Jual Saham TBIG Rp2,76 Triliun, Saratoga (SRTG) Mau Fokus Investasi di Sektor Hijau?

22 September 2022 09:30 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Ananda Astri Dianka

CEO AtriaDC Arthur Angelo Syailendra berbincang dengan COO AtriaDC Christine Ratna usai konferensi pers dengan media. AtriaDC perusahaan penyedia layanan data center ramah lingkungan dengan layanan data center yang berkualitas dan terukur bagi perusahaan untuk kolokasi, interkoneksi, dan memberikan pengalaman digital terbaik kepada mitra, pelanggan, dan end-user.Pengembangan AtriaDC sebagai data center ramah lingkungan akan mendapat dukungan penuh dari PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) sebagai pemegang saham utama.Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) melepas saham anak usahanya, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sebanyak 976,6 juta lembar pada harga pelaksanaan Rp2.830 per saham.

Dari transaksi itu, perusahaan investasi yang didirikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno ini mengantongi dana taktis Rp2,76 triliun. 

Berdasarkan keterbukaan informasi, Rabu 21 September 2022, transaksi pada 20 September 2022 itu dilakukan perseroan melalui anak usaha yaitu PT Wahana Anugerah Sejahtera (WAS). Setelah transaksi, kepemilikan Saratoga Investama di Tower Bersama secara tidak langsung via Wahana Anugerah menjadi 1,12 miliar lembar setara 4,95%. 

Komposisi saham SRTG menyusut 4,31% dari sebelum transaksi dengan donasi saham sebanyak 2,09 miliar lembar alias selevel dengan porsi kepemilikan 9,26%. 

”Transaksi divestasi dengan status kepemilikan saham secara langsung,” tulis Divisi Hukum dan Sekretariat Perusahaan Saratoga Investama Sedaya Juan Akbar Indraseno dikutip Kamis, 22 September 2022.

Sementara itu, kepemilikan saham Saratoga Investama secara tidak langsung melalui Bersama Digital Infrastructure Asia Pte Ltd sebesar 16.617.514.923 alias 16,61 miliar lembar atau setara 73,34% dari seluruh modal ditempatkan, dan disetor Tower Bersama.

Sebagai informasi, Bersama Digital Infrastructure dahulu bernama Provident Consolidated Holding Pte Ltd, entitas usaha didirikan berdasar hukum negara Singapura, dan dimiliki saham 30,12% oleh Lynwood Hills Investment Solution Pte Ltd. Lynwood didirikan berdasar hukum Singapura, dan 100% sahamnya dimiliki WAS.

Tujuan Investasi Baru

Divestasi SRTG bersamaan dengan gencarnya perluasan portofolio perusahaan ke sektor terbarukan. Hingga semester I-2022, SRTG tercatat telah melakukan beberapa investasi baru.

Misalnya, melakukan pendanaan untuk AtriaDC, perusahaan penyedia layanan data center ramah lingkungan di dalam kota. Investasi Saratoga di AtriaDC merupakan bentuk komitmen dan dukungan terhadap percepatan digitalisasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

SRTG juga melakukan investasi baru pada Forest Carbon, perusahaan pengembang proyek karbon premium yang berdiri pada 2012. Forest Carbon melestarikan hutan dan lahan basah, melindungi keanekaragaman hayati, serta memberdayakan masyarakat setempat untuk hidup sejahtera.

Aktivitas tersebut menghasilkan kredit karbon yang dapat digunakan perusahaan-perusahaan global ternama untuk turut berpartisipasi dalam mendukung usaha pencegahan perubahan iklim global.

Devin Wirawan, Direktur Investasi SRTG mengatakan kalau seiring dengan bertumbuhnya ekonomi Indonesia ditambah pandemi menyebabkan banyak sekali transformasi yang terjadi di Indonesia.

"Kami melihat jika kami tidak mengantisipasikan hal ini, jika kami tidak menambahkan investasi di sini kita bisa ketinggalan. Sebagai perusahaan investasi yang kami lakukan adalah kita harus bisa melihat apa yang akan terjadi di depan dan kita harus mengantisipasi dan melakukan investasi dan eksekusi di hal-hal tersebut," tegas Devin dalam Public Expose (21/4).

Berikutnya, ia menyebut sektor yang akan diinvestasikan adalah renewable sector. Devin melihat ke depannya energi terbaru memang kita perlukan meski Indonesia punya banyak sumber daya alam.

"Melakukan investasi di industri yang sustainable dan kami melihat bahwa solar panel energi adalah salah satu cara yang cepat yang bisa mendapatkan mass adaption sehingga Indonesia bisa mencapai targetnya untuk jadi net Zero emission 2050," lanjut Devin.

Berita Terkait