Jepang Sukses Turunkan Angka Perokok, Sikap Terbuka dan Pemanfaatan Produk Alternatif Jadi Kunci

27 Juli 2021 18:30 WIB

Penulis: Aprilia Ciptaning

Editor: Rizky C. Septania

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Generasi Anti Narkoba Indonesia (GANI), Djoddy Prasetio Widyawan (kedua kanan), Ketua KABAR dan Pengamat Hukum, Ariyo Bimmo (kedua kiri), Sekretaris Umum Personal Vaporizer Indonesia (APVI) Garindra Kartasasmita (kiri) dan Anggota APVI, Rhomedal (kanan) memasang stiker himbauan di toko Vapepackers, Jakarta, Rabu, 9 September 2020. Kegiatan ini merupakan sosialisasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba pada produk tembakau alternatif atau rokok elektrik melalui gerakan sosial bertajuk “Gerakan Pencegahan Penyalahgunaan Rokok Elektrik (GEPPREK)” yang juga telah dilakukan di Denpasar, Bali, dan Bandung, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA - Jepang menjadi negara di Asia yang sukses menurunkan prevalensi perokok dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan hasil survei Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang, angka perokok pria turun di bawah 30% untuk pertama kalinya, menjadi 28,8% pada 2019. Sementara itu, angka perokok perempuan turut berkurang 0,7 poin menjadi 8,8% pada 2019.

Hal ini didukung oleh sikap terbuka dari pemerintah Jepang yang memanfaatkan penggunaan produk tembakau alternatif. Beberapa di antaranya, seperti tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, dan snus. Konsep dari produk ini adalah pengurangan bahaya yang dijadikan solusi dalam mengurangi angka perokok.

Direktur Eksekutif Center for Youth and Population Research (CYPR) Dedek Prayudi menyebut, Jepang sendiri sudah berhasil keluar dari pola pikir dogmatis. Oleh karena itu, mereka dinilai selangkah lebih maju dalam mendukung penggunaan produk tembakau alternatif. Alhasil, angka perokoknya pun menurun.

“Negara yang berhasil itu Jepang. Pertama, yang harus dilakukan adalah menghilangkan stigma dogmatis supaya pikirannya lebih terbuka. Kemudian, mereka juga melakukan penelitian yang hebat terkait dengan produk tembakau alternatif,” ujar Uki, sapaan akrabnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, beberapa waktu lalu.

Kajian ilmiah yang dilakukan oleh Jepang, kata dia, bertujuan membuktikan bahwa produk tembakau alternatif lebih rendah risiko dibandingkan dengan rokok. Hal ini bisa membantu perokok dewasa beralih produk.

Hasil riset tersebut akhirnya dijadikan acuan bagi pemerintah Jepang untuk mendukung penggunaan produk tembakau alternatif.  “Jadi, mereka menemukan seperti apa sih yang sebenarnya mengurangi dampak risiko dari merokok,” terang Uki. 

Berbeda dengan Jepang, Uki menilai Indonesia masih terjebak dalam pola pikir dogmatis. Contohnya, masih banyak pihak yang menganggap produk tembakau alternatif sama berbahayanya dengan rokok. Di sisi lain, ada juga perokok yang menganggap produk rokok tidak memiliki bahaya serius terhadap kesehatan. 

“Kita harus berhenti berpikir dogmatis. Sebenarnya, konsep pengurangan bahaya tembakau melalui penggunaan produk tembakau alternatif itu menawarkan satu paradigma berpikir yang baru,” jelas Uki.

Seperti diketahui, kesuksesan Jepang dalam menurunkan angka perokok telah menjadi pembahasan dalam Asia Harm Reduction Forum (AHRF 2021) yang diselenggarakan secara daring beberapa waktu lalu.

Profesor dari Universitas Ottawa, David Sweanor mengatakan, Jepang telah melakukan pekerjaan yang fenomenal dalam menurunkan angka perokoknya.

“Jepang mengurangi prevalensi perokok dalam beberapa tahun terakhir. Ini adalah sesuatu yang melampau pencapaian negara besar lainnya dalam waktu singkat,” kata Sweanor. 

Jepang dianggap layak menjadi contoh bagi negara-negara yang sampai saat ini kesulitan dalam menurunkan prevalensi perokok.

“Ini kabar baik bagi negara lain untuk mengadaptasi cara tersebut, atau bahkan mengalahkan Jepang dalam menurunkan jumlah perokok. Cara yang mereka lakukan sebenarnya tidak terlalu sulit,” ungkapnya. 

Agar sukses seperti Jepang, sebuah negara didorong agar memperkuat penggunaan produk tembakau alternatif, diikuti dengan regulasi yang tepat, serta dibedakan dengan rokok. Selain itu, pemerintah juga harus menyampaikan informasi akurat bagi perokok dewasa. 

“Jika ingin melangkah lebih jauh lagi, kembali pada kerangka peraturan yang akomodatif bagi produk tembakau yang memiliki risiko lebih rendah dibandingkan dengan rokok,” katanya.

Berita Terkait