Jelang HUT ke-76, Utang Luar Negeri Indonesia Susut Tipis 0,1 Persen

16 Agustus 2021 13:36 WIB

Penulis: Ananda Astri Dianka

Editor: Amirudin Zuhri

Ilustrasi kurs rupiah

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri Indonesia pada kuartal II-2021 turun 0,1% quartal to quartal (qtq) menjadi US$415,1 miliar atau setara Rp5.972 triliun (asumsi kurs Rp14.388 per dolar AS) dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal I-2021 sebesar US$415,3 miliar.

Akan tetapi, ULN kuartal II-2021 melambat secara tahunan (yoy) dari 7,2% yoy pada kuartal I-2021, menjadi 1,9% yoy.“Perkembangan tersebut didorong oleh perlambatan pertumbuhan ULN Pemerintah dan kontraksi ULN swasta,” tulis Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono dalam keterangan resmi, Senin 16 Agustus 2021.

ULN pemerintah per kuartal II-2021 tumbuh 4,3% yoy atau senilai US$205 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelummya 12,6% yoy. ULN pemerintah dibelanjakan salah satunya untuk penanganan COVID-19 dan program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Mencakup sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (17,8% dari total ULN pemerintah), sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (17,2%), sektor jasa pendidikan (16,4%), sektor konstruksi (15,4%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (12,6%). 

Di sisi lain, ULN swasta mengalami kontraksi 0,5% yoy menjadi senilai US$207,2 miliar pada kuartal II-2021 dan didominasi oleh tenor jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,7%.

Dengan posisi ULN tersebut, BI mengklaim struktur utang Indonesia masih tetap sehat. Tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga di kisaran 37,5%, menurun dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 39,0%. 

Selain itu, ditunjukkan juga oleh ULN Indonesia yang tetap didominasi oleh utang berjangka panjang, dengan pangsa mencapai 88,4%.

Berita Terkait