Jelang IPO, Permintaan Saham Perdana Ultra Voucher Membeludak

26 Juli 2021 07:09 WIB

Penulis: Drean Muhyil Ihsan

Editor: Amirudin Zuhri

Petugas keamanan berjaga di mainhall dengan latar belakang monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat 5 Juni 2020 lalu/ Foto: Ismail Pohan/TrenAsia

JAKARTA – Rencana PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapat respons luar biasa. Terbukti selama masa pembentukan harga (bookbuilding), permintaan terhadap saham berkode UVCR ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 18,6 kali. Harga saham perdana UVCR sendiri ditetapkan sebesar Rp100 per saham.

"Sampai masa penawaran saham berakhir pemintaan yang masuk mencapai 18,6x dari porsi pooling yang ditawarkan," ungkap Direktur Utama PT Surya Fajar Sekuritas Steffen Fang yang merupakan salah satu perusahaan penjamin pelaksana emisi efek.

Perdagangan perdana saham UVCR di BEI akan dilaksanakan pada Selasa, 27 Juli 2021. Dalam initial public offering (IPO) ini, Ultra Voucher menawarkan sebanyak-banyaknya 500 juta lembar saham atau 25% saham dari modal disetorkan dengan nominal sebesar Rp100 per saham. Dari agenda korporasi ini perseroan akan mengantongi dana hingga Rp50 miliar.

Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada menilai besarnya permintaan terhadap sebuah saham IPO menunjukkan bahwa Ultra Voucher dinilai memiliki bisnis dengan prospek yang menarik oleh para investor. Apalagi investor saat ini memiliki persepsi yang sangat positif terhadap emiten berbasis perusahaan teknologi.

"Oversubscribed terhadap saham IPO membuktikan bahwa Ultra Voucher mampu meyakinkan pasar tentang bisnis dan rencana pengembangan perusahaan ke depan. Termasuk target-target merchant dan inovasinya. Saya pikir itu akan memberikan daya tarik kepada investor,” ujar dia akhir pekan lalu.

Reza menambahkan, saat ini emiten-emiten di sektor teknologi digital sedang ramai diperbincangkan. Minat investor untuk berinvestasi di saham-saham berbau digital juga sangat tinggi. Namun, ia mengingatkan agar setiap investor yang akan berinvestasi saham tetap memperhatikan aspek fundamental, pertumbuhan, serta prospek bisnis perusahaan di masa depan.

"Seharusnya kalau (UVCR) oversubscribed hingga 18 kali lipat, saat listing akan jadi daya tarik pelaku pasar lainnya. Dengan harga yang terjangkau pergerakan harga saham saat listing biasanya cenderung tinggi berdasarkan histori emiten-emiten yang IPO sebelumnya,” tambah Reza.

Bisnis Terus Tumbuh

Sebelumnya, Chief Operating Officer Ultra Voucher Riky Boy Permata mengungkapkan secara fundamental bisnis Ultra Voucher terus mengalami pertumbuhan yang sangat solid. Di tengah tren perubahan gaya hidup masyarakat yang beralih ke transaksi digital menjadikan permintaan terhadap produk-produk Ultra Voucher meningkat pesat.

"Adanya pandemi COVID-19 selama satu setengah tahun terakhir juga menjadi booster bagi bisnis Ultra Voucher. Kebiasaan baru masyarakat dengan pasar yang makin meluas karena dukungan infrastruktur teknologi, menjadikan peluang bisnis kami juga kian lebar," ungkap Riky.

Per Desember 2020, total downloader aplikasi Ultra Voucher sudah lebih dari 200.000 baik di perangkat android maupun iOS. Di mana, terdapat lebih dari 10.000 pengguna yang melakukan transaksi setiap bulannya. 

Saat ini, Ultra Voucher telah menjalin kerja sama dengan 300 brand dan lebih dari 40.000 outlet di seluruh Indonesia. Adapun merchant yang bekerja sama dengan Ultra Voucher saat ini dari berbagai segmen, yakni Beauty & Relaxation, Departement Store, E-Commerce, Entertainment, Food & Beverage (F&B), Hotel & Travel, Accessories & Jewelry, Lifestyle, Investment, dan lain-lain.

Untuk mengoptimalkan potensi pasar yang semakin besar, Riky mengatakan, Ultra Voucher akan mempercepat proses transformasi bisnis yakni pengembangan produk yang lebih besar. Hal ini untuk mempertahankan bisnis yang positif, di mana pada Maret 2021 penjualan tumbuh 110,69% menjadi Rp194,48 miliar dibanding penjualan per Maret 2020. Laba bersih juga melonjak 119,46% menjadi Rp 543,59 juta.

"Mayoritas  dana IPO akan kami gunakan untuk pengembangan bisnis perusahaan. Termasuk membangun channel distribusi hingga ke beberapa negara di Asia Tenggara," jelas Riky.

Berita Terkait