021, dan kembali stabil di Maret 2021.

“Kami tentu berharap yang terjadi adalah skenario moderat,” kata William.

Seperti diketahui, PSBB di DKI Jakarta diperpanjang 28 hari hingga 22 Mei 2020 setelah sebelumnya diterapkan 14 hari. (SKO)