Jembatan Tumbang Sumba Jadi Kunci di Jalan Lintas Tengah Kalimantan

JAKARTA – Kehadiran Jembatan Tumbang Samba menjadi infrastruktur krusial yang dapat mempengaruhi kelancaran konektivitas Jalan Lintas Tengah Kalimantan. Jembatan ini diproyeksikan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan tersambungnya Jalan Lintas Tengah Kalimantan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan di sekitarnya karena terdapat perkebunan seperti sawit, karet, dan pertambangan.

“Jadi adanya jembatan ini akan mempercepat transportasi logistik di wilayah tersebut,” kata Basuki dalam keterangan resmi di laman Kementerian PUPR, Kamis, 11 Juni 2020.

Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XI Banjarmasin Ditjen Bina Marga Budi Harimawan Semihardjo mengatakan pembangunan jembatan yang mehubungkan Desa Telok dan Desa Samba Danum bertujuan untuk membuka kawasan terisolir di Utara Katingan dan melengkapi struktur jaringan jalan nasional Kalimantan Tengah-Kalimantan Barat.

Dia menuturkan jembatan yang menghubungkan Desa Telok dan Desa Samba Danum ini, juga akan meningkatkan konektivitas menuju lokasi pengembangan lumbung pangan baru yang rencananya akan berada di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Budi menjelaskan jembatan yang mulai dibangun sejak 2017 itu, telah melalui uji beban statik dan dinamik oleh Komisi Keamanan Jalan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) dan memperoleh sertifikat persetujuan laik fungsi jembatan pada 11 Mei 2020. Selain itu, jembatan ini telah melewati uji coba open traffic pada 1 Juni 2020.

Dikatakannya, jembatan ini menggunakan tipe pelengkung baja. Dari sisi struktur pelengkung utama, jembatan ini lebih ringan bila dibandingkan dengan jembatan lain. Sekitar 30% kapasitas struktur ditopang oleh hanger.

“Sehingga bisa menghasilkan desain struktur rangka baja yang efisien dan ekonomis serta memiliki nilai estetika yang tinggi,” ujar Budi.

Menurutnya, secara keseluruhan jembatan dengan bentang 108 meter, lebar jembatan 11,8 meter, dan tinggi 23,7 meter ini, memiliki bobot struktur utama hanya sekitar 450 ton.

Di sisi produksi, kata dia, keseluruhan prosesnya menggunakan produk dalam negeri, mulai dari struktur baja, trial assembly, proses full span lifting, dan juga tenaga kerja dalam negeri.

“Dengan hadirnya jembatan ini, masyarakat tidak perlu lagi menggunakan jasa kapal fery untuk menyeberangi Sungai Katingan untuk mengangkut kendaraannya,” kata dia. (SKO)

Tags:
Basuki HadimuljonoinfrastrukturJembatanKalimantan TengahKementerian PUPRTransportasi
wahyudatun nisa

wahyudatun nisa

Lihat Semua Artikel ›

%d blogger menyukai ini: