Jual Saham Bank Permata, Laba Bersih Astra Internasional Susut 22 Persen Meski Pendapatan Meningkat

09 September 2021 12:33 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Gedung Astra menjulang tinggi di Jakarta. Source: Dok Astra Internasional

JAKARTA – PT  Astra International Tbk (ASII) membukukan pendapatan bersih konsolidasian pada semester pertama 2021 sebesar Rp107,4 triliun, naik 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp89,75 miliar.

Meski pendapatan meningkat dobel digit, tetapi laba  bersih Grup Astra tercatat senilai Rp8,8 triliun, susut 22% dibandingkan dengan semester  I-2020 ketika memperoleh keuntungan dari penjualan saham Bank  Permata. 

Di sisi lain, apabila tanpa memperhitungkan keuntungan penjualan ini, laba bersih grup meningkat  61%, terutama disebabkan kinerja divisi otomotif yang lebih baik.

“Sebagian besar bisnis grup mengalami perbaikan dibandingkan 2020 ketika menghadapi  pembatasan-pembatasan bisnis yang signifikan terkait dengan penanggulangan pandemi  COVID-19,” kata Presiden Direktur ASII, Djony Bunarto Tjondro dalam Public Expose 2021, Kamis 9 September 2021.

Sementara itu, nilai aset bersih per saham pada 30 Juni 2021 sebesar Rp4.012, meningkat 4% dibandingkan  pada 31 Desember 2020. Kas bersih, tidak termasuk anak perusahaan divisi jasa keuangan grup, mencapai Rp20,5 triliun pada 30 Juni 2021, dibandingkan Rp7,3 triliun pada akhir 2020. 

Djony mengungkapkan, hal ini disebabkan  oleh kinerja penjualan yang membaik, serta realisasi belanja modal dan keperluan modal kerja  yang lebih rendah.

“Jika volume penjualan terus membaik hingga akhir tahun, belanja modal  dan modal kerja dapat mengalami peningkatan,” kata dia.

Adapun, utang bersih anak perusahaan jasa  keuangan Grup Astra meningkat dari Rp39,2 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp41,2 triliun pada 30 Juni 2021.

Berdasarkan divisi bisnisnya, laba bersih paling besar disumbang oleh divisi otomatis yang meroket 362% year on year (yoy) menjadi Rp3,3 triliun pada semester I-2021. Di tempat kedua diisi oleh divisi jasa keuangan yang naik 2% menjadi Rp2,13 triliun, lalu alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi tumbuh 13% menjadi Rp2,68 triliun.

Selanjutnya, divisi agribisnis melesat 66% menjadi Rp517 miliar, infrastruktur dan logistik Rp91 miliar, dan properti naik 17% menjadi Rp83 miliar. Satu-satunya divisi ASII yang mengalami penurunan laba bersih adalah teknologi informasi yakni 13% menjadi Rp14 miliar.

Berita Terkait